Evolusi Taktik Swedia Selama Piala Dunia 2026

- Swedia tampil impresif di laga awal Piala Dunia 2026 dengan kemenangan 5-1 atas Tunisia lewat formasi 3-5-2 yang menonjolkan duet Isak dan Gyokeres di lini depan.
- Kekalahan telak 1-5 dari Belanda mengekspos kelemahan Swedia di area sayap, memaksa Graham Potter mengubah formasi menjadi 3-4-3 saat imbang 1-1 melawan Jepang.
- Formasi 4-4-2 diterapkan saat kalah 0-3 dari Prancis di babak 32 besar, menandai akhir perjalanan Swedia dan tantangan bagi Potter memperbaiki keseimbangan tim jelang turnamen berikutnya.
Timnas Swedia gugur pada 32 besar di Piala Dunia 2026 akibat kekalahan 0-3 dari Prancis. Sebelumnya, mereka membantai Tunisia 5-1, dicukur Belanda 1-5, dan imbang dengan Jepang 1-1. Salah satu catatan menarik tim nasional berjuluk Blagult ini adalah perubahan taktiknya dari laga ke laga.
1. Swedia menghancurkan Tunisia dengan formasi 3-5-2
Swedia bermain dengan formasi 3-5-2 saat menghancurkan Tunisia 5-1 pada partai perdana di Piala Dunia 2026. Alexander Isak dan Viktor Gyokeres begitu vital dalam kemenangan besar ini. Mereka terlibat dalam empat gol pertama berkat keberhasilan memainkan peran target man. Gol pembuka berasal dari sebuah umpan panjang kepada Isak. Gyokeres menguasai second ball, melepaskan tembakan, dan bola rebound diselesaikan Yasin Ayari. Skema yang sama terulang pada gol kedua. Gyokeres mengontrol long pass di tengah lapangan dengan dada. Ia lantas memberikan umpan terobosan dan Isak menuntaskannya dengan manuver individu.
Pada gol ketiga yang diciptakan Gyokeres, Swedia memang terbantu blunder Ellyes Skhiri. Namun, agresivitas Isak dalam melakukan tekanan tidak dapat dikucilkan. Ia sukses merebut bola dan memberikannya kepada Gyokeres. Swedia kemudian mencetak gol keempatnya lewat tendangan bebas. Sentuhan kecil dari Isak membuat Mattias Svanberg berada dalam posisi onside dan mampu mencatatkan namanya di papan skor meski baru berada di lapangan selama 18 detik. Sementara, gol pemungkas kembali berasal dari aksi Ayari memaksimalkan bola liar dengan tembakan jarak jauh. Kali ini, Lucas Bergvall mencuri bola dari Ismael Ghabri.
2. Area sayap Swedia terekspos hingga kalah telak 1-5 dari Belanda
Graham Potter kembali memakai formasi 3-5-2 ketika berhadapan dengan Belanda pada pertandingan kedua di Piala Dunia 2026. Pelatih asal Inggris itu bahkan bukan cuma tidak mengganti skema, melainkan juga personelnya. Potter memasang starting line-up yang sama. Sayangnya, mereka kalah telak 1-5 akibat area sayap yang terekspos. Tiga gol pertama berasal dari crossing yang berakhir dengan tap-in dan gol keempat merupakan sebuah pergerakan cutting inside.
Laga sebetulnya berjalan ketat pada babak pertama. Swedia hanya tertinggal 1-2. Mereka bahkan melakukan lebih banyak percobaan. Victor Lindelof dan kolega melepaskan 9 tembakan dengan 4 di antaranya tepat sasaran. Sementara, Belanda hanya membuat 5 attempt, tetapi cuma 1 yang tidak mengarah ke gawang. Kelengahan pada awal babak kedua juga membuat Swedia menelan kekalahan telak ini. Belanda mencetak gol ketiga pada menit 47 dan keempat pada menit 54.
3. Swedia bermain dengan 3-4-3 saat imbang kontra Jepang
Hasil negatif kala berhadapan dengan Belanda memaksa Graham Potter melakukan perubahan ketika berjumpa Jepang. Ia tetap mengusung skema tiga bek. Namun, Potter memainkan Anthony Elanga dari awal untuk menemani Alexander Isak dan Gyokeres di depan. Formasi pun sedikit berubah menjadi 3-4-3. Elanga sendiri merupakan pemain yang mencetak gol hiburan saat Swedia dibantai Belanda. Selain Elanga, Potter juga memainkan Jacob Widell Zetterstrom untuk menggantikan Kristoffer Nordfeldt di bawah gawang. Satu modifikasi signikan lainnya adalah mendorong sang kapten, Victor Lindelof, dari bek tengah ke gelandang.
Transformasi tersebut membuahkan hasil. Swedia mampu menahan Jepang tanpa gol pada babak pertama. Mereka memang kalah penguasaan bola (45 persen). Namun, Jepang terbilang tidak mengancam dengan total 4 tembakan dan expected goal yang hanya 0,18. Sayangnya, Swedia akhirnya kecolongan pada menit 58. Daizen Maeda berhasil memaksimalkan celah di antara Gustaf Lagerbielke dan Alexander Berhandsson ketika menerima umpan terobosan dari Ritsu Doan. Namun, Swedia terhindar dari kekalahan berkat gol spektakuler Elanga 6 menit berselang. Ia melakukan cutting inside dan melepaskan tembakan kaki kiri melengkung dari luar kotak penalti.
4. Swedia memakai 4-4-2 ketika dibekuk Prancis 0-3
Hasil seri melawan Jepang membawa Swedia lolos ke 32 besar Piala Dunia 2026 sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Undian lantas mempertemukan mereka dengan Prancis. Menariknya, Graham Potter memutuskan untuk menggunakan formasi 4-4-2 dalam pertarungan versus kandidat juara ini. Victor Lindelof kembali menjadi bek tengah, berduet bersama Gustaf Lagerbielke. Tempat kosong di lini tengah yang ditinggalkannya kemudian diisi Lucas Bergvall. Daniel Svensson yang sejatinya merupakan bek kiri ditempatkan di kanan. Swedia akhirnya kalah 0-3. Namun, hasil ini sebetulnya lebih disebabkan kualitas individu para pemain Prancis dibanding permainan buruk Swedia.
Kylian Mbappe mencetak gol pembuka lewat aksi lincah di dalam kotak penalti. Bradley Barcola menggandakan keunggulan setelah menyelesaikan umpan terobosan Michael Olise yang mengolongi Lagerbielke. Olise juga mengkreasi gol ketiga. Kali ini, through pass-nya melewati celah di antara Svensson dan Lagerbielke dan dituntaskan Mbappe. Dalam konferensi pers setelah laga, Potter mengungkapkan keputusannya memakai formasi 4-4-2 adalah karena tidak ingin pasif. Selain itu, menurutnya ini juga merupakan cara terbaik untuk melakukan pressure dan memaksimalkan transisi. Namun, ia menegaskan, pada akhirnya kualitas lawan berbicara. Ia mengakui Prancis memang layak menang.
Keseimbangan yang buruk membuat Swedia hanya bisa melangkah sampai 32 besar di Piala Dunia 2026. Mereka memiliki lini depan yang cukup baik, tetapi tidak dengan pertahanan. Potter pun mempunyai tugas besar untuk menemukan titik temu tersebut menjelang EURO 2028 dan Piala Dunia 2030. Federasi Swedia memang mengontraknya sampai 2030 setelah menunjuknya pada November 2025.















