Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bagaimana Rasanya Berduel Lawan Messi? Ini Curhatan Jujur para Pemain
potret koleksi Ballon d'Or Lionel Messi di museum Camp Nou, Barcelona (Unsplash.com/Tim Bernhard)
  • Lionel Messi mengubah gaya bermain menjadi lebih efisien: banyak berjalan untuk membaca ruang, lalu berakselerasi di momen krusial demi menembus sepertiga akhir dan kotak penalti.
  • Para bek seperti Ivan Ergic, Raphael Varane, William Gallas, dan Rio Ferdinand mengaku kesulitan menghadapi pergerakan bebas Messi yang mengacaukan posisi serta koordinasi pertahanan.
  • Messi menyebut Pablo Maffeo sebagai lawan paling menyulitkan berkat pengawalan ketatnya, sementara rivalitas keras dengan Sergio Ramos di El Clasico akhirnya berubah menjadi rekan setim di PSG.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Berbagi satu lapangan dengan Lionel Messi mungkin terdengar seperti sebuah kehormatan bagi banyak pesepak bola. Namun bagi para pemain bertahan, berduel dengannya selama 90 menit bakal menjadi pengalaman yang menguras fisik sekaligus mental. Pemain berusia 39 tahun ini tidak perlu terus berlari untuk mendominasi permainan, ia cukup mengandalkan pergerakan taktis yang diperhitungkan secara matang.

Statistik memperlihatkan bagaimana gaya bertanding La Pulga terus bertransformasi dengan cerdik seiring bertambahnya usia. Pada saat bersamaan, pengakuan jujur dari para bek kawakan membeberkan betapa frustrasinya meredam kecerdasan bertanding yang ia miliki. Kombinasi angka dan kesaksian di lapangan inilah yang membongkar rahasia di balik momok menakutkan bernama Messi.

1. Seiring bertambahnya usia, daya magis Lionel Messi tak pudar dan tampil makin efisien

Lionel Messi mengawali kiprahnya di FC Barcelona sebagai penyerang sayap kanan yang mengandalkan kelincahan alami. Kecepatan akselerasi serta keseimbangan tubuh yang prima memungkinkannya membongkar pertahanan lawan lewat tusukan individu secara konsisten. Dilansir The Athletic, ia mencatat efektivitas gaya permainan ini dengan tingkat keberhasilan dribel mencapai 76 persen pada musim penuh pertamanya.

Perubahan taktis terjadi sewaktu posisi bermainnya digeser ke area tengah sebagai seorang penyerang bayangan atau false-nine. Peran baru tersebut memberinya ruang gerak yang sangat bebas untuk mendikte tempo serangan sekaligus mengirimkan umpan-umpan matang. Visi permainannya berkembang pesat hingga mencatatkan rata-rata 3,4 umpan terobosan per 90 menit pada 2015/2016.

Seiring bertambahnya usia, Messi mengubah pendekatan gaya mainnnya lebih efisien dan sangat terukur. Data pantauan FIFA di Piala Dunia 2026 menunjukkan, dirinya menghabiskan 62,7 persen durasi laga hanya dengan berjalan kaki. Porsi geraknya dilengkapi dengan posisi berdiri diam sebanyak 24,7 persen, jogging 8,6 persen, lari cepat 1 persen, serta hanya 0,1 persen sprint. 

Gerakan berjalan kaki ini ia manfaatkan untuk melakukan pengamatan intensif demi memetakan posisi lawan serta celah kosong. Saat bola mengalir ke kakinya, ia langsung melancarkan akselerasi di sepertiga akhir area serangan. Statistik membuktikan efektivitas skema ini dengan 71 persen tusukannya berujung di sepertiga akhir dan 21 persen menembus area penalti.

2. Elemen kejutan dari gaya main Lionel Messi selalu membuat frustrasi lawan

Menghadapi Lionel Messi kerap menimbulkan pergolakan emosi yang membingungkan bagi para pemain belakang. Mantan penggawa Serbia dan Montenegro, Ivan Ergic, yang pernah menghadapi Messi muda pada 2006, mengaku serbasalah tiap kali berduel dengannya. Ergic merasa frustrasi dan terhina oleh kemampuannya, tetapi pada saat bersamaan merasa beruntung bisa menyaksikan kegeniusan sang pemain dari dekat.

Bek kelas dunia seperti Raphael Varane dan William Gallas membeberkan mimpi buruk sewaktu mencoba menutup ruang gerak Messi. Keputusan untuk menempel ketat saat Messi berjalan justru membuat bek tertarik keluar dari garis pertahanan utama. Perangkap posisi tersebut secara otomatis membuka area kosong di belakang bek yang langsung dimanfaatkan penyerang lain yang merangsek masuk.

Pengalaman pahit di panggung Eropa juga dirasakan Rio Ferdinand pada partai final Liga Champions Eropa 2009 dan 2011. Ferdinand menyebut, kehebatannya bersama FC Barcelona membuat Manchester United seakan kehilangan jiwa permainan di lapangan. Pergerakan bebas Messi di wilayah sentral terbukti melumpuhkan koordinasi barisan belakang yang digalang bersama Nemanja Vidic dan Edwin van der Sar.

Dari bawah mistar, mantan penjaga gawang Athletic Club, Gorka Iraizoz, membedah betapa sulitnya membaca arah tembakan Messi. Iraizoz menilai eksekusi La Pulga sukar diantisipasi lantaran sanggup melepas sepakan akurat secara instan tanpa perlu mengayunkan kaki terlalu lebar. Teknik unik ini membuat penjaga gawang terkecoh karena arah bola baru tertebak pada sepersekian detik sebelum sepakan dilepaskan.

3. Bek Girona diakui Lionel Messi sebagai pemain lawan yang paling menyulitkan

Mengutip GiveMeSport, di antara ratusan pemain bertahan yang pernah dihadapinya, Lionel Messi secara terbuka menyebut satu nama sebagai lawan paling merepotkan. Sosok tersebut adalah Pablo Maffeo sewaktu membela Girona dengan status pinjaman dari Manchester City pada 2017. Penilaian ini disampaikan Messi lantaran sang bek mampu memberikan tekanan fisik dan pengawalan tanpa kompromi.

Maffeo menerapkan disiplin man-to-man marking yang amat ketat sepanjang 78 menit laga berlangsung. Sikap gigih Maffeo membuat Messi secara jujur mengakui intensitas laga tersebut dan menempatkannya sebagai lawan terberat. Bagi Maffeo pribadi, pengakuan langsung dari pemain terbaik dunia itu terasa bagaikan pencapaian yang bernilai layaknya trofi kejuaraan.

Jika Maffeo menjadi pengawal tertangguh, maka Sergio Ramos memegang predikat sebagai rival paling sering bergesekan di lapangan. Bentrokan sengit keduanya mewarnai era keemasan persaingan laga El Clasico antara FC Barcelona dan Real Madrid selama bertahun-tahun. Ramos yang memimpin benteng Real Madrid tidak ragu melakukan tekel keras untuk menghentikan setiap aksi penyerang asal Argentina itu.

Gesekan serta adu argumen di lapangan lambat laun berubah menjadi bentuk saling menghormati di antara kedua pemain. Takdir kemudian menyatukan mereka dalam satu seragam saat menjadi rekan satu tim di Paris Saint-Germain. Momen kepindahan ke klub Prancis itu menandai akhir dari salah satu duel personal paling sengit dalam sejarah sepak bola modern.

Kombinasi data dan pengakuan para rival membuktikan bahwa rahasia kehebatan Lionel Messi sebenarnya sederhana, yaitu visi bermain cerdik dan pergerakan super efisien. Pengakuan jujur dari para pemain bertahan makin menahbiskan statusnya sebagai salah satu sosok paling legendaris dalam sejarah sepak bola.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article