Penurunan performa Cody Gakpo pada 2025/2026 tidak bisa dilepaskan dari aspek teknisnya yang mudah dibaca lawan. Sejak Arne Slot mengembalikannya ke posisi sayap kiri, Gakpo kembali mengandalkan pola lama dengan cut inside ke kaki kanan. Masalahnya, pola tersebut kini menjadi kebiasaan yang terlalu repetitif, terutama saat Liverpool menghadapi lawan dengan pertahanan blok rendah.
Pada musim sebelumnya, gerakan serupa justru menjadi senjata utama yang menghasilkan banyak gol krusial. Namun, pada musim ini, bek lawan tampak lebih siap menutup ruang tembak dan memaksa Gakpo berhadapan dengan kepadatan pemain di area kiri kotak penalti. Situasi ini membuat serangan Liverpool sering kali terhenti atau berakhir dengan tembakan yang mudah diblok.
Kualitas pengambilan keputusan Gakpo juga mengalami kemunduran yang cukup signifikan. Ia terlalu sering memaksakan tembakan spekulatif dari sudut sempit atau jarak jauh, alih-alih memanfaatkan opsi overlap dari bek kiri. Dalam banyak momen, peluang progresi serangan justru terbuang karena Gakpo memilih solusi individual alih-alih mengoper bola ke rekan tim.
Data The Athletic memperkuat kesan tersebut. Pada 2025/2026, Gakpo mencatatkan expected goals (xG) per tembakan sebesar 0,1, angka terendah sepanjang kariernya di Liverpool. Tingkat konversi golnya juga menurun drastis dari 17,9 persen pada musim sebelumnya menjadi sekitar 9,6 persen, seiring dengan penurunan keberhasilan duel 1 lawan 1 dari 50 persen menjadi 34 persen.
Ironisnya, keterlibatan Gakpo dalam permainan justru meningkat. Ia mencatatkan rata-rata 31 sentuhan di sepertiga akhir dan 6,7 sentuhan di kotak penalti lawan, angka tertinggi selama berseragam The Reds. Namun, tingginya frekuensi keterlibatan tersebut tidak berbanding lurus dengan dampak nyata, sehingga setiap kegagalan terlihat makin mencolok.
Masalah lain yang tak kalah penting adalah minimnya chemistry dengan bek kiri, khususnya Milos Kerkez. Kerkez kerap melakukan overlap dan underlap, tetapi jarang dimaksimalkan oleh Gakpo. Akibatnya, sisi kiri Liverpool kehilangan dinamika dan variasi serangan. Ini bikin Gakpo tampak aktif, tetapi tidak benar-benar efektif.