Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cuma 5 Poin dari 5 Laga, Ada Apa dengan Taktik Carrick di MU?
potret bagian stadion Old Trafford, markas Manchester United (unsplash.com/Nat Callaghan)
  • Manchester United berada di peringkat ke-12 dengan 5 poin dari 5 laga; pertahanan rentan di tiang jauh akibat kontribusi defensif pemain sayap dan koordinasi kotak penalti yang lemah.
  • Penguasaan bola belum efektif karena pressing tidak sinkron, garis pertahanan ragu naik, serta minim lari tanpa bola; lawan pun mudah mengeksploitasi ruang di lini tengah.
  • Serangan MU menghasilkan banyak tembakan, tetapi peluang berkualitas rendah, terlalu bergantung pada Bruno Fernandes, dan pergantian pemain Carrick relatif lambat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Manchester United mengawali 2026/2027 dengan buruk hingga terseok di urutan ke-12 klasemen sementara English Premier League (EPL). Koleksi 5 poin dari 5 laga awal membuktikan keajaiban musim lalu tak serta-merta berlanjut. Di balik hasil minor ini, rentetan skema permainan tim besutan Michael Carrick memperlihatkan celah taktis yang kian gampang dieksploitasi lawan.

Carrick sejatinya paham betapa tipisnya batas antara dominasi dan keterpurukan di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Namun, ketika skema permainannya mulai terbaca, fleksibilitas taktik menjadi harga mati yang tak bisa ditawar. Berikut lima persoalan taktis mendesak yang wajib dibenahi Setan Merah agar nasib mereka tidak makin merosot.

1. Lawan kerap mengeksploitasi area tiang jauh Manchester United akibat penyerang sayap terlalu pasif

Secara kasat mata, statistik bertahan Manchester United tak terlihat terlalu hancur. Menurut The Athletic, lini belakang mereka hanya menerima 53 tembakan dalam 5 laga perdana, tersedikit di Premier League bersama Arsenal dan Nottingham Forest dengan expected goals against (xG against) di angka 6,8. Akan tetapi begitu dibongkar lebih dalam, problem riilnya justru ada pada kualitas peluang yang dihadapi kiper, Senne Lammens.

Sebanyak 43 persen tembakan lawan sukses mengarah ke gawang dengan rata-rata xG mencapai 0,13 per tembakan, tertinggi keempat di liga. Parahnya lagi, 71,7 persen ancaman tersebut lahir langsung dari dalam kotak penalti. Celah ini rutin menganga di tiang jauh, tempat Luke Shaw dan Diogo Dalot berkali-kali diisolasi pemain lawan tanpa kawalan berarti dari para pemain sayap. Tim lawan seperti Fulham dan Ipswich Town sadar betul akan pasifnya penyerang sayap MU saat membantu pertahanan, lalu mencecar ruang kosong tersebut lewat situasi overload.

Selain kalah duel fisik dan atletisme saat perebutan bola, seperti ketika Calvin Bassey menghempaskan Kobbie Mainoo maupun Matheus Cunha, koordinasi antarpemain di kotak penalti pun kerap berantakan. Bek sering panik tiap kali lawan mengirim umpan silang, hingga memicu kesalahan konyol seperti gol bunuh diri Lisandro Martinez kontra Fulham atau momen miskomunikasi antara Luke Shaw dan Patrick Dorgu yang dimanfaatkan Tyrique George.

2. Dominasi penguasaan bola Manchester United tidak dibarengi dengan etos kerja dalam melakukan pressing

Manchester United musim ini seolah kebingungan menentukan jati diri saat menguasai bola. Angka penguasaan bola mereka memang naik dibandungkan musim lalu, tetapi dominasi ini malah menjadi senjata makan tuan. Padahal, anak asuh Michael Carrick tercatat sebagai tim paling mematikan dalam skema serangan balik cepat (fast break) lewat torehan 25 tembakan dan 6 gol.

Niat Carrick mendorong tim bermain lebih agresif dengan menaikkan garis pertahanan pun tidak berjalan mulus. Garis pertahanan kerap ragu untuk naik terlalu tinggi karena menyadari minimnya mobilitas dan kecepatan bek tengah seperti Harry Maguire. Alhasil, tercipta jarak menganga di sepertiga tengah lapangan yang mudah dieksploitasi gelandang lawan.

Proses pressing di lini depan juga terkesan setengah hati tanpa sinkronisasi yang matang. Catatan passes per defensive action (PPDA) sebesar 12,1 dan koleksi 26 high turnovers (urutan ke-15 di liga) menandaskan betapa longgarnya taktik man-to-man pressing MU. Situasi ini makin parah dengan rendahnya etos kerja lini serang dalam melacak pergerakan lawan, terbukti dengan jumlah lari tanpa bola terendah di liga (hanya 188 kali). Ditambah lagi, duet gelandang Youri Tielemans dan Kobbie Mainoo masing-masing cuma bertengger di urutan bawah dalam urusan sprint bertahan.

3. Meski rajin melepas tembakan, keputusan dan eksekusi di area serangan masih buruk

Melihat statistik tembakan Manchester United sekilas bisa membuat siapapun terkecoh. Dengan koleksi 118 tembakan dan 182 sentuhan di kotak penalti lawan, keduanya jadi rekor tertinggi di Premier League musim ini, barisan penyerang Red Devils terlihat sangat garang. Namun jika dikuliti, kuantitas tersebut sama sekali tidak mencerminkan efisiensi serangan.

Dilansir Opta Analyst, rata-rata jarak eksekusi tembakan MU berada di jarak 17,9 meter, alias terjauh kedua di Premier League. Tak heran nilai xG nonpenalti per tembakan mereka sangat kecil, cuma 0,08. Para pemain Setan Merah terlalu sering melepaskan tembakan spekulatif dari luar kotak penalti (mencapai 44 persen dari total percobaan) ketimbang membongkar barikade pertahanan lawan lewat operan kombinasi. Dari 15 peluang emas yang didapat, hanya 5 yang berbuah gol, meski lini serang sempat 6 kali membentur tiang gawang.

Rendahnya kualitas keputusan di sepertiga akhir lapangan kian diperparah dengan kecenderungan melepaskan umpan silang dari area terbuka. MU menghujani kotak penalti lawan dengan 104 open-play crosses, paling banyak di Premier League. Masalahnya, strategi umpan lambung ini terasa ganjil dan mubazir sebab penyerang jangkung, Benjamin Sesko, selalu memulai laga dari bangku cadangan dan baru mencatatkan 76 menit bermain di liga.

4. Lini serang tak seimbang akibat ketergantungan berlebih kepada seorang pemain

Kreativitas permainan Manchester United hingga kini masih sangat bertumpu kepada sang kapten, Bruno Fernandes. Pemain asal Portugal ini memborong 44 persen dari total assist klub dan merancang 42,5 persen peluang emas sejak Agustus 2025 lalu, proporsi tertinggi di antara seluruh pemain Premier League. Tak cuma berkreasi, Bruno bahkan harus bekerja ekstra keras memimpin tekanan dengan mencatatkan 1.750 kali aksi pressing.

Keputusan Michael Carrick mengembalikan Marcus Rashford ke sayap kiri menimbulkan dinamika baru yang berdampak kepada efektivitas serangan. Matheus Cunha yang tampil gahar musim lalu terpaksa digeser menjadi false-nine. Tanpa ruang tembak bebas, penyerang asal Brasil ini sering bergerak terlalu jauh ke belakang hingga menempati area beroperasi yang sama dengan Fernandes, membuat alur serangan tengah MU menjadi sangat berdesakan.

Sisi kanan serangan MU pun masih terlalu bergantung kepada Bryan Mbeumo. Diogo Dalot yang diplot sebagai partner serangan jarang merangsek naik, hanya mencatatkan 1,6 kali lari overlapping/underlapping per 90 menit (urutan ke-22 di antara para bek kanan liga). Ketiadaan variasi dari sayap kanan makin terasa menyusul absennya Amad Diallo yang masih menepi akibat cedera pergelangan kaki.

5. Michael Carrick masih lemah dalam manajemen laga karena lambat mengganti pemain

Sorotan tajam bukan hanya mengarah pada starting eleven, melainkan juga respons Michael Carrick di pinggir lapangan saat tim membutuhkan penyegaran. MU berada di urutan ketiga paling lambat di Premier League dalam urusan pergantian pemain pertama dengan rata-rata dilakukan pada menit ke-65. Bahkan rata-rata seluruh pergantian pemain baru dieksekusi pada menit 76,3, walau sedikit lebih cepat (menit 69,1) ketika tim dalam posisi tertinggal.

Carrick perlu lebih percaya diri dan cepat mengambil keputusan taktis saat rencana utama tumpul. Ia harus berani memaksimalkan talenta muda seperti Shea Lacey, yang baru diberi kesempatan 10 menit di liga, bisa menjadi kartu truf ketika pertahanan lawan mulai rapat. Keberanian menjajal skema alternatif menjadi syarat mutlak bagi sang pelatih jika ingin membawa Setan Merah keluar dari papan tengah.

Tak ada jalan pintas bagi Michael Carrick selain membenahi kelima masalah ini demi membawa Manchester United bangkit. Keberhasilannya menyesuaikan strategi dengan cepat akan menentukan apakah dia layak bertahan lebih lama di Old Trafford atau tidak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article