Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Efek Marukawa, Pemain Jepang Makin Laris di Liga 1
Taisei Marukawa merayakan gol yang dicetak di menit ke-50. (Persebaya)

Jakarta, IDN Times - Pamor pemain asal Jepang sedang melambung di Indonesia. Klub-klub Liga 1, berbondong-bondong mencari pemain asal Jepang demi memenuhi slot Asia di musim depan.

Tren mencari pemain dari Jepang mulai muncul setelah Taisei Marukawa melejit bersama Persebaya Surabaya. Kualitas Marukawa dan proses adaptasinya dengan sepak bola Indonesia yang instan, membuat klub-klub Liga 1 berpikir buat mencari pemain asal Negeri Sakura.

Persija Jakarta saja sampai melakukan trial terhadap tiga pemain asal Jepang, Norito Hashiguchi, Ryohe Miyazaki, dan Daisuke Kobayashi.

Sementara, Persikabo 1973 sudah resmi merekrut Ryosuke Nagasawa. Belum lagi, klub lain yang masih mencoba kualitas dari pemain Jepang sepanjang Piala Presiden 2022.

"Saya rasa karena Marukawa. Efeknya memang luar biasa. Karena adaptasi dan kualitasnya bersama Persebaya, pemain Jepang atau Korea Selatan ini jadi semakin laris untuk isi slot Asia," kata pelatih Persikabo, Djadjang Nurdjaman, saat ditemui IDN Times beberapa waktu lalu.

1. Jepang memang jadi kiblat

Tak usah heran dengan fenomena ini. Jepang bersama Korea memang masih menjadi kiblat sepak bola di Asia.

Maklum saja, karena sejak level grassroot, pembinaan di Jepang dan Korea berjalan begitu baik dan memiliki target yang jelas.

Lihat saja fakta yang ada di lapangan. Selain pemainnya mulai laris di Indonesia, gambaran lebih besar tersaji dalam ajang Piala Asia U-23 karena banyak jebolan kompetisi Jepang yang main.

Kompetisi di Jepang memberikan ruang yang luas buat para pemain muda berkembang, tak cuma talenta lokal tapi juga dari luar. Dengan aturan yang dibuat soal pemain dari negara partner, termasuk Indonesia, kompetisi Jepang memberikan ruang lebih luas.

Pada Piala Asia U-23 terdapat 21 dari 368 pemain yang merumput di Jepang. Menariknya, dari 21 pemain itu, terdapat dua asal Asia Tenggara, Hadi Fayyadh (Malaysia dengan klub Azul Claro Numazu) dan Sittichok Paso (Thailand yang membela FC Ryukyu). Sedangkan, sisanya sudah pasti merupakan talenta lokal yang membela Jepang U-23.

2. Brasil juga kembali naik pamor

Ciro Alves (kiri) dan David da Silva (kanan), jadi pemain asing Persib untuk hadapi Liga 1 musim depan. (persib.co.id)

Selain amunisi Jepang, fenomena lain yang sedang muncul di Liga 1 adalah kegemaran menggunakan pemain Brasil. Sebenarnya, ini sudah lama terjadi.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan, pemain Brasil sempat terdesak keberadaannya, karena klub-klub mulai melirik talenta Eropa pula. Hanya saja, hadirnya Ciro Alves sudah mengembalikan pamor pemain Brasil di Indonesia.

"Sudah sejak lama terbukti, pemain asal Amerika Latin gampang beradaptasi dengan kultur sepak bola Indonesia. Makanya, tak heran kalau banyak yang gunakan pemain asal Brasil atau Amerika Latin lainnya," ujar Djadjang.

3. Pemain asing dibutuhkan di Indonesia

Taisei Marukawa saat merayakan gol bersama rekan-rekannya di Persebaya Surabaya. (instagram.com/taiseimarukawa)

Pemain asing memang dibutuhkan klub-klub di Indonesia dalam mengarungi kompetisi. Memang, bebas saja apakah klub mau memakai jasa mereka atau tidak.

Namun, ketika berbincang dengan sejumlah pelatih kawakan, penulis mendapat gambaran jika mereka bisa membawa warna berbeda di dalam tim.

Bahkan, ada anekdot yang muncul dari mulut seorang pelatih dalam penggunaan legiun asing di Indonesia, "Kalau dapat satu pemain asing di belakang, tengah, dan depan, yang berkualitas, maka sudah enak kita."

Sebab, gaya main serta kualitasnya dengan pemain lokal pasti berbeda. Hanya saja, perlu juga pembinaan terhadap pemain lokal, khususnya di sektor striker karena selama ini tak ada lagi yang tajam seperti Bambang Pamungkas, Kurniawan Dwi Yulianto, dan lainnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article