Tidak cuma menjadi tuan rumah yang baik berkat kualitas stadion yang tersebar di 12 kota, Swedia membuktikan reputasi mereka di Piala Dunia 1958. Di tengah kepungan tim-tim raksasa Eropa, seperti Inggris, Uni Soviet dan Jerman Barat, Nils Liedholm dan kawan-kawan sukses meraih prestasi yang sulit diulangi per Mei 2026 ini. Seperti apa sepak terjang mereka saat itu?
5 Fakta Timnas Swedia di Piala Dunia 1958, Nyaris Juara!

1. Timnas Swedia memiliki reputasi dan tak bisa dipandang sebelah mata sejak dekade 1930-an
Swedia sebenarnya sudah dikenal sebagai kekuatan sepak bola yang konsisten di Eropa (sejak) dekade 1930-an. Mereka tampil mengesankan saat debut pada 1934, lalu mencapai semifinal pada 1938. Ini belum menghitung medali emas cabang olahraga sepak bola di Olimpiade 1948 London. Rentetan prestasi tersebut menempatkan Swedia dalam peta persaingan sepak bola internasional.
Puncak prestasi mereka sebelum ditunjuk FIFA menjadi tuan rumah terjadi di Piala Dunia 1950 di Brasil. Tim berjuluk Blagult tersebut meraih peringkat ketiga. Sukses menembus tiga besar pun mendongkrak rasa percaya diri federasi dan para pemain.
Namun, mereka sempat gagal lolos ke Piala Dunia 1954 lantaran kalah bersaing di kualifikasi. Beruntung, mereka bisa bangkit dari kegagalan tersebut. RSSSF menyebut, Swedia hanya kalah 8 kali dan menang 17 kali dari total 35 laga uji coba (September 1953–Mei 1958). Rekor tersebut jadi modal berharga anak asuh George Raynor untuk berlaga di Piala Dunia 1958.
2. Skuad Swedia di Piala Dunia 1958 adalah kombinasi para penggawa senior dan pemain muda
Skuad Swedia di Piala Dunia 1958 adalah kombinasi talenta lokal dengan pemain bintang Liga Italia. Tim ini dipimpin kapten karismatik, Nils Liedholm, seorang gelandang andalan AC Milan dekade 1950-an. Liedholm yang saat itu sudah berusia 35 tahun juga berperan sebagai mentor para penyerang muda seperti Kurt Hamrin (23 tahun) dan Agne Simonsson (22 tahun).
Lini serang mereka dihuni striker haus gol, Gunnar Gren, yang saat itu sudah masuk usia 37 tahun. Kendati demikian, ketajaman dan visi bermain legenda AC Milan dan Fiorentina itu tak berkurang. Solidnya lini belakang yang digalang kiper, Kalle Svensson, dan bek tengah, Bengt Gustavsson, melengkapi komposisi skuad yang dianggap sebagai generasi emas pertama dalam sejarah Timnas Swedia tersebut.
3. Nield Liedholm dan kawan-kawan mengalahkan juara bertahan, Jerman Barat, pada semifinal
Perjalanan Swedia diawali dengan dominasi mutlak sepanjang fase grup. Mereka mengalahkan Meksiko dan Hungaria tanpa kesulitan sebelum imbang 0-0 melawan tim debutan, Wales, di laga terakhir. Mereka pun lolos ke babak gugur sebagai juara grup. Kemenangan 2-0 atas Uni Soviet pada perempat final membuat suporter makin yakin Swedia bisa berbicara banyak.
Drama terjadi pada semifinal ketika mereka harus berhadapan dengan juara bertahan, Jerman Barat. Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Hans Schafer, Swedia menunjukkan mental baja dengan membalikkan kedudukan menjadi 3-1. Bahkan, 2 gol dicetak pada 10 menit terakhir waktu normal. Kemenangan dramatis tersebut mengantar Swedia ke final Piala Dunia 1958 sekaligus yang pertama dalam sejarah mereka.
4. Swedia kalah di final dengan skor 5-2 dari Brasil yang saat itu diperkuat Pele
Dilansir SkySports, kepala pelatih Swedia, George Raynor, yakin mampu memberi kejutan di partai final melawan Brasil pada 29 Juni 1958. Syaratnya, mereka harus mencetak gol cepat pada awal pertandingan. Ternyata itu bisa dilakukan. Nils Liedholm menjebol gawang Gilmar dos Santos pada menit keempat. Gol tersebut sempat membangkitkan harapan publik tuan rumah bahwa mereka bisa menjinakkan tim favorit. Namun, gol Liedholm justru memicu kebangkitan lawan.
Brasil membalas lewat 2 gol Vava, 2 gol dari penyerang berusia 17 tahun bernama Pele, serta 1 gol lainnya dari Mario Zagallo. Meski sempat mencetak gol kedua untuk memperkecil ketinggalan, Brasil terlalu tangguh untuk Swedia. Laga berakhir dengan skor akhir 2-5 dan Swedia harus merelakan gelar juara lepas dari tangan mereka. Namun, Nils Liedholm dan kawan-kawan tetap mendapat tepuk tangan dari hampir 50 ribu penonton yang hadir di Stadion Rasunda, Stockholm, sebagai apresiasi sebab mereka telah memberi perlawanan sengit.
5. Pelatih Swedia saat itu, George Raynor, tidak mendapat apresiasi di negara asalnya
Kendati mencatatkan sejarah sebagai pelatih asal Inggris pertama yang mencapai final Piala Dunia, George Raynor tidak mendapat apresiasi di negeri kelahirannya. Padahal ia berharap pencapaian tersebut bisa membuka karier kepelatihannya di Inggris, tetapi lamaran kerjanya tetap diabaikan. Dilansir The Guardian, ini terjadi lantaran publik Britania Raya saat itu masih mendewakan sepak bola dalam negeri.
Ironisnya, satu-satunya tawaran yang diterima Raynor setelah menjadi peringkat kedua Piala Dunia 1958 datang dari tim amatir, Skegness Town. Ia akhirnya pensiun sebagai pelatih tim kasta bawah bersama Doncaster Rovers, sangat kontras dengan statusnya sebagai legenda di Swedia. Raynor mendapat penghargaan dari Raja Swedia dan masuk Hall of Fame sepak bola Swedia pada 2006. Raynor akhirnya dikenang sebagai sosok genius yang terlupakan di negaranya sendiri.
Kini, Timnas Swedia kembali diasuh pelatih asal Inggris lainnya: Graham Potter. Mantan juru taktik Chelsea tersebut sebenarnya tidak asing sebab pernah menangani klub Swedia, Ostersunds FK (2011–2018). Bermodal para pemain berkualitas seperti Viktor Gyokeres dan Victor Lindelof, mampukah Potter membawa Swedia terbang tinggi di Piala Dunia 2026 mendatang?