Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
FIFA Tolak Banding Belgia, Kartu Merah Bintang AS Tetap Ditangguhkan
Penyerang AS, Folarin Balogun (nomor 20), merayakan gol ketiga timnya bersama rekan-rekan setim selama pertandingan sepak bola Grup D Piala Dunia 2026 antara AS dan Paraguay di Stadion Los Angeles di Inglewood pada 13 Juni 2026. (AFP/Patrick T. Fallon)
  • FIFA menangguhkan hukuman kartu merah Folarin Balogun, membuatnya tetap bisa bermain melawan Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026 meski sebelumnya mendapat kartu merah langsung.
  • Federasi Sepak Bola Belgia mengajukan banding atas keputusan tersebut, namun FIFA menolak dengan alasan RBFA tidak memiliki kedudukan hukum untuk menggugat keputusan disipliner itu.
  • Kontroversi makin memanas setelah Donald Trump disebut ikut campur meminta peninjauan ulang, sementara UEFA mengecam keras langkah FIFA yang dianggap mencederai asas keadilan sepak bola.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - FIFA mengeluarkan keputusan yang sangat kontroversial. Bintang Amerika Serikat yang seharusnya menjalani sanksi larangan bermain, Folarin Balogun, justru diperbolehkan tampil kontra Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026, pada Selasa pagi WIB (7/7/2026).

Balogun sebelumnya mendapat kartu merah langsung kontra Bosnia-Herzegovina di babak 32 besar, pada 2 Juli lalu. Secara regulasi, Balogun sudah otomatis dilarang bermain satu pertandingan. Bahkan, laporan berbagai media asing sebelumnya, Balogun berpotensi mendapat sanksi tambahan dari FIFA imbas pelanggaran kerasnya.

Namun, alih-alih memberikan sanksi tambahan, FIFA justru menangguhkan hukuman tersebut. Keputusan kontroversial ini pun mendapat kecaman dari banyak pihak.

1. Belgia ajukan banding, tapi ditolak

Logo FIFA (doc. FIFA)

Dilansir One Football, Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) keberatan atas perlakuan istimewa FIFA kepada pemain tuan rumah. Mereka mengajukan banding, namun ditolak oleh badan sepak bola dunia tersebut.

"Permohonan tersebut dinyatakan tidak dapat diterima karena Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) bukan merupakan pihak dalam proses ini dan, oleh karena itu, tidak memiliki kedudukan hukum untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut," bunyi pernyatan FIFA.

2. Berawal dari intervensi Donald Trump

potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)

Kontroversi ini bermula dari intervensi Presiden AS, Donald Trump. Orang nomor satu Negeri Paman Sam itu menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, agar meninjau ulang kartu merah Balogun. Dia mengaku amat paham soal sepak bola, dan menilai ada kesalahan pada wasit.

"Yang saya lakukan hanyalah meminta peninjauan ulang karena saya tidak berpikir itu pelanggaran. Sekali lagi, saya ahli dalam hal ini. Saya tidak berpikir itu pelanggaran. Saya pikir itu adalah dua atlet hebat yang bertabrakan dan saling berbelit. Itu bukan seseorang yang meninju wajah orang lain atau hal lain yang berbeda," kata Trump dikutip BBC.

Infantino juga mengeluarkan pernyataan terkait penangguhan hukuman Balogun. Infantino membantah memberikan perlakuan istimewa kepada AS, dan mengeklaim semua keputusan sesuai regulasi dan fakta yang dikumpulkan.

"Badan peradilan FIFA bersifat independen. Mereka bekerja secara otonom, menerapkan Kode Disiplin FIFA, dan memutuskan setiap perkara berdasarkan regulasi yang berlaku serta fakta-fakta spesifik yang ada," ujar Infantino.

3. UEFA juga kecam FIFA!

Presiden FIFA Gianni Infantino berbicara dalam Kongres FIFA ke-76 di Vancouver Convention Centre, 30 April 2026, di Vancouver, Kanada. (Foto: Don MacKinnon/AFP)

UEFA juga mengecam keputusan konyol FIFA. Konfederasi sepak bola Eropa itu secara blak-blakan menyebut FIFA telah berlebihan, dan mencederai asas keadilan serta kepastian hukum dalam sepak bola.

"Sepak bola itu berbasiskan aturan, agar kompetisi dan laga bisa berjalan transparan dan adil. Namun, tindakan FIFA soal menganulir kartu merah Balogun sudah kelewat batas," bunyi pernyataan UEFA.

Di sisi lain, keputusan ini menambah daftar panjang kontroversi FIFA sepanjang Piala Dunia 2026. Insiden ini semakin memperkuat anggapan kalau FIFA telah kehilangan marwahnya dan tidak memiliki daya tawar yang cukup ketika berhadapan dengan negara adidaya seperti AS.

"Sangat penting agar ada konsistensi dan posisi FIFA harus tepat dan konsisten. Kartu merah tetaplah kartu merah. Kita semua sering melihat kartu merah yang keras... tetapi itu bukan alasan untuk campur tangan politik untuk membatalkannya. Tapi tentu saja, FIFA memberikan hadiah perdamaian kepada Trump beberapa bulan lalu," kata mantan Chairman Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), David Bernstein.

Curated For You

Editorial Team

Related Article