ilustrasi Piala Dunia (unspalsh.com/Fauzan Saari)
Dalam buku Encyclopedia of World Cup, yang ditulis Tom Durnmore (2015), Jepang yang mendapatkan undangan dari FIFA untuk berlaga di Piala Dunia 1938, tak bisa memenuhinya. Mereka mundur dari Piala Dunia 1938 karena sibuk berperang dengan China dalam Sino-Japanese War II sejak 1937.
Atas situasi itu, Jepang kekurangan pemain untuk berlaga. Mereka juga tidak memiliki logistik dan transportasi karena seluruhnya dialihkan untuk bisa berperang dengan China.
Alhasil, FIFA memutuskan untuk mengirimkan undangan ke negara lain di Asia. Undangan tersebut jatuh kepada Indonesia yang kala itu masih menjadi Hindia Belanda dan masuk melalui NIVU. Alhasil, Hindia Belanda menjadi tiga negara di luar Eropa yang bersaing di Piala Dunia.
Masalah tak langsung selesai. Pada masa kolonial, organisasi sepak bola yang diakui bukanlah Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia alias PSSI. Melainkan, Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU). Kala itu, tim PSSI disebut lebih kuat ketimbang NIVU.
Tak ingin kalah saing, NIVU berniat untuk melanggar Gentlemen's Agreement yang mereka buat dengan PSSI dan mendaftarkan langsung ke FIFA. PSSI sempat protes, tapi tak banyak yang dapat dilakukan. Akhirnya, 11 pemain lokal dan Tionghoa masuk dalam daftar skuad Hindia Belanda saat itu.
Mereka menjalani hidup yang sulit dengan cap pengkhianat di tengah masyarakat. Namun, semangat mereka satu, membawa nama Indonesia berkibar di panggung internasional lewat Piala Dunia
Tim Hindia Belanda kemudian menghadapi Hungaria di babak pertama karena format turnamen saat itu langsung sistem gugur. Pertandingan tersebut berakhir dengan kekalahan 0-6 bagi Hindia Belanda. Meski singkat, partisipasi itu tetap tercatat sebagai penampilan pertama tim dari wilayah Indonesia di Piala Dunia.