Keberhasilan Brighton & Hove Albion menjadi tim paling subur di Premier League lewat torehan 16 gol tak lepas dari daya jelajah tinggi di lini depan. Charalampos Kostoulas tampil cemerlang dengan torehan 4 gol dan 3 assist sembari rajin menutup jalur operan lawan. Maxim De Cuyper dan Diego Gomez yang dipasang di posisi sayap juga rajin melakukan backwards defending demi mematikan ruang gerak bek sayap musuh.
Sektor gelandang memegang peranan paling krusial sebagai otak penyeimbang struktur dan penjaga kerapatan pertahanan. Pascal Gross tampil bak jenderal lapangan tengah yang tidak hanya memimpin pressing, tetapi juga menorehkan 3 gol dan 3 assist. Kehadiran Chema Andres setinggi 194 sentimeter memberikan keunggulan fisik dalam memutus serangan bola atas lawan sekaligus mencetak gol sundulan dari situasi bola mati.
Lini belakang dan penjaga gawang Brighton juga menunjukkan kedisiplinan luar biasa dalam menopang garis pertahanan tinggi yang berisiko. Duet bek tengah baru, Pascal Struijk dan Luka Vuskovic, tampil kokoh dalam memenangi duel udara saat lawan melepas umpan lambung. Sementara itu, Bart Verbruggen dengan cermat menjalankan peran sweeper-keeper untuk menyapu bola terobosan yang lolos di belakang barisan bek.
Kembali mengutip The Athletic, kerja keras tanpa bola seluruh pemain membawa Brighton memuncaki catatan final-third regains Premier League sebanyak 35 kali. Rata-rata 7,2 kali merebut bola di wilayah berbahaya per laga membuktikan betapa mengerikannya intensitas tekanan yang mereka lancarkan. Kombinasi ketahanan fisik, kecerdasan membaca posisi, dan kedisiplinan taktis menjadi alasan utama Brighton menjelma sebagai kekuatan patut diperhitungkan di Premier League.
Skema high-press yang dirancang Fabian Huerzeler sukses membongkar dominasi klub-klub raksasa sekaligus mengukuhkan identitas baru Brighton di Premier League. Lewat perpaduan eksekusi taktis yang cerdas dan kerja keras kolektif para pemainnya, Huerzeler-ball terbukti menjadi formula mematikan yang siap menebar ancaman sepanjang musim.