Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi pelatih sepak bola
ilustrasi pelatih sepak bola (unsplash.com/NguyenThuHoai)

Kabar pemecatan pelatih Manchester United, Ruben Amorim, dan pengunduran diri pelatih Chelsea, Enzo Maresca, cukup menggemparkan sepak bola dunia pada awal 2026. Keduanya meninggalkan posisinya sebagai pelatih pada awal paruh kedua 2025/2026. Padahal, secara prestasi, MU serta Chelsea tidak terlalu buruk di klasemen sementara English Premier League (EPL). MU berada di peringkat ke-6 dengan koleksi 31 poin, sedangkan Chelsea menduduki posisi ke-5 lewat perolehan poin yang sama. Kedua klub masih berada dalam peta persaingan perebutan posisi empat besar EPL per pekan ke-20 2025/2026.

Fenomena pemecatan pelatih pada pertengahan musim sudah lumrah terjadi dalam dunia sepak bola. Berbagai alasan mendasari keputusan petinggi klub mengganti pelatih saat musim belum berjalan. Lantas, kenapa klub-klub top Eropa memutuskan memecat pelatih pada pertengahan musim?

1. Performa buruk dan inkonsistensi di atas lapangan

Performa buruk klub menjadi alasan paling umum manajemen klub memecat pelatih pada pertengahan musim. Sebagian klub-klub besar Eropa menargetkan pelatihnya untuk bersaing merebut gelar juara atau masuk zona empat besar liga agar lolos ke Liga Champions Eropa (UCL) musim berikutnya. Sayangnya, sebagian pelatih gagal memenuhi ekpektasi tersebut. Akibatnya, klub memutuskan memecat pelatih saat musim belum selesai.

Sebagai contoh, Jose Mourinho kerap kali dipecat pada pertengahan musim akibat performa buruk, seperti ketika melatih Chelsea pada 2015/2016, Manchester United 2018/2019, dan AS Roma pada 2023/2024. Klub-klub tersebut kesulitan meraih kemenangan sehingga keluar dari peta persaingan gelar juara bahkan perebutan zona empat besar. Sebagian klub yang mengganti pelatih pada pertengahan musim justru menuai hasil-hasil positif. Seperti Chelsea yang dua kali menjuarai Liga Champions setelah mengganti Andre Villas-Boas dengan Roberto Di Matteo pada pertengahan 2011/2012 dan Frank Lampard dengan Thomas Tuchel pada 2020/2021.

2. Terlibat konflik internal dengan petinggi klub

Konflik internal antara pelatih dan jajaran direksi klub sering kali berujung pada pemecatan. Beragam faktor menjadi dasar awal mula perselisihan antara pelatih dan manajemen klub. Seperti yang terjadi kepada Ruben Amorim dan Enzo Maresca pada pertengahan 2025/2026. Penampilan Manchester United dan Chelsea memang kerap kali inkonsisten selama paruh pertama 2025/2026. Akan tetapi, posisi kedua klub tersebut masih dalam zona kompetisi antarklub Eropa dan berpeluang merebut peringkat empat besar EPL.

Akan tetapi, baik Amorim maupun Maresca sama-sama terlibat konflik dengan petinggi klubnya masing-masing. Dalam kasus Maresca, perselisihan dengan departemen medis dan jajaran direksi klub terkait kontra serta kebijakan transfer menjadi beberapa alasan kedua belah pihak berpisah. Sang pelatih bahkan sempat menyebut mengalami 48 jam terburuk dalam kariernya sebagai pelatih Chelsea usai meraih kemenangan 2-0 atas Everton pada 13 Desember 2025. Ia juga mengaku tidak mendapat dukungan dari internal klub. Akibatnya, tensi antara Maresca dengan manajemen Chelsea makin memasan usai meraih hasil imbang 2-2 kontra Bournemouth pada 31 Desember 2025.

Lain halnya dengan Amorim yang menyinggung posisinya sebagai manajer bukan pelatih kepala Manchester United dalam konferensi pers usai imbang 1-1 kontra Leeds United pada 4 Januari 2026. Ia bahkan berani mengatakan manajemen MU untuk menjalankan pekerjaanya dengan baik agar dirinya sukses di MU. Selain itu, Amorim menyatakan tidak akan mengubah filosofi permainan dengan sistem tiga bek selama melatih Manchester United terlepas dari hasil-hasil buruk serta finis di peringkat ke-15 pada EPL 2024/2025. Pernyataan-pernyataan kontroversial tersebut memicu konflik dengan Direktur Sepakbola MU, Jason Wilcox, serta CEO MU, Omar Berada. Akibatnya, Amorim dipecat MU pada 5 Januari 2026.

3. Tidak mendapat respek dari para pemain bintang dan tekanan fans

Beberapa pelatih mengalami pemecatan usai kehilangan respek dari para pemain di ruang ganti dan tekanan besar fans. Seperti yang terjadi kepada Rafael Benitez saat melatih Real Madrid pada 2015/2016. Secara performa, Los Blancos bermain cukup konsisten dengan catatan 17 kali menang, 5 kali seri, dan 3 kali kalah. Namun, Benitez terlibat konflik dengan para pemain bintang, seperti Cristiano Ronaldo, James Rodriguez, dan Isco. Begitu juga dengan Xavi Hernandez yang kehilangan respek dari sebagian bintang Barcelona, macam Raphinha dan Robert Lewandowski. Demi menjaga stabilitas klub, jajaran direksi memutuskan memecat pelatih dan mengganti dengan sosok yang dinilai lebih tepat. Terbukti, Zinedine Zidane yang menggantikan Rafael Benitez mampu mengantarkan Real Madrid menjuarai UCL 2015/2016.

Selain itu, tekanan besar dari basis penggemar klub memberikan pengaruh besar kepada keputusan petinggi klub memecat pelatih. Seperti yang terjadi kepada Russel Martin yang dipecat Rangers akibat berselisih dengan fans. Begitu juga dengan Roberto Mancini yang dicopot dari jabatannya sebagai pelatih Galatasaray setelah terlibat konflik dengan para penggemar.

Keputusan klub memecat pelatih pada pertengahan musim kerap kali menimbulkan tanda tanya dari media dan fans. Sebagian berspekulasi mengenai hasil-hasil buruk di atas lapangan, sementara lainnya memberitakan tentang konflik internal klub. Tidak jarang, para pelatih dipecat akibat kehilangan kontrol ruang ganti dan respek dari para fans. Maka dari itu, pekerjaan sebagai pelatih atau manajer klub sepak bola memiliki resiko pemecatan serta tingkat stres yang tinggi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorAtqo Sy