Mengupas Problem Taktik 3-4-3 Amorim di MU hingga Berujung Pemecatan

- Sistem 3-4-3 ala Ruben Amorim tidak sesuai dengan komposisi skuad MU, menyebabkan ketidaksesuaian peran pemain inti seperti Bruno Fernandes dan Kobbie Mainoo.
- Tidak adanya evolusi dan adaptasi taktik membuat sistem Ruben Amorim tampak kaku, dengan perubahan yang bersifat situasional dan temporer.
- Skema 3-4-3 yang awalnya sebagai prinsip taktik, justru menjadi simbol otoritas Ruben Amorim di tengah tekanan internal klub, memicu konflik antara manajemen dan pelatih.
Manchester United memecat Ruben Amorim sebagai kepala pelatih bukan dalam situasi krisis klasemen. Mereka berada di posisi keenam di English Premier League (EPL) 2025/2026 per pekan ke-20. Keputusan ini tampak janggal jika hanya dibaca melalui hasil pertandingan semata. Namun, di balik hasil laga dan posisi klasemen, terdapat persoalan yang lebih kompleks dan struktural.
Masalah utama era Amorim di Old Trafford bukan sekadar soal menang dan kalah, melainkan juga tentang bagaimana sebuah ide taktik dipaksakan tanpa kompromi. Sistem 3-4-3 yang menjadi identitasnya perlahan berubah dari alat permainan menjadi sumber konflik internal. Dari sisi teknis di lapangan hingga dinamika di ruang rapat, taktik itu pada akhirnya mencerminkan gagalnya penyatuan antara visi klub dan pelatih.
1. Sistem 3-4-3 ala Ruben Amorim dari awal hingga kini tidak sesuai dengan komposisi skuad
Ruben Amorim datang ke Manchester United dengan reputasi sebagai pelatih visioner yang sukses bersama Sporting CP. Di Portugal, formasi 3-4-3 menjadi fondasi permainan yang terstruktur, agresif, dan konsisten. Namun, gaya permainan di Premier League dan karakter skuad MU menghadirkan tantangan yang sama sekali berbeda.
Masalah pertama muncul pada ketidaksesuaian peran pemain inti. Bruno Fernandes kerap ditempatkan di antara peran gelandang dan inside forward, posisi yang sering kali membatasi kebebasan kreatifnya. Amad Diallo dan Noussair Mazraoui juga dilanda kebimbangan peran saat harus berganti menjadi wing-back atau pemain interior tanpa kejelasan fungsi yang stabil.
Kobbie Mainoo bisa dibilang menjadi pemain yang paling dirugikan dengan idealisme taktik Amorim. Ia dimainkan sebagai gelandang bertahan, gelandang serang, bahkan sempat diplot sebagai penyerang, tanpa satu peran yang benar-benar mengakar. Perpindahan fungsi ini menggerus identitas permainannya dan memutus proses perkembangan alami yang seharusnya ia jalani sebagai pemain muda.
Ketidakselarasan ini bukan mencerminkan keterbatasan kualitas individu. Justru, persoalan terletak pada struktur 3-4-3 yang menuntut profil pemain sangat spesifik, sementara skuad MU dibangun dengan logika berbeda selama bertahun-tahun. Adaptasi yang berlarut-larut membuat automatisme permainan tidak pernah terbentuk secara utuh.
Akibatnya, pola permainan Setan Merah menjadi mudah ditebak. Lawan memahami jalur progresi bola, area overload, serta kelemahan transisi yang berulang. Ketika pelatih lebih mengutamakan sistem daripada situasi laga, fleksibilitas menjadi korban pertama, dan efektivitas pun menghilang.
2. Tidak adanya evolusi dan adaptasi taktik membuat sistem Ruben Amorim tampak kaku
Tekanan terhadap Ruben Amorim mulai meningkat ketika performa Manchester United gagal menunjukkan progres konsisten. Pada Desember 2025, ia sempat mengisyaratkan kebutuhan untuk beradaptasi, terutama dengan mencoba struktur back four. Dalam beberapa laga usai Bruno Fernandes cedera, MU terlihat menggunakan 4-4-2 atau 4-2-3-1, termasuk saat menghadapi AFC Bournemouth dan Newcastle United.
Namun, perubahan tersebut bersifat situasional dan temporer. Setelah kemenangan tipis atas Newcastle dengan struktur 4-2-3-1, Amorim kembali ke 3-4-2-1 saat menghadapi Wolverhampton Wanderers pada pekan ke-19 Premier League. Keputusan ini memicu kebingungan, terutama karena perubahan peran pemain dilakukan secara drastis dalam waktu singkat.
Perbedaan antara adaptasi dan evolusi menjadi krusial dalam membaca perubahan taktik tersebut. Adaptasi seharusnya memperkaya sistem permainan, bukan sekadar mengganti bentuk lalu kembali ke pola lama tanpa pengembangan prinsip yang stabil. Inkonsistensi ini membuat bentuk permainan MU timpang, dengan struktur in-possession menyerupai back four, tetapi transisi bertahan kembali ke back three yang renggang dan mudah dieksploitasi lawan.
Dari sisi pemain, mereka dibuat bingung karena struktur yang mereka pelajari dalam latihan kerap berbeda dengan sistem yang diterapkan saat pertandingan. Kondisi ini perlahan mengikis kepercayaan terhadap visi taktik, terlebih ketika hasil yang didapat tidak sejalan dengan eksperimen yang dilakukan. Pergantian sistem yang setengah hati ini akhirnya merusak kontinuitas tim, yang membuat MU terjebak dalam transisi berkepanjangan hingga 3-4-3 yang awalnya sebagai pakem, justru menjadi sumber masalah yang berulang.
3. Skema 3-4-3 yang awalnya sebagai prinsip taktik justru menjadi simbol otoritas Ruben Amorim
Seiring waktu, 3-4-3 berhenti menjadi sekadar pilihan taktis. Sistem tersebut malah berubah menjadi simbol otoritas Ruben Amorim di tengah tekanan internal klub. Dilansir The Athletic, pernyataan publiknya tentang peran “manajer, bukan hanya kepala pelatih” usai laga melawan Leeds United mencerminkan ketegangan yang makin terbuka.
Dari sisi manajemen klub, termasuk Sir Jim Ratcliffe dan Jason Wilcox, mendorong fleksibilitas yang lebih besar. Mereka menginginkan evolusi menuju struktur yang lebih selaras dengan identitas historis dan investasi skuad. Namun, Amorim memandang dorongan tersebut sebagai bentuk intervensi terhadap wilayah kerjanya.
Ketika skema 3-4-3 terus dipaksakan dalam laga-laga penting, keputusan tersebut tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada pertimbangan performa. Sistem itu perlahan berfungsi sebagai sarana penegasan otoritas dan garis kewenangan. Dalam situasi seperti ini, pendekatan taktik justru menjelma menjadi ajang tarik-menarik wewenang di dalam klub. Dampaknya, kepercayaan pun retak karena pemain merasakan jurang antara arahan latihan dan praktik di pertandingan, sementara manajemen menilai perkembangan tim stagnan meski posisi klasemen masih tergolong aman.
Data Opta Analyst menunjukkan, sejak Amorim menangani Manchester United pada November 2024, tim hanya meraih 58 poin dari 47 laga Premier League, dengan persentase kemenangan di liga sebesar 31,9 persen. Angka tersebut menjadi yang terburuk pada era Premier League untuk seorang pelatih MU. Fakta ini memperkuat persepsi bahwa progres yang dijanjikan tidak pernah benar-benar terwujud.
Pemecatan Ruben Amorim lahir dari persoalan struktural, bukan sekadar luapan emosi sesaat. Perbedaan arah antara visi taktik sang pelatih dengan kerangka organisasi serta tujuan jangka panjang klub menjadi titik masalah yang tak kunjung terjembatani. Dalam situasi tersebut, mempertahankan proyek yang sama hanya akan memperpanjang kebuntuan dan menunda perubahan mendasar yang dibutuhkan.

















