Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Kontroversi yang Menimpa Timnas Iran di Piala Dunia 2026
potret penyerang Timnas Iran, Mehdi Taremi di Piala Dunia 2026. (Foto: Karim JAAFAR/AFP)

  • Iran gagal lolos ke babak 32 besar setelah gol penentu di laga kontra Mesir dianulir VAR karena offside tipis, memicu perdebatan soal keadilan keputusan wasit.
  • Sebelum turnamen dimulai, sejumlah ofisial Iran ditolak visanya oleh Amerika Serikat, membuat persiapan tim terganggu dan menimbulkan tudingan diskriminasi terhadap tuan rumah.
  • Selama fase grup, Iran harus bolak-balik antara Meksiko dan AS karena ketegangan politik, sementara beberapa permintaan mereka ditolak FIFA hingga muncul kritik keras dari kapten Mehdi Taremi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Fase grup Piala Dunia 2026 telah berakhir dan menghasilkan banyak cerita menarik. Sejumlah tim berhasil memastikan tiket ke babak 32 besar, sedangkan yang lainnya harus mengakhiri perjuangan lebih cepat setelah gagal lolos dari fase grup.

Namun, perhatian tak hanya tertuju pada hasil pertandingan. Sepanjang babak grup berlangsung, muncul beberapa kontroversi termasuk yang melibatkan Timnas Iran. Ada sejumlah insiden seperti perlakuan kurang adil terhadan Iran dan langsung memicu perdebatan luas.

Lantas, apa saja kontroversi yang menimpa timnas Iran di Piala Dunia 2026? Berikut ini rangkumannya yang bisa disimak.

1. Drama anulir gol pada akhir laga

Iran dipastikan gagal melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pasalnya, mereka hanya mampu finis pada urutan ketiga Grup G dengan torehan 3 poin dari 3 laga. Iran juga gagal masuk lewat jalur peringkat 3 terbaik lantaran kalah selisih gol dari Senegal.

Meski begitu, peluang Iran untuk lolos ke babak 32 besar sebenarnya sudah berada di depan mata. Pada laga terakhir Grup G kontra Mesir, Iran sebelumnya sempat mencetak gol di injury time babak kedua. Sayangnya, gol yang dicetak pemain pengganti Shoja Khalilzadeh dianulir setelah pemeriksaan VAR.

Dalam keputusannya, wasit menganulir gol tersebut karena Khalilzadeh berada pada posisi offside. Tayangan ulang menunjukkan bahwa posisinya sangat tipis, bahkan mungkin hanya selisih sekitar 1 milimeter. Kontroversi semakin menjadi lantaran dianulirnya gol tersebut membuyarkan mimpi Iran untuk lolos ke babak 32 besar.

2. Ditolaknya visa sejumlah ofisial tim

Kesampingkan dulu soal gol yang dianulir, kontroversi lain sudah muncul bahkan sebelum Piala Dunia 2026 berlangsung. Dalam persiapannya untuk mengikuti babak grup yang digelar di Amerika Serikat, sejumlah staf kepelatihan Iran mendadak gagal mendapat visa.

Waktu itu, dilaporkan ada belasan anggota, termasuk staf administrasi, logistik, hingga pejabat federasi yang dilaporkan gagal memperoleh visa. Iran menilai tindakan tersebut sebagai perlakuan diskriminatif terhadap tim nasional mereka. Meski begitu, Iran tetap tampil dengan kondisi ala kadarnya sampai babak grup selesai.

3. Mengungsi ke Meksiko

Pada babak grup Piala Dunia 2026, seluruh pertandingan yang dimainkan Iran sebenarnya berlangsung di Amerika Serikat. Namun, mengingat ketegangan yang tengah terjadi antara kedua negara itu, timnas Iran terpaksa mengungsi ke Meksiko.

Alhasil, setiap selesai pertandingan di Amerika Serikat, timnas Iran beserta rombongan akan langsung pulang ke Meksiko. Hal ini berlaku untuk setiap laga yang dijalani Iran selama babak grup Piala Dunia 2026.

Situasi ini jelas mengurangi kenyamanan tim Iran. Pasalnya, mereka harus bolak-balik Meksiko-Amerika Serikat saat menjalani pertandingan. Dari kejadian ini, banyak pihak menganggap bahwa FIFA sudah kehilangan integritasnya karena gagal memberi kepastian bagi Iran untuk bisa bermain dengan nyaman dan aman.

4. Ditolaknya sejumlah permintaan

Sebelumnya Iran meminta permohonan ke FIFA untuk melarang adanya atribut pelangi saat laga melawan Mesir. Namun, FIFA menolaknya dengan dalih Piala Dunia 2026 berlaku untuk semua kalangan, termasuk untuk golongan-golongan tadi.

‎Tak hanya itu, Iran juga sempat mengajukan permohonan untuk mengenakan pita hitam karena pertandingannya bertepatan dengan peringatan hari Asyura. ‎Namun, keinginan tersebut juga tidak dihiraukan sama sekali. ‎

5. Tudingan untuk Presiden FIFA Gianni Infantino

Mendapati adanya sejumlah ketidaknyamanan selama Piala Dunia 2026, sejumlah pemain atau ofisial timnas Iran mengutarakan kekecewaan. Hal ini termasuk kapten tim Mehdi Taremi.

Melansir Talksport, Mehdi Taremi menyebut bahwa Piala Dunia 2026 sebagai 'bencana'. Pemain berusia 33 tahun itu menyampaikan ketidakpuasaannya atas apa yang terjadi untuk timnas Iran. Ia mengatakan bahwa FIFA tidak melakukan apa pun untuk membantu Iran. Padahal, sebelumnya Presiden FIFA Gianni Infantino sudah memberi jaminan saat mereka berbicara di ruang ganti setelah hasil imbang melawan Selandia Baru.

Itulah tadi sejumlah kontroversi yang menimpa timnas Iran di Piala Dunia 2026. Bagaimana menurutmu? Untuk ulasan lain mengenai Piala Dunia 2026, bisa simak dalam laman Soccertime IDN Times!

soccertime IDN Times.png


FAQ seputar kontroversi yang menimpa timnas Iran di Piala Dunia 2026

Apa saja kontroversi yang menimpa timnas Iran di Piala Dunia 2026?

Sebut saja dari ditolaknya visa sejumlah ofisial sebelum Piala Dunia 2026 berlangsung, diasingkan untuk bermarkas di Meksiko hingga kontroversi dianulirnya gol di laga terakhir fase grup.

Apa Iran lolos ke babak 32 besar Piala Dunia 2026?

Tidak. Iran gagal lolos setelah finis di urutan ketiga Grup G Piala Dunia 2026. Mereka juga gagal lolos lewat jalur peringkat 3 terbaik lantaran kalah selisih gol dari negara lain.

Kenapa Iran tidak bermarkas di Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026?

Karena ketegangan di antara kedua negara, timnas Iran terpaksa bermarkas di Meksiko selama Piala Dunia 2026. Padahal, pertandingan-pertandingan yang dimainkan akan berlangsung di AS. Jadi, mereka harus bolak-balik AS-Meksiko jika ada pertandingan.

Kenapa Iran merasa diperlakukan tidak adil di Piala Dunia 2026?

Ada banyak faktor. Di antaranya seperti sempat dicekalnya visa sejumlah ofisial tim, kemudian dilarang bermarkas di Amerika Serikat hingga hal-hal lain yang dirasa merugikan.

Editorial Team

Related Article