Lisandro Martinez Bongkar Krisis Internal MU Usai Kalah dari Atletico

- Manchester United kalah 0-2 dari Atletico Madrid setelah kebobolan pada 53 detik dan Leny Yoro mendapat kartu merah; hasil ini memperpanjang lima laga tanpa kemenangan.
- Lisandro Martinez mengkritik direksi dan kebijakan investasi pemain, menilai masalah MU tidak hanya berada pada pemain serta pelatih dan skuad belum setara klub besar.
- Wayne Rooney, Ashley Young, dan Jamie Carragher mengecam komentar terbuka Martinez, sementara isu tersebut memperbesar sorotan terhadap soliditas internal MU menjelang laga melawan Leeds United.
Manchester United mengalami kekalahan 0-2 atas Atletico Madrid di Liga Champions Eropa 2026/2027 pada Selasa (13/10/2026) malam waktu setempat. Sorotan publik tertuju kepada Lisandro Martinez yang melontarkan kritik tajam terhadap manajemen klub dalam dua wawancara terpisah usai laga. Ia menyebut kekalahan tersebut sebagai cerminan kondisi Setan Merah sesungguhnya.
Selain menyoroti performa tim di lapangan, pemain asal Argentina itu juga menyasar langsung kebijakan investasi pemain yang dikendalikan direktur teknik, Jason Wilcox. Legenda klub, Wayne Rooney, pun ikut bersuara, menilai sikap Martinez telah melewati batas seorang pemain terhadap institusi yang membesarkannya. Perdebatan ini dengan cepat meluas, melibatkan sejumlah mantan pemain dan pandit yang memberi penilaian berbeda-beda atas keberanian sang pemain.
1. Kekalahan atas Atletico Madrid membuat Manchester United tak pernah menang dalam lima laga terakhir
Laga di Riyadh Air Metropolitano Stadium berjalan buruk bagi Manchester United sejak menit awal. Pablo Barrios membobol gawang Senne Lammens hanya 53 detik setelah peluit tanda kick-off dibunyikan. Keadaan kian sulit bagi skuad asuhan Michael Carrick saat Leny Yoro diganjar kartu merah pada menit ke-74 setelah video assistant referee (VAR) menilai pelanggarannya terhadap Jonathan David menggagalkan peluang emas lawan. Unggul jumlah pemain, Atletico Madrid langsung memanfaatkan keuntungan tersebut lewat gol Ademola Lookman tak lama berselang, memastikan kemenangan 2-0 atas tim tamu.
Data Opta Analyst menunjukkan, MU tidak kalah telak secara permainan dengan catatan expected goals (xG) sebesar 0,98 berbanding 1,42 milik tuan rumah. Sembilan peluang tercipta dan empat di antaranya mengarah tepat sasaran, yang membuktikan lini serang MU sebenarnya mampu menembus pertahanan Atletico Madrid yang dikenal disiplin. Sayangnya, ketajaman di depan gawang menjadi barang langka bagi para penyerang Setan Merah yang kini tampak lebih mengakar pada mentalitas dan kualitas skuad ketimbang kesalahan taktikal semata.
Kekalahan di Spanyol tersebut memperpanjang catatan buruk MU menjadi lima laga beruntun tanpa kemenangan di semua kompetisi. Kemenangan terakhir Carrick justru didapat dari lawan yang jauh di bawah level mereka, yakni Sabah FK, pada 10 September 2026 lalu, sementara kemenangan lain musim ini datang saat menjamu Ipswich Town. Rentetan hasil di English Premier League ini menjadi awal musim terburuk MU dalam 40 tahun terakhir.
Persoalan di Old Trafford sebenarnya bukan hal baru, mengingat klub telah berganti pelatih 3 kali dalam 3 musim terakhir. Ironisnya, jendela transfer musim panas 2026 dinilai timpang karena manajemen menghabiskan dana sebesar 155 juta pound sterling (Rp3,680 triliun) hanya untuk mendatangkan tiga gelandang, yaitu Youri Tielemans, Carlos Baleba, dan Andrey Santos. Posisi krusial, seperti bek sayap, luput dari perhatian, bahkan kini jadi sorotan utama setelah performa tim kian merosot.
2. Lisandro Martinez menegaskan perbaikan tak hanya di pemain dan pelatih, tetapi juga direksi Manchester United
Dalam wawancara terpisah bersama Amazon Prime Video dan CBS Sports, Lisandro Martinez menyebut kekalahan dari Atletico Madrid sebagai cerminan kondisi klub saat ini. Pemain berusia 28 tahun itu secara khusus menyinggung peran direktur teknik, menegaskan dirinya mengharapkan lebih banyak investasi dari direksi. Ia bahkan blak-blakan mengakui skuad Manchester United saat ini belum setara dengan tim-tim besar lain, sebuah pengakuan yang jarang terdengar dari mulut pemain senior sekelasnya.
Sindiran paling tajam datang ketika Martinez mempertanyakan kebiasaan klub yang gemar berganti pelatih tanpa pernah membenahi persoalan di balik layar. Pertanyaan retoris tersebut secara tidak langsung menempatkan tanggung jawab kegagalan bukan hanya kepada pundak pelatih atau pemain, melainkan juga kepada level manajemen yang lebih tinggi. Isu ini sempat dilempar kepada rekan setimnya, Youri Tielemans. Namun, gelandang asal Belgia itu memilih bungkam, yang lantas memperkuat kesan canggung di ruang ganti.
Keberanian Lisandro Martinez berbicara terbuka turut memunculkan spekulasi mengenai motif di baliknya, terutama karena kontraknya bersama MU akan berakhir pada 2028. Sikap terang-terangan ini mengingatkan kepada langkah serupa yang pernah diambil rekan senegaranya, Cristian Romero, saat mengkritik manajemen Tottenham Hotspur pada 2025/2026 musim lalu. Menariknya, Romero menjadi bagian dari skuad Atletico Madrid yang mengalahkan MU pada laga tersebut sekaligus menambah ironi dalam drama yang tengah berlangsung.
3. Kritik pedas Lisandro Martinez menuai kecaman pandit hingga jejak kelam pemain kritis di Manchester United
Mengutip BBC Sport, legenda Manchester United, Wayne Rooney, menilai pernyataan Lisandro Martinez sudah kelewat batas dan seharusnya cukup disampaikan di ruang ganti. Mantan kapten timnas Inggris itu turut menyinggung ketidaksopanan Martinez terhadap rekan-rekan setimnya, karena secara tersirat menyebut skuad MU tidak cukup berkualitas. Rooney membandingkan situasi tersebut dengan pengalamannya pada 2010, ketika kritiknya berujung permintaan maaf kepada Sir Alex Ferguson, seraya menegaskan hanya Bruno Fernandes yang pantas bersuara seperti itu.
Ashley Young, yang turut mendampingi Rooney sebagai pandit di Madrid, Spanyol, sependapat jika para pemain seharusnya fokus membuktikan kualitas di lapangan ketimbang melempar kritik ke hadapan publik. Senada dengan keduanya, eks bek Liverpool, Jamie Carragher, menyebut langkah Martinez sebagai preseden buruk dan tidak memberi manfaat apa pun bagi klub. Carragher turut membantah klaim Martinez soal performa gemilang tim musim lalu, mengingat MU mampu finis ketiga karena hanya berlaga di Premier League usai Michael Carrick mengambil alih kursi kepelatihan pada Januari 2026.
Bukan rahasia lagi, kritik tajam pemain terhadap manajemen kerap berbuntut singkat baginya di klub, seperti yang dialami Cristiano Ronaldo pada 2022. Pemain asal Portugal itu harus rela kontraknya diputus sepekan setelah membongkar karut-marut internal direksi MU dalam wawancara bersama Piers Morgan. Sebelum Ronaldo, Roy Keane diputus kontrak MU pada 2005 tak lama usai kritik pedasnya terhadap performa rekan setim dalam wawancara untuk MUTV yang tak pernah tayang.
Drama yang dipicu komentar Lisandro Martinez kini menjadi ujian baru bagi soliditas internal Manchester United, tepat di tengah pekan krusial jelang laga melawan Leeds United. Bagaimana manajemen dan ruang ganti meredam gejolak ini akan menjadi penentu: apakah klub mampu bangkit atau justru terjerumus lebih dalam ke pusaran krisis yang telah berlangsung sejak era pasca-Sir Alex Ferguson?





















