Laga di Riyadh Air Metropolitano Stadium berjalan buruk bagi Manchester United sejak menit awal. Pablo Barrios membobol gawang Senne Lammens hanya 53 detik setelah peluit tanda kick-off dibunyikan. Keadaan kian sulit bagi skuad asuhan Michael Carrick saat Leny Yoro diganjar kartu merah pada menit ke-74 setelah video assistant referee (VAR) menilai pelanggarannya terhadap Jonathan David menggagalkan peluang emas lawan. Unggul jumlah pemain, Atletico Madrid langsung memanfaatkan keuntungan tersebut lewat gol Ademola Lookman tak lama berselang, memastikan kemenangan 2-0 atas tim tamu.
Data Opta Analyst menunjukkan, MU tidak kalah telak secara permainan dengan catatan expected goals (xG) sebesar 0,98 berbanding 1,42 milik tuan rumah. Sembilan peluang tercipta dan empat di antaranya mengarah tepat sasaran, yang membuktikan lini serang MU sebenarnya mampu menembus pertahanan Atletico Madrid yang dikenal disiplin. Sayangnya, ketajaman di depan gawang menjadi barang langka bagi para penyerang Setan Merah yang kini tampak lebih mengakar pada mentalitas dan kualitas skuad ketimbang kesalahan taktikal semata.
Kekalahan di Spanyol tersebut memperpanjang catatan buruk MU menjadi lima laga beruntun tanpa kemenangan di semua kompetisi. Kemenangan terakhir Carrick justru didapat dari lawan yang jauh di bawah level mereka, yakni Sabah FK, pada 10 September 2026 lalu, sementara kemenangan lain musim ini datang saat menjamu Ipswich Town. Rentetan hasil di English Premier League ini menjadi awal musim terburuk MU dalam 40 tahun terakhir.
Persoalan di Old Trafford sebenarnya bukan hal baru, mengingat klub telah berganti pelatih 3 kali dalam 3 musim terakhir. Ironisnya, jendela transfer musim panas 2026 dinilai timpang karena manajemen menghabiskan dana sebesar 155 juta pound sterling (Rp3,680 triliun) hanya untuk mendatangkan tiga gelandang, yaitu Youri Tielemans, Carlos Baleba, dan Andrey Santos. Posisi krusial, seperti bek sayap, luput dari perhatian, bahkan kini jadi sorotan utama setelah performa tim kian merosot.