Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Makna Setelan Motif Macan Timnas RD Kongo di Piala Dunia 2026
ilustrasi stadion sepak bola (unsplash.com/Jonathan Ikemura)
  • Timnas RD Kongo mencuri perhatian di Piala Dunia 2026 dengan setelan bermotif macan yang melambangkan identitas nasional, kebanggaan budaya, dan simbol kembalinya mereka setelah 52 tahun absen.
  • Desain busana dibuat oleh desainer Kongo Alvin Junior Mac melalui merek Jmakxparis sebagai penghormatan terhadap budaya La Sape dan tim Zaire 1974, menonjolkan elegansi serta semangat generasi muda Kongo.
  • RD Kongo tampil impresif di lapangan dengan lolos ke babak 32 besar sebelum dikalahkan Inggris, sekaligus meninggalkan kesan mendalam lewat perpaduan olahraga dan ekspresi budaya yang autentik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piala Dunia 2026 sukses menyuguhkan berbagai cerita menarik dari para pesertanya. Salah satu yang paling mencuri perhatian datang dari Tim Nasional Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) yang mengenakan setelan bermotif macan saat tiba di Amerika Serikat. Meski perjalanan mereka di turnamen telah berakhir, gaya kedatangan skuad berjuluk Les Leopards masih dikenang sebagai salah satu momen paling ikonis di luar lapangan.

Busana tersebut bukan sekadar pilihan fesyen, melainkan juga simbol identitas tim, budaya Kongo, sekaligus penanda comeback mereka ke Piala Dunia setelah penantian selama 52 tahun. Lantas, apa makna di balik pakaian mencolok yang dikenakan para pemain RD Kongo? Berikut ulasannya:

1. Motif macan dipilih sebagai representasi identitas tim sekaligus simbol kebanggaan nasional

Saat mendarat di Bandara Internasional George Bush, Houston, Texas, skuad RD Kongo mengenakan setelan resmi berwarna hitam dengan panel bermotif leopard yang membentang dari bahu hingga dada. Tidak hanya pakaian mereka yang menarik perhatian, koper yang dibawa para pemain juga dihiasi motif serupa. Penampilan tersebut makin lengkap berkat aksesori senada dan pin berbentuk leopard yang dikenakan para pemain.

Tim nasional RD Kongo dikenal dengan julukan Les Leopards atau The Leopards. Di balik tampilannya yang mencolok, busana tersebut memiliki filosofi tersendiri. Motif macan dipilih sebagai representasi identitas tim sekaligus simbol kebanggaan nasional yang ingin mereka tampilkan di panggung sepak bola dunia.

Kedatangan skuad RD Kongo pun langsung menjadi perbincangan di media sosial. Sebagian warganet membandingkan penampilan mereka dengan film Coming to America (1988), sementara yang lain menilai gaya tersebut mencerminkan budaya fesyen Kongo yang telah lama dikenal di Afrika. Banyak penggemar sepak bola bahkan menyebut RD Kongo sebagai salah satu tim dengan penampilan paling ikonis sepanjang Piala Dunia 2026. Busana tersebut dinilai berhasil memadukan unsur olahraga, budaya, dan sejarah dalam satu tampilan yang berkesan.

2. Setelan dirancang desainer asal RD Kongo

Setelan bermotif leopard itu dirancang desainer asal RD Kongo, Alvin Junior Mac, melalui merek fesyen Jmakxparis. Dalam keterangannya yang dikutip The Chosun Daily, Alvin menjelaskan, desain tersebut merupakan penghormatan terhadap budaya La Sape serta tim Zaire yang pertama kali membawa negara itu tampil pada putaran final Piala Dunia. La Sape merupakan budaya berpakaian elegan yang berkembang di RD Kongo dan Republik Kongo.

Budaya ini menjadikan fesyen sebagai bentuk ekspresi diri, kebanggaan, dan identitas sosial. Menurut Alvin, desain tersebut dipersembahkan bagi generasi muda RD Kongo yang bangga membawa warna negaranya sekaligus berani mengejar mimpi besar. Baginya, elegansi bukan sekadar soal pakaian, melainkan cara menghormati sejarah dan menunjukkan identitas kepada dunia.

3. Menebus kenangan pahit di Piala Dunia 1974

Piala Dunia 2026 menjadi momen yang sangat spesial bagi RD Kongo. Terakhir kali negara tersebut tampil di ajang ini adalah di Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, ketika masih menggunakan nama Zaire. Saat itu, Zaire tergabung bersama Brasil, Skotlandia, dan Yugoslavia. Mereka gagal meraih poin karena menelan tiga kekalahan beruntun. Bahkan, Zaire tidak mencetak gol dengan malah kebobolan 14 kali.

Penampilan tersebut juga dikenang karena sejumlah peristiwa kontroversial. Salah satunya terjadi ketika penyerang, Ndaye Mulamba, menerima kartu merah akibat kesalahan identifikasi pemain dalam laga melawan Yugoslavia. Peristiwa lain melibatkan bek, Mwepu Ilunga, saat menghadapi Brasil. Ia berlari keluar dari pagar betis dan menendang bola sebelum tendangan bebas lawan dieksekusi.

Aksi yang sempat menjadi bahan olok-olok itu belakangan dijelaskan Ilunga sebagai bentuk protes karena skuad belum menerima bonus yang dijanjikan pemerintah. Meski meninggalkan kenangan pahit, keikutsertaan Zaire pada 1974 tetap menjadi tonggak penting karena menjadikan negara tersebut salah satu pelopor Afrika pada putaran final Piala Dunia. Lebih dari 5 dekade kemudian, RD Kongo akhirnya kembali ke panggung dunia lewat generasi pemain yang berbeda dan tekad menorehkan cerita yang lebih membanggakan.

4. RD Kongo mampu menembus 32 besar sampai kalah dari Inggris

Comeback RD Kongo ke Piala Dunia 2026 tidak berhenti sebagai kisah emosional semata. Di atas lapangan, Les Leopards menunjukkan perkembangan dibanding penampilan perdana mereka di Piala Dunia 1974. Mereka mengawali fase grup dengan hasil imbang 1-1 melawan Portugal berkat sundulan Yoane Wissa pada 18 Juni 2026. Namun, pada laga kedua, RD Kongo harus mengakui keunggulan Kolombia setelah kalah 0-1 akibat gol tunggal Daniel Munoz di Stadion Guadalajara, Meksiko, pada 24 Juni 2026.

RD Kongo bangkit pada pertandingan terakhir dengan mengalahkan Uzbekistan 3-1 di Stadion Atlanta, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, pada 28 Juni 2026. Sempat tertinggal lebih dulu, Les Leopards membalikkan keadaan lewat gol penalti Yoane Wissa dan gol Fiston Mayele sebelum memastikan kemenangan. Hasil tersebut mengantarkan RD Kongo finis di peringkat ketiga Grup K sekaligus lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.

Pada babak 32 besar, RD Kongo kembali menunjukkan daya juang saat menghadapi Inggris pada 1 Juli 2026 di Stadion Atlanta, Amerika Serikat. Les Leopards sempat unggul lebih dulu, tetapi Inggris mampu membalikkan keadaan dan menang 2-1. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri perjalanan RD Kongo di Piala Dunia 2026.

Meski langkah mereka terhenti pada babak 32 besar, penampilan RD Kongo tetap menuai banyak apresiasi. Selain menunjukkan perkembangan dibanding keikutsertaan pertama mereka pada 1974, mereka juga berhasil memperkenalkan identitas budaya RD Kongo kepada jutaan penonton di seluruh dunia. Setelan bermotif macan yang dikenakan saat tiba di Amerika Serikat pun menjadi salah satu penampilan paling ikonis sepanjang Piala Dunia 2026. Busana tersebut membuktikan, sebuah tim dapat dikenang bukan hanya karena hasil di lapangan, melainkan juga karena cara mereka merayakan sejarah, budaya, dan jati diri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article