Comeback RD Kongo ke Piala Dunia 2026 tidak berhenti sebagai kisah emosional semata. Di atas lapangan, Les Leopards menunjukkan perkembangan dibanding penampilan perdana mereka di Piala Dunia 1974. Mereka mengawali fase grup dengan hasil imbang 1-1 melawan Portugal berkat sundulan Yoane Wissa pada 18 Juni 2026. Namun, pada laga kedua, RD Kongo harus mengakui keunggulan Kolombia setelah kalah 0-1 akibat gol tunggal Daniel Munoz di Stadion Guadalajara, Meksiko, pada 24 Juni 2026.
RD Kongo bangkit pada pertandingan terakhir dengan mengalahkan Uzbekistan 3-1 di Stadion Atlanta, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, pada 28 Juni 2026. Sempat tertinggal lebih dulu, Les Leopards membalikkan keadaan lewat gol penalti Yoane Wissa dan gol Fiston Mayele sebelum memastikan kemenangan. Hasil tersebut mengantarkan RD Kongo finis di peringkat ketiga Grup K sekaligus lolos ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Pada babak 32 besar, RD Kongo kembali menunjukkan daya juang saat menghadapi Inggris pada 1 Juli 2026 di Stadion Atlanta, Amerika Serikat. Les Leopards sempat unggul lebih dulu, tetapi Inggris mampu membalikkan keadaan dan menang 2-1. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri perjalanan RD Kongo di Piala Dunia 2026.
Meski langkah mereka terhenti pada babak 32 besar, penampilan RD Kongo tetap menuai banyak apresiasi. Selain menunjukkan perkembangan dibanding keikutsertaan pertama mereka pada 1974, mereka juga berhasil memperkenalkan identitas budaya RD Kongo kepada jutaan penonton di seluruh dunia. Setelan bermotif macan yang dikenakan saat tiba di Amerika Serikat pun menjadi salah satu penampilan paling ikonis sepanjang Piala Dunia 2026. Busana tersebut membuktikan, sebuah tim dapat dikenang bukan hanya karena hasil di lapangan, melainkan juga karena cara mereka merayakan sejarah, budaya, dan jati diri.