Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengulik Tradisi Balon Pisang Suporter Manchester City
Etihad Stadium, markas Manchester City (Pexels.com/Yoohaina Edwards)
  • Tradisi balon pisang suporter Manchester City dimulai pada 1980-an sebagai dukungan untuk Imre Varadi, yang dijuluki “Imre Banana”, sekaligus menghadirkan suasana stadion lebih ceria.
  • Pada 2026, tradisi itu dihidupkan kembali setelah Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan pelanggaran regulasi keuangan Premier League.
  • Balon pisang menjadi simbol humor dan pengingat bahwa Manchester City telah eksis sebelum akuisisi 2008, di tengah proses banding serta potensi konsekuensi bagi klub.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada pemandangan menarik pada pertandingan lanjutan English Premier League (EPL) 2026/2027 antara Liverpool dan Manchester City. Keberadaan balon pisang di tribun fans Manchester City maksudnya. Sebuah keputusan absurd yang ternyata bisa dibedah lebih dalam.

Tak hanya sejarah yang berkaitan langsung dengan klub, tetapi juga fenomena kultural di baliknya. Apa itu? Mengapa fans Manchester City punya tradisi membawa balon pisang ke tribun penonton?

1. Fans Manchester City punya tradisi membawa balon pisang ke stadion sejak 1980-an

Keputusan suporter Manchester City membawa balon pisang ternyata bukan keputusan acak. Fenomena kultural ini pertama kali terjadi pada dekade 1980-an. Saat itu, Manchester City punya pemain bernama Imre Varadi yang dikenal prolifik mencetak gol sepanjang kariernya bersama klub tersebut. Pemain keturunan Italia-Hungaria itu kemudian dijuluki “Imre Banana” oleh suporter. Seorang penggemar kemudian memulai tradisi membawa balon pisang ke stadion sebagai tanda dukungan, sekaligus hiburan.

Saat itu, sepak bola Inggris masih identik dengan hooliganism yang lekat dengan kekerasan dan maskulinitas toksik. Keberadaan balon pisang berwarna cerah dinilai mendobrak citra suram tersebut dan menciptakan kesan baru yang lebih ceria. Stadion sepak bola pun ternyata bisa jadi venue yang ramah keluarga.

2. Pada 2026, mereka menghidupkan tradisi itu sebagai bentuk protes

Lantas, mengapa mereka memilih tahun 2026 untuk menghidupkan lagi tradisi tersebut? Ini ternyata berkaitan dengan keputusan pengadilan yang menyatakan klub kesayangan mereka terbukti melakukan pelanggaran regulasi keuangan English Premier League. Tak tanggung, dari 115 dakwaan, mereka dinyatakan bersalah atas 114 di antaranya. Ini termasuk penggelembungan data pendapatan dan pemalsuan kontrak kerja sama. Pelanggaran-pelanggaran tersebut terjadi selama 9 musim, yakni sejak 2009/2010 sampai 2017/2018. Sejauh ini, belum ada sanksi yang dijatuhkan kepada Manchester City. Klub akan mengajukan banding dan prosesnya mungkin akan berlangsung beberapa waktu ke depan. Namun, tak dapat dimungkiri konsekuensi yang harus ditanggung klub cukup besar. Tidak hanya denda, tetapi bisa juga pembatalan gelar juara sampai relegasi ke liga kasta bawah.

Lantas, apa hubungannya dengan balon pisang? Bila dirunut, awal mula pelanggaran tersebut terjadi setelah Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan melalui Abu Dhabi United Group membeli Manchester City pada 2008. Balon pisang diharapkan fans bisa mengingatkan orang bahwa klub mereka sudah eksis jauh sebelum si Sheikh mengakuisisi klub yang dahulu lekat dengan kelas pekerja kota Manchester itu.

3. Suporter Manchester City, pisang dan budaya pop

Tentunya, sebagai fans, mereka berharap klub bisa mengatasi masalah tersebut dan dapat hasil terbaik. Pisang jadi semacam simbol perlawanan yang mild dan sarat humor ketimbang serius. Seolah mereka tahu kalau penggemar tak bisa berbuat banyak dalam isu ini. Pisang sendiri sudah sering menghiasi industri seni dan media.

Pada 2019 misalnya, seniman Italia bernama Maurizio Cattelan pernah membuat eksibisi bertajuk Comedian yang sebenarnya sangat sederhana, tetapi justru jadi sensasi dan laku dalam pelelangan. Eksibisi seninya hanya berupa pisang yang ditempel ke dinding menggunakan solatip abu-abu. Sangat ganjil, aneh, tetapi juga bikin pengunjung pameran tertawa. Kritikus dan pengunjung punya banyak teori soal instalasi seni Cattelan, seperti kritik terhadap konsumerisme sampai parodi atau satire atas pasar seni yang kadang memang tak masuk akal itu.

Seperti Cattelan, suporter Manchester City mungkin juga hanya ingin berbagi tawa. Kontras memang dengan apa yang menghadang klub kesayangan mereka, tetapi mereka memilih untuk tak ambil pusing dan tetap ceria. Lagipula, sepanjang sejarahnya, Manchester City sudah pernah menghadapi segala masalah, termasuk relegasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article