12 Pelatih Manchester United Sebelum Michael Carrick

- Sir Alex Ferguson mengubah MU menjadi kekuatan dominan dengan 38 trofi, termasuk 13 Premier League dan 2 Liga Champions.
- David Moyes kesulitan mengelola skuad dalam masa transisi usia, hanya memenangkan Community Shield sebelum dipecat.
- Ryan Giggs membawa energi baru sebagai pelatih interim dengan sepak bola menyerang yang cepat dan dinamis.
Manchester United merupakan klub yang masih patut diperhitungkan dalam persaingan di sepak bola Inggris ataupun di kancah Eropa. Klub berjuluk Setan Merah ini memiliki sejarah panjang dan prestasi yang mentereng pada masanya. Sejak kepergian Sir Alex Ferguson pada 2013, Manchester United memasuki fase yang paling menantang dalam sejarah modern klub.
Michael Carrick kembali sebagai interim pada 2026, dan kali ini ia memulai dengan cara yang sangat meyakinkan. Dalam laga debutnya, MU meraih kemenangan 2–0 atas Manchester City di Old Trafford. Ini bukan hanya kemenangan derby, tetapi juga sinyal kuat bahwa Carrick mampu menghadirkan dampak instan di tengah kekacauan klub.
Carrick dianggap sebagai figur internal yang mampu membawa stabilitas dan kembali memulihkan identitas klub dalam masa-masa kritis. Berikut kami sajikan ulasan pelatih yang menangani Manchester United sebelum Michael Carrick.
Table of Content
1. Sir Alex Ferguson (1986–2013)

Sir Alex Ferguson adalah sosok yang tidak hanya mengubah Manchester United, tetapi juga wajah sepak bola Inggris modern. Ketika ia tiba pada 1986, MU adalah klub besar dengan fondasi rapuh dan prestasi yang minim dalam dua dekade terakhir. Ferguson melakukan perubahan drastis sejak hari pertama, mulai dari budaya profesional, metode latihan, struktur kepelatihan, hingga penataan ulang akademi. Tujuannya jangka panjang: membangun klub yang mampu mendominasi Inggris, bukan hanya sesekali juara.
Perjalanan Ferguson bukan tanpa tantangan. Tiga tahun awal diwarnai hasil buruk hingga ia nyaris dipecat, namun kemenangan di FA Cup 1990 menjadi titik balik era kejayaan. Setelah itu, MU berkembang menjadi kekuatan dominan, mencetak era 1990-an dan 2000-an sebagai masa emas klub. Ferguson menunjukkan keahliannya meracik tim yang berbeda di setiap generasi, mulai dari era Eric Cantona, treble winners 1999, hingga kebangkitan generasi Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney.
Puncak kejayaan Ferguson adalah 38 trofi, termasuk 13 Premier League, 2 Liga Champions, dan berbagai trofi domestik. Yang membuatnya luar biasa bukan hanya jumlah gelar, tetapi kemampuannya menjaga MU tetap kompetitif selama hampir tiga dekade, melawan berbagai perubahan era sepak bola. Ketika pensiun pada 2013, ia meninggalkan warisan besar sekaligus tantangan berat bagi siapapun penggantinya.
2. David Moyes (2013–2014)

David Moyes menjadi pilihan langsung Sir Alex Ferguson untuk meneruskan tongkat estafet. Dengan reputasi membangun Everton secara stabil, ia dipandang sebagai pelatih pekerja keras yang memiliki filosofi yang konsisten. Namun, begitu tiba di Old Trafford, Moyes mendapati ekspektasi yang jauh lebih besar dari yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ia juga harus memimpin ruang ganti yang selama puluhan tahun terbiasa dengan figur Ferguson yang sangat dominan.
Musim pertamanya berjalan jauh dari harapan. United tampil tidak konsisten, sering kalah di kandang, dan kehilangan aura dominan yang selama ini melekat. Moyes kesulitan mengelola skuad yang sedang berada dalam masa transisi usia, terutama karena kehilangan kepemimpinan dari pemain-pemain senior. Ditambah kurangnya pengalaman di klub besar, gaya bermain yang terlalu konservatif membuat MU kehilangan identitasnya.
Satu-satunya pencapaian Moyes adalah memenangkan Community Shield 2013 dengan skor 2–0 atas Wigan Athletic. Namun itu tidak cukup menyelamatkannya dari pemecatan pada April 2014, hanya 10 bulan sejak ia diangkat, menjadikannya pelatih permanen MU dengan masa jabatan tersingkat dalam sejarah klub modern. Era Moyes dianggap sebagai awal ketidakstabilan pasca-Ferguson.
3. Ryan Giggs (Interim 2014)

Ryan Giggs mengambil peran interim setelah Moyes dipecat. Sebagai pemain terlama di sejarah MU, ia memahami DNA klub lebih dari siapapun. Meski tanpa pengalaman melatih di level tertinggi, Giggs membawa energi baru dan dukungan penuh dari pemain yang menghormatinya. Keputusan MU memilih Giggs sebagai penyelamat sementara juga memberikan rasa familiar di ruang ganti.
Selama empat pertandingan, Giggs mencoba memulihkan identitas permainan MU dengan sepak bola menyerang yang cepat dan dinamis. Ia memberi kesempatan pada pemain muda dan mengembalikan kepercayaan diri tim yang hilang selama era Moyes. Kebijakannya menurunkan pemain yang haus menit bermain juga menunjukkan keberaniannya dalam mengambil keputusan meski waktu sangat terbatas.
Meski tidak meraih trofi, masa interim Giggs berakhir dengan catatan 2 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kekalahan. Yang penting bukan hasil, melainkan stabilitas yang ia ciptakan dalam waktu singkat. Era interimnya menjadi penutup bermartabat bagi musim yang penuh gejolak dan membuka jalan bagi pelatih berikutnya.
4. Louis van Gaal (2014–2016)

Louis van Gaal tiba dengan reputasi besar sebagai pelatih disiplin, visioner, dan penuh filosofi. Ia mengambil alih klub yang sedang kehilangan arah dan berusaha memberikan identitas baru melalui struktur permainan yang sangat terorganisasi. Van Gaal membawa pendekatan berbasis penguasaan bola, passing, dan kedisiplinan posisi yang ketat.
Pada musim pertamanya, ia langsung melakukan perombakan skuad besar-besaran. Beberapa pemain senior dilepas, sementara rekrutan baru didatangkan untuk menyesuaikan gaya bermainnya. Meski gaya mainnya sering dikritik membosankan, stabilitas yang hilang sejak era Ferguson mulai kembali. Van Gaal juga memberi panggung bagi pemain muda seperti Marcus Rashford dan Jesse Lingard, yang kemudian menjadi fondasi jangka panjang MU.
Puncak era Van Gaal datang ketika ia mempersembahkan FA Cup 2016, trofi pertama United setelah pensiunnya Ferguson. Namun, performa liga yang tidak konsisten, ditambah tekanan dari manajemen dan fans, membuat ia dipecat dua hari setelah kemenangan tersebut. Van Gaal pergi meninggalkan fondasi penting, meski era tersebut tidak selalu menyenangkan bagi fans.
5. José Mourinho (2016–2018)

José Mourinho dipilih untuk membawa MU kembali ke jalur juara setelah era transisi yang sulit. Dengan rekam jejak penuh trofi, ia langsung membangun tim yang kompetitif, solid dalam bertahan, dan efektif dalam menyerang. Mourinho mendatangkan pemain besar seperti Zlatan Ibrahimović dan Paul Pogba untuk membangun kekuatan baru.
Musim pertamanya merupakan salah satu yang terbaik pasca-Ferguson. United meraih tiga trofi: Community Shield 2016, EFL Cup 2017, dan Europa League 2017. Gelar Europa League mencatatkan sejarah baru, karena itu adalah satu-satunya trofi Eropa yang belum pernah dimenangkan MU sebelumnya. Mourinho juga mengembalikan rasa percaya diri klub bahwa mereka masih bisa menjadi yang terbaik.
Namun, konflik internal dengan beberapa pemain, gaya bermain yang dianggap terlalu defensif, dan hasil liga yang tidak konsisten membuat hubungan Mourinho dengan klub memburuk. Ia akhirnya dipecat pada akhir 2018, menutup era yang paling sukses tetapi juga penuh kontroversi dalam periode pasca-Ferguson.
6. Ole Gunnar Solskjær (2018–2021)

Ole Gunnar Solskjær datang sebagai interim dan langsung memikat fans dengan serangkaian kemenangan. Ia membawa kembali gaya bermain menyerang cepat, penuh transisi, dan memanfaatkan pemain muda secara maksimal. Kepercayaan diri tim meningkat pesat, hingga ia akhirnya diangkat menjadi pelatih permanen.
Era Solskjær dipenuhi momen-momen emosional, termasuk kebangkitan MU di Premier League dan penampilan luar biasa Bruno Fernandes. Ia membawa MU ke semifinal dan final beberapa kali, termasuk final Europa League 2021, tetapi selalu gagal memastikan gelar juara. Ketidakmampuannya dalam menghadirkan trofi menjadi kritik utama meskipun ada sejumlah progres signifikan.
Pada 2021, rentetan hasil buruk membuatnya dipecat. Banyak fans tetap menghormatinya sebagai legenda yang berhasil memulihkan identitas MU, meski gagal memberikan gelar. Era Solskjær dianggap gambaran paling dekat MU menuju stabilitas, tetapi kurang dalam aspek finalisasi.
7. Michael Carrick (Interim 2021)

Michael Carrick mengambil alih MU setelah pemecatan Solskjær. Meskipun hanya memimpin tiga pertandingan, ia menunjukkan kecerdasan taktik yang matang. Carrick memberi keseimbangan di lini tengah dan meminimalkan risiko permainan, sebuah pendekatan yang membuat MU tampil lebih stabil dalam waktu singkat.
Kemenangan penting atas Villarreal di Liga Champions menjadi sorotan utama. MU tampil disiplin dan berhasil melaju ke fase gugur kompetisi. Carrick juga memimpin MU meraih hasil imbang melawan Chelsea dan kemenangan lain di Premier League, menjaga tim tetap kompetitif saat menunggu pelatih berikutnya.
Meskipun mundur setelah kedatangan Ralf Rangnick, Carrick meninggalkan catatan sempurna: tidak terkalahkan. Ia dipuji sebagai pelatih cerdas yang mampu merespon krisis dengan tenang dan efektif.
8. Ralf Rangnick (Interim 2021–2022)

Ralf Rangnick datang dengan reputasi sebagai arsitek gegenpressing yang sangat dihormati di Jerman. Namun, implementasinya di MU tidak berjalan mulus. Banyak pemain kesulitan memenuhi tuntutan intensitas fisik dan kedisiplinan posisi yang menjadi ciri khas taktiknya. Hasilnya, permainan United sering terlihat tidak sinkron.
Rangnick memperkenalkan beberapa perbaikan struktural dalam transisi bertahan dan pressing, tetapi seringkali tim kehilangan kontrol pertandingan. Masalah internal, kondisi fisik pemain, dan buruknya organisasi ruang ganti memperkuat anggapan bahwa filosofi Rangnick tidak cocok untuk skuad saat itu.
Akhirnya, ia menutup masa jabatannya tanpa trofi dan hasil yang tidak memuaskan. Namun, kontribusinya dalam evaluasi internal klub menjadi salah satu fondasi penting perubahan jangka panjang MU, meski tidak terlihat secara langsung di lapangan.
9. Erik ten Hag (2022–2024)

Erik ten Hag tiba dengan reputasi membawa Ajax bermain sepak bola modern, taktis, dan disiplin. Ia langsung menerapkan aturan ketat, mengubah pola latihan, serta membangun kembali struktur permainan berdasarkan build-up rapi dan pressing agresif. Keputusannya menegakkan disiplin, termasuk menangani konflik internal dengan pemain bintang, menunjukkan otoritasnya.
Pada musim pertamanya, Ten Hag membawa MU memenangkan EFL Cup 2023, mengakhiri puasa trofi klub. MU juga kembali bermain stabil di liga dan tampil kompetitif di berbagai ajang. Musim berikutnya, ia menambah FA Cup 2024, menegaskan keberhasilannya dalam menghadirkan mental juara kembali.
Namun, musim ketiganya penuh tantangan. Cedera pemain, performa yang tidak konsisten, dan tekanan internal membuat posisinya melemah hingga ia akhirnya dipecat pada 2024. Meski demikian, era Ten Hag tetap dianggap sebagai momen kebangkitan singkat MU.
10. Ruud van Nistelrooy (Interim 2024)

Ruud van Nistelrooy kembali sebagai interim dengan membawa aura positif sebagai mantan striker ikonik. Ia segera mengembalikan intensitas serangan MU, memaksimalkan kemampuan pemain dalam situasi transisi cepat, dan memperbaiki mental pemain yang sempat goyah.
Dalam empat pertandingan, ia menunjukkan efektivitas yang luar biasa: 3 kemenangan dan 1 imbang, tanpa kekalahan. Era singkatnya memberikan stabilitas emosional dan performa di lapangan. Pemain muda juga mendapat kesempatan menunjukkan kualitas mereka, mengikuti filosofi Van Nistelrooy yang gemar memberi kepercayaan pada generasi baru.
Meski masa jabatannya singkat, pengaruhnya dirasakan karena membantu mengarahkan MU kembali ke jalur positif sebelum pelatih permanen berikutnya datang.
11. Ruben Amorim (2024–2026)

Ruben Amorim tiba dengan harapan besar setelah sukses besar di Sporting CP. Ia membawa filosofi berbasis penguasaan bola, pressing agresif, dan struktur permainan modern. Namun, Premier League terbukti jauh lebih sulit agar gaya bermainnya diterapkan secara efektif.
United tampil tidak konsisten di bawah Amorim. Ada momen ketika MU tampak berkembang, tetapi seringkali performanya kembali menurun. Kesalahan individual, kedalaman skuad, dan ketidakcocokan gaya main menjadi masalah utama. Meskipun beberapa pemain muda berkembang, hal itu tidak cukup menutupi lemahnya stabilitas performa.
Setelah serangkaian hasil buruk, Amorim dipecat pada awal 2026. Tanpa trofi dan tanpa kontribusi besar di papan klasemen, era Amorim dianggap sebagai salah satu periode paling sulit dalam proses rekonstruksi pasca-Ferguson.
12. Darren Fletcher (Interim 2026)

Darren Fletcher, mantan gelandang pekerja keras MU, mengambil peran interim setelah pemecatan Amorim. Pengalamannya sebagai direktur teknis dan kedekatannya dengan kondisi internal tim membuat Fletcher menjadi pilihan tepat untuk menenangkan ruang ganti.
Dalam masa jabatannya, Fletcher memfokuskan pada tata ulang struktur tim dan mengembalikan mental pemain. Ia menekankan disiplinnya dalam bertahan, menjaga komunikasi antar lini, dan memastikan pemain memahami tanggung jawab dasar mereka. Meski tidak banyak mengubah taktik, kehadirannya membantu menurunkan tekanan di klub.
Dengan 1 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kekalahan, Fletcher menjalankan tugasnya sebagai pereda krisis dengan cukup baik. Ia menutup masa jabatannya dengan membawa MU menuju kondisi yang lebih stabil sebelum pelatih interim berikutnya masuk.
FAQ seputar Pelatih Manchester United Sebelum Michael Carrick
| Siapa pengganti Sir Alex Ferguson setelah pensiun pada 2013? | Pengganti pertama Sir Alex Ferguson adalah David Moyes. Ia ditunjuk langsung oleh Ferguson sebagai penerus, tetapi hanya bertahan sekitar 10 bulan karena performa yang jauh dari ekspektasi. |
| Siapa pelatih Manchester United yang paling sukses setelah Sir Alex Ferguson? | Pelatih paling sukses pasca-Ferguson adalah José Mourinho, yang meraih tiga trofi: Community Shield 2016, EFL Cup 2017, dan Europa League 2017. Mourinho adalah satu-satunya pelatih MU setelah Ferguson yang memenangkan trofi Eropa. |
| Siapa pelatih Manchester United yang paling cepat dipecat setelah Ferguson? | Pelatih yang paling cepat dipecat adalah David Moyes. Ia hanya bertahan sekitar 10 bulan (2013–2014) sebelum diberhentikan akibat performa buruk di Premier League. |
| Apakah ada pelatih yang berhasil mengakhiri puasa trofi MU setelah Ferguson? | Ya. Puasa trofi MU setelah era Ferguson diakhiri oleh Erik ten Hag, yang membawa Manchester United menjuarai EFL Cup 2023, kemudian menambah FA Cup 2024. |
| Siapa pelatih Manchester United saat ini (2026)? | Pelatih Manchester United saat ini adalah Michael Carrick sebagai interim. Ia memulai debut 2026 dengan kemenangan 2–0 atas Manchester City di Old Trafford. |

















