Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Pelatih Terakhir yang Menangani Manchester City

Pep Guardiola (premierleague.com)
Pep Guardiola (premierleague.com)
Intinya sih...
  • Sven Goran-Eriksson hanya bertahan selama semusim di Manchester City dengan catatan 19 kemenangan, 11 hasil imbang, dan 15 kekalahan.
  • Mark Hughes membawa The Cityzens meraih 37 kemenangan, 15 hasil imbang, dan 25 kekalahan dalam 77 pertandingan yang dilakoninya.
  • Pep Guardiola membawa filosofi permainan penguasaan bola, pressing intens, serta taktik inovatif yang konsisten menghasilkan prestasi untuk Manchester City.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Manchester City mengalami perjalanan panjang dalam membangun identitas modernnya sebagai salah satu klub terbesar di Inggris. Transformasi ini tidak terjadi dalam satu malam, tetapi melalui proses berlapis yang melibatkan banyak pelatih dengan gaya, karakter, serta visi yang berbeda. Sejak sebelum era Abu Dhabi hingga masa keemasan di bawah Pep Guardiola, setiap pelatih memberi kontribusi yang membentuk arah klub.

Perubahan terbesar terjadi sejak awal 2000-an ketika City mulai melangkah dari klub papan tengah menjadi tim yang berambisi menembus persaingan elite Liga Inggris. Di masa itu, klub membutuhkan figur pelatih yang mampu membawa stabilitas, meningkatkan performa, hingga membantu membangun fondasi untuk era kejayaan. Perjalanan tersebut dimulai dari nama-nama seperti Sven-Göran Eriksson yang membawa stabilitas awal, dilanjutkan Mark Hughes yang menata ulang skuad, kemudian Roberto Mancini yang meraih gelar liga pertama, dan Manuel Pellegrini yang memperkuat filosofi menyerang.

Semua fondasi itu memuncak dengan kedatangan Pep Guardiola yang kemudian menjadikan Manchester City sebagai tim dominan di Inggris dan Eropa. Berikut daftar pelatih terakhir yang menangani Manchester City.

Table of Content

1. Sven Goran-Eriksson

1. Sven Goran-Eriksson

Sven Goran-Eriksson (mancity.com)
Sven Goran-Eriksson (mancity.com)

Sven-Göran Eriksson resmi menangani Manchester City pada 6 Juli 2007 setelah klub memutuskan tidak melanjutkan kerja sama dengan Stuart Pearce. Penunjukan ini menjadi sorotan karena Eriksson baru saja menuntaskan masa tugasnya sebagai pelatih Timnas Inggris dan datang dengan reputasi besar sebagai pelatih berpengalaman di level klub maupun internasional. Pada masa awal kepemimpinannya, atmosfer optimis muncul di kalangan suporter karena ia membawa pendekatan taktik yang lebih terstruktur dan modern dibanding era sebelumnya.

Dalam musim 2007 hingga 2008, Eriksson mampu menghadirkan permainan yang lebih rapi dan efektif. Manchester City memulai kompetisi dengan sangat baik dan sempat berada di posisi empat besar pada pekan awal Premier League. Beberapa pemain tampil menonjol di bawah arahannya, seperti Elano, Martin Petrov dan Micah Richards. Salah satu pencapaian paling berkesan selama masa jabatannya adalah keberhasilan City memenangkan dua laga derby melawan Manchester United pada musim tersebut, baik di kandang maupun tandang, sebuah prestasi yang sangat langka pada masa itu.

Meski performa awal cukup menjanjikan, City mengalami penurunan pada paruh kedua musim karena kedalaman skuad yang belum ideal. Meskipun begitu, Eriksson tetap mampu membawa klub finis di posisi kesembilan Premier League yang sebenarnya merupakan peningkatan signifikan dari musim sebelumnya. Dalam total 45 pertandingan yang ia pimpin, Eriksson meraih 19 kemenangan, 9 hasil imbang dan 17 kekalahan sebelum akhirnya dipecat pada 2 Juni 2008 oleh pemilik klub saat itu, Thaksin Shinawatra. Meski hanya bertahan satu musim, kontribusinya tetap dianggap sebagai bagian penting dari proses perkembangan Manchester City menuju era modern.

2. Mark Hughes

Mark Hughes (mancity.com)
Mark Hughes (mancity.com)

Mark Hughes ditunjuk sebagai pelatih Manchester City pada Juni 2008 pada masa awal kepemilikan Abu Dhabi United Group yang mulai membentuk fondasi klub menuju era modern. Dengan pengalaman sebelumnya di Blackburn Rovers, Hughes dipandang sebagai sosok yang mampu membawa stabilitas serta meningkatkan kualitas skuad. Penunjukannya terjadi pada periode krusial ketika Manchester City memulai transformasi besar-besaran, sehingga tekanan untuk membangun tim berprestasi sangat tinggi sejak hari pertama ia memimpin.

Selama masa kepemimpinannya yang berlangsung hingga Desember 2009, Hughes memberikan dampak signifikan dalam hal perekrutan pemain dan pembangunan karakter tim. Ia mendatangkan nama-nama penting seperti Vincent Kompany, Pablo Zabaleta, Nigel de Jong, Carlos Tevez dan Gareth Barry yang kemudian menjadi pilar penting dalam kesuksesan City pada tahun-tahun berikutnya. Hughes juga berhasil membawa City menunjukkan gaya bermain yang lebih agresif dan kompetitif, terutama dalam pertandingan besar. Performa City mulai meningkat dan klub lebih sering bersaing di papan tengah hingga papan atas walaupun belum sepenuhnya stabil.

Dalam 77 pertandingan resminya, Mark Hughes mencatat 36 kemenangan, 15 hasil imbang dan 26 kekalahan. Meski statistiknya cukup solid dan ia berperan besar dalam membangun fondasi era kejayaan Manchester City, manajemen klub menilai bahwa hasil musim 2009 sampai pertengahan musim 2010 tidak sesuai ekspektasi. Hughes akhirnya diberhentikan pada 19 Desember 2009 dan digantikan oleh Roberto Mancini. Walaupun tidak meraih trofi, kontribusinya tetap dianggap penting karena pondasi skuad yang ia bangun menjadi dasar keberhasilan Manchester City di era selanjutnya.

3. Roberto Mancini

Roberto Mancini (mancity.com)
Roberto Mancini (mancity.com)

Roberto Mancini resmi ditunjuk sebagai pelatih Manchester City pada Desember 2009 untuk menggantikan Mark Hughes. Kedatangannya membawa harapan besar karena Mancini memiliki rekam jejak kuat di Italia setelah sukses bersama Inter Milan dan Lazio. Ia datang pada masa ketika Manchester City baru saja memasuki fase awal proyek besar bersama kepemilikan Abu Dhabi yang sangat ambisius. Mancini diharapkan mampu mengubah City dari klub papan tengah menjadi penantang gelar dan membawa stabilitas taktik yang lebih matang dibanding era sebelumnya.

Mancini perlahan membentuk identitas permainan yang lebih terstruktur dengan pertahanan solid dan transisi cepat. Dalam masa kepemimpinannya, Manchester City mengalami perkembangan signifikan terutama dalam konsistensi di kompetisi domestik. Berkat taktik dan gaya kepemimpinannya, Mancini berhasil membawa Manchester City meraih Piala FA 2011 yang menjadi trofi besar pertama klub dalam 35 tahun. Setahun berikutnya, ia menorehkan momen paling bersejarah dalam perjalanan Manchester City ketika mengantarkan tim menjuarai Premier League 2011 sampai 2012. Gelar tersebut sangat ikonik karena ditentukan lewat gol dramatis Sergio Agüero di detik akhir yang menjadi salah satu momen paling legendaris dalam sejarah Liga Inggris.

Selama masa jabatannya sampai 2013, Mancini memimpin City dalam lebih dari 190 pertandingan dengan catatan kemenangan yang sangat kuat. Di bawah arahannya, klub mencatat lebih dari 110 kemenangan serta berkembang menjadi salah satu kekuatan utama Liga Inggris. Meskipun pada tahun terakhir performa klub menurun dan ia akhirnya diberhentikan, kontribusi Mancini tidak dapat dipisahkan dari fondasi kejayaan Manchester City modern. Ia membawa City menembus level baru dan menjadi pelatih pertama di era modern yang memberikan trofi liga, sekaligus meninggalkan warisan yang dikenal sebagai titik awal dominasi City di Inggris.

4. Manuel Pellegrini

Manuel Pellegrini (mancity.com)
Manuel Pellegrini (mancity.com)

Manuel Pellegrini resmi menjadi pelatih Manchester City pada musim 2013 hingga 2014 setelah klub berpisah dengan Roberto Mancini. Kedatangannya disambut antusias karena Pellegrini dikenal sebagai pelatih berpengalaman yang mampu menghadirkan sepak bola menyerang dan atraktif. City pada saat itu sudah menjadi kekuatan besar di Liga Inggris dan memerlukan pelatih yang bisa menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan kualitas permainan. Pellegrini membawa pendekatan yang lebih tenang, elegan, serta fokus pada permainan ofensif yang seimbang antara penguasaan bola dan efektivitas serangan.

Pada musim pertamanya, Pellegrini langsung memberikan dampak signifikan dengan membawa Manchester City tampil dominan di liga. Ia berhasil meraih gelar Premier League musim 2013 hingga 2014 dengan gaya bermain yang sangat memuaskan para pendukung karena produktivitas gol yang tinggi. Selain itu, City juga memenangkan EFL Cup di musim yang sama sehingga Pellegrini mencatat dua trofi besar dalam satu musim. Di bawah arahannya, pemain seperti Yaya Touré, Sergio Agüero, David Silva dan Vincent Kompany tampil sangat konsisten dan menjadi inti dari kesuksesan City pada periode tersebut. Performa City di kompetisi Eropa memang belum sepenuhnya maksimal, tetapi struktur permainan tim semakin matang.

Pellegrini melatih Manchester City hingga 2016 dan dalam periode tersebut ia memimpin lebih dari 160 pertandingan dengan catatan lebih dari 100 kemenangan. Ia juga kembali mempersembahkan EFL Cup musim 2015 sampai 2016 pada musim terakhirnya sebelum digantikan oleh Pep Guardiola. Meskipun performa liga sempat menurun pada tahun terakhir, Pellegrini tetap dikenang sebagai sosok yang membawa stabilitas dan permainan ofensif berkualitas tinggi. Warisan penting yang ia tinggalkan adalah fondasi permainan menyerang dan filosofi tim yang kemudian dilanjutkan serta dikembangkan lebih jauh oleh Guardiola dalam era kejayaan Manchester City berikutnya.

5. Pep Guardiola

Pep Guardiola (premierleague.com)
Pep Guardiola (premierleague.com)

Pep Guardiola bergabung dengan Manchester City pada musim 2016-2017 dengan membawa reputasi sebagai pelatih revolusioner yang telah sukses besar bersama Barcelona dan Bayern Munich. Kedatangannya menjadi titik awal era baru Manchester City yang ingin naik kelas dari klub kandidat juara menjadi kekuatan sepak bola global. Guardiola tiba dengan visi permainan berbasis penguasaan bola, struktur posisi yang sangat ketat, serta gaya menyerang modern yang membuat ekspektasi terhadapnya sangat tinggi. Dengan fondasi yang sudah dibangun oleh Roberto Mancini dan Manuel Pellegrini, Guardiola diproyeksikan sebagai sosok yang mampu menyempurnakan proyek jangka panjang City.

Pengaruh Guardiola terasa cepat ketika ia mulai membentuk identitas permainan yang dominan. Manchester City berkembang menjadi tim yang sangat agresif dalam menyerang, disiplin dalam bertahan, dan sangat kuat dalam penguasaan bola. Pada musim-musim berikutnya, City mendominasi Liga Inggris secara luar biasa dan mencetak banyak rekor, termasuk musim 2017 hingga 2018 yang menjadi salah satu musim terbaik dalam sejarah Premier League. Dalam periode itu, Guardiola berhasil mengumpulkan sejumlah gelar penting seperti Premier League, FA Cup, EFL Cup, dan Community Shield, yang menunjukkan betapa konsistennya City tampil di kompetisi domestik. Banyak pemain berkembang pesat di bawah arahannya sehingga City menjadi tim yang solid di setiap lini.

Puncak pencapaian Guardiola datang ketika ia berhasil membawa Manchester City meraih gelar UEFA Champions League pada 2023 yang kemudian disusul dengan kemenangan di UEFA Super Cup dan Piala Dunia Antarklub. Dengan total 17 trofi yang berhasil ia raih hingga tahun 2026, Guardiola menjadi pelatih tersukses dalam sejarah Manchester City dan salah satu pelatih paling berprestasi di sepak bola modern. Tidak hanya sekadar memenangkan banyak gelar, Guardiola membangun identitas permainan yang sangat kuat, menjadikan Manchester City sebagai tim yang dominan di Inggris dan Eropa, serta meninggalkan fondasi taktis yang akan memengaruhi klub dalam jangka panjang.

FAQ seputar Pelatih Terakhir yang Menangani Manchester City

Siapa pelatih Manchester City paling sukses sepanjang sejarah?

Pelatih paling sukses adalah Pep Guardiola yang meraih 17 trofi bersama City.

Siapa pelatih yang membawa Manchester City juara Premier League pertama?

Roberto Mancini, dengan gelar Premier League 2011 hingga 2012.

Siapa pelatih awal era Abu Dhabi?

Mark Hughes adalah pelatih pertama yang menangani City pada era kepemilikan Abu Dhabi.

Siapa pelatih Manchester City sebelum Guardiola?

Pelatih sebelum Guardiola adalah Manuel Pellegrini.

Apakah Sven-Göran Eriksson pernah meraih trofi di City?

Tidak, tetapi ia membawa peningkatan performa signifikan dan stabilitas sebelum era modern dimulai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Aswar Riki
EditorAswar Riki
Follow Us

Latest in Sport

See More

Jimmy Butler Cedera ACL, Siapa Penggantinya di Warriors?

21 Jan 2026, 18:14 WIBSport