Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Piala Dunia 2026: Pemain Uzbekistan dan Senegal Diperiksa Bak Kriminal
ilustrasi Piala Dunia (unsplash.com/My Profit Tutor)
  • Otoritas AS memperlakukan pemain Uzbekistan dan Senegal dengan pemeriksaan super ketat, termasuk penggunaan anjing pelacak dan metal detector di stadion serta bandara.
  • Pemeriksaan terhadap kedua tim dilakukan secara tidak biasa hingga menimbulkan kesan diskriminatif, bahkan staf sempat diperingatkan keras saat proses berlangsung.
  • Tindakan keamanan AS menuai kecaman luas dari publik yang menilai perlakuan tersebut rasis dan mencerminkan masalah lama dalam sistem imigrasi negara itu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kontroversi tak henti-hentinya menyelimuti Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Terbaru, otoritas AS memperlakukan para pemain Uzbekistan dan Senegal seperti kriminal.

Pemeriksaan super ketat diterima keduanya. Bahkan, para pemain dan staf Uzbekistan serta Senegal diperiksa oleh otoritas keamanan AS dengan menggunakan anjing pelacak.

1. Mau lawan Belanda, Uzbekistan diperiksa pakai anjing pelacak

Ketika tiba di Icahn Stadium, Selasa pagi WIB (9/6/2026), para pemain dan staf Uzbekistan diperiksa dengan prosedur di luar kebiasaan. Tubuh mereka dipindai dengan metal detector di luar stadion.

Kemudian, mereka diminta untuk menempatkan tas-tasnya di aspal dan diendus oleh anjing pelacak. Bahkan, ada staf berteriak "jangan dekati tas itu", lewat cara yang tak pantas.

2. Senegal diperlakukan seperti pengedar narkoba

Tak cuma Uzbekistan, dilansir Give Me Sport, Senegal juga mengalami perlakuan serupa. Ketika tiba di Bandara San Antonio, para pemain Senegal bahkan diperiksa di pinggir landasan.

Seluruh tubuh para pemain Senegal diperiksa oleh metal detector. Sementara, anjing pelacak dikerahkan, dan diminta mencium seluruh tas yang dibawa pemain serta staf.

3. Kecaman dan kontroversi yang panjang

Tindakan tersebut menuai kecaman dari warganet. Mereka menyoroti sikap pemerintah dan keamanan AS yang diskriminatif.

Warganet curiga, para petugas keamanan bersikap demikian terhadap tim-tim asal Afrika dan negara-negara tertentu. Ada yang mempertanyakan "apakah sikap mereka sama dengan negara-negara Barat karena berkulit putih?"

Pertanyaan itu memang cukup masuk akal karena sistem imigrasi AS yang memakan banyak korban. Iran dan Irak sudah menerima perlakuan tak enak dari sistem imigrasi AS. Ketika banyak staf Iran yang ditolak visanya, striker Irak, Aymen Hussein, sempat ditahan selama tujuh jam dan ponselnya diperiksa secara detail. Sialnya, rekan Hussein yang merupakan fotografer Timnas Irak, harus dideportasi meski mengantongi dokumen resmi.

Sementara, wasit asal Somalia, Omar Artan, gagal memimpin di Piala Dunia 2026. Penyebabnya, Artan dilarang masuk AS karena Somalia masuk dalam daftar hitam imigrasi pemerintahan Donald Trump. FIFA tak bisa membantu Artan, alhasil namanya harus dicoret dari daftar pengadil yang bertugas.

Editorial Team

Related Article