Arsenal dan Parma akhirnya bertanding di Parken Stadium pada 4 Mei 1994. Dengan ketiadaan Ian Wright serta John Jensen, George Graham memilih memadatkan lini tengah. Ia memasang lima gelandang dan membiarkan Alan Smith bermain sebagai striker tunggal. Sementara itu, satu pos bek tengah yang ditinggalkan Martin Keown diisi Steve Bould. Ia bertandem dengan sang kapten, Tony Adams. Arsenal pun bermain dengan formasi 4-5-1, keluar dari pakem utama 4-4-2.
Sementara itu, Parma yang dilatih Nevio Scala tampil dengan skema andalannya, 5-3-2. Gianfranco Zola dan Faustino Asprilla berduet di depan dengan Tomas Brolin di belakangnya. Nama terakhir langsung meneror pertahanan Arsenal. Ia menanduk crossing Antonio Benarrivo pada menit keempat. Beruntung bagi Arsenal, bola masih meninggi di atas gawang David Seaman. Dewi Fortuna kembali menaungi Arsenal pada menit 14. Kali ini, tembakan mendatar Brolin digagalkan tiang.
Enam menit setelah momen bahaya tersebut, Arsenal mendapatkan gol tunggal yang membuat mereka menjadi juara. Semua berawal dari lemparan ke dalam yang dilepaskan Lee Dixon. Setelah menerima backpass dari Smith, Dixon mengirim umpan panjang kepada Paul Merson. Kapten Parma, Lorenzo Minotti, melakukan sapuan dengan salto. Namun, Smith berhasil menguasai rebound. Ia mengontrol bola dengan dada dan menghajarnya dengan voli dari luar kotak penalti.
Arsenal menjuarai UEFA Cup Winners’ Cup 1993/1994 berkat satu momen ofensif brilian. Namun, kesuksesan ini tidak bakal terjadi tanpa penampilan impresif mereka ketika bertahan. Arsenal memiliki modal yang sama jelang final Liga Champions Eropa 2025/2026. Sebab, mereka memang dikenal sebagai tim yang memukau secara defensif. Sebaliknya, Paris Saint-Germain begitu mengesankan ketika menyerang. Lantas, akankah Arsenal kembali membuat kejutan?