Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Thomas Tuchel Kritik Hydration Break di Piala Dunia 2026
Luka Modric (kiri) berduel dengan Harry Kane (kanan) di laga Grup L Piala Dunia 2026, Kamis (17/6/2026). (Photo by Richard Pelham / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
  • Thomas Tuchel mengkritik aturan hydration break di Piala Dunia 2026 karena dianggap mengganggu ritme, momentum, dan intensitas permainan saat Inggris menang atas Kroasia.
  • FIFA menerapkan jeda minum demi menjaga kesehatan pemain di cuaca panas, namun kebijakan ini memicu perdebatan antara keselamatan pemain dan kualitas pertandingan.
  • Tuchel mengakui hydration break tetap dibutuhkan demi keadilan antar tim, meski ia menilai sepak bola kehilangan alur alami dan keindahan dari permainan yang terus mengalir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pelatih Timnas Inggris Thomas Tuchel melontarkan kritik terhadap aturan hydration break yang diterapkan FIFA di Piala Dunia 2026. Setelah merasakan langsung dalam kemenangan atas Kroasia, Tuchel menilai jeda minum membuat momentum pertandingan sulit terjaga dan mengurangi intensitas permainan.

Thomas Tuchel mulai merasakan dampak aturan hydration break pada penampilan perdana Timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Dalam laga Grup L melawan Kroasia yang berakhir dengan kemenangan 4-2 untuk Inggris pada Kamis (18/6/2026), pertandingan harus terhenti sementara akibat jeda minum yang diberlakukan FIFA.

Hydration break jadi salah satu aturan yang diterapkan pada seluruh pertandingan Piala Dunia 2026. Kebijakan tersebut dibuat sebagai langkah perlindungan terhadap pemain karena turnamen berlangsung di tengah tantangan cuaca panas di sejumlah wilayah penyelenggara.

FIFA menerapkan jeda minum untuk membantu pemain menjaga kondisi fisik, mengurangi risiko dehidrasi, serta mempertahankan kualitas permainan ketika suhu pertandingan berada dalam kondisi ekstrem.

Namun, bagi Tuchel, aturan tersebut juga membawa dampak terhadap karakter permainan sepak bola. Pelatih asal Jerman itu menilai penghentian pertandingan di tengah laga dapat mengganggu ritme, momentum, dan alur strategi yang sedang dibangun sebuah tim.

1. Thomas Tuchel nilai hydration break ganggu momentum laga

Menurut Tuchel, sepak bola memiliki keindahan yang muncul dari proses membangun tekanan, menjaga intensitas, hingga menciptakan momentum selama pertandingan berlangsung.

Ketika pertandingan harus berhenti dua kali akibat hydration break, pelatih berusia 52 tahun tersebut merasa aliran permainan menjadi berbeda. Laga yang seharusnya berjalan dalam dua babak terasa seperti terbagi menjadi beberapa bagian kecil.

"Sebagai pelatih, saya suka memiliki pengaruh dan menyatukan tim. Tetapi secara keseluruhan, saya lebih menyukai sepak bola ketika dimainkan dalam satu babak penuh," ujar Tuchel, dikutip Independent.

Menurutnya, momentum merupakan bagian penting dalam pertandingan sepak bola. Sebuah tim membutuhkan waktu menemukan ritme permainan, meningkatkan tekanan, dan mempertahankan dominasi.

"Itu membangun momentum, itu bagian dari permainan. Sulit untuk membangun momentum dan sulit untuk mempertahankan momentum. Ini adalah pertarungan di lapangan antara para pemain yang berlangsung dalam waktu yang lebih lama," kata Tuchel.

Bagi eks pelatih Chelsea dan Bayern Muenchen tersebut, jeda tambahan dapat mengurangi intensitas karena pemain harus kembali membangun fokus setelah pertandingan dihentikan.

2. Aturan hydration break FIFA di Piala Dunia 2026 jadi perdebatan

Kritik Thomas Tuchel terhadap hydration break membuka kembali perdebatan mengenai keseimbangan antara keselamatan pemain dan kualitas pertandingan.

Di satu sisi, aturan hydration break dianggap penting untuk menghadapi kondisi cuaca panas. Sepak bola modern semakin memperhatikan aspek kesehatan pemain, terutama dalam turnamen besar dengan jadwal pertandingan yang padat.

Namun di sisi lain, sebagian pelatih menilai penghentian pertandingan terlalu sering dapat mengubah dinamika laga. Momentum yang sudah tercipta di lapangan bisa hilang ketika permainan harus berhenti secara berkala.

Tuchel termasuk pelatih yang berada di posisi tersebut. Ia memahami alasan FIFA menerapkan hydration break, tetapi tetap merasa sepak bola kehilangan sebagian karakter alaminya ketika ritme pertandingan terlalu sering terputus.

Menurutnya, keindahan sepak bola lahir dari duel panjang antarpemain, tekanan yang terus berkembang, serta kemampuan sebuah tim menjaga momentum selama pertandingan.

3. Thomas Tuchel akui hydration break tetap dibutuhkan demi keadilan

Meski memberikan kritik, Tuchel tak sepenuhnya menolak aturan hydration break di Piala Dunia 2026.

Ia mengakui keputusan FIFA memiliki alasan yang kuat, terutama karena seluruh tim mendapatkan perlakuan yang sama. Dengan hydration break diterapkan di semua pertandingan, tidak ada tim yang mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan lawannya.

"Dari sisi keadilan, tentu saja masuk akal jika semua orang mendapatkannya," beber Tuchel.

Pernyataan Tuchel menunjukkan adanya dilema dalam sepak bola modern. Perlindungan terhadap pemain menjadi prioritas utama, tetapi menjaga keindahan dan ritme pertandingan juga tetap menjadi perhatian.

Piala Dunia 2026 pun tidak hanya menghadirkan persaingan antarnegara, tetapi juga menjadi panggung bagi berbagai perubahan aturan sepak bola. Hydration break menjadi salah satu inovasi yang kini diuji dalam turnamen terbesar dunia.

Bagi Thomas Tuchel, sepak bola terbaik tetap membutuhkan aliran permainan yang panjang, pertarungan fisik, serta momentum yang terbentuk secara alami selama 90 menit pertandingan.

Editorial Team

Related Article