Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
logo ASUS dan realme
logo ASUS (atas) (commons.wikimedia.org/Vitalino Pimenta) | logo realme (bawah) (c.realme.com)

Intinya sih...

  • ASUS vakum dari pasar smartphone sepanjang 2026 setelah tidak merilis produk baru, menimbulkan spekulasi tentang keberlanjutan bisnisnya.

  • realme kembali berada di bawah OPPO setelah periode independensinya, tetapi tetap melanjutkan peluncuran produk sesuai jadwal.

  • Keputusan ASUS dan realme merupakan respons terhadap tekanan persaingan dan strategi efisiensi dalam industri smartphone yang sudah jenuh.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Belum genap satu bulan memasuki 2026, industri smartphone sudah diwarnai dinamika yang terbilang tidak lazim. ASUS dan realme mengambil strategi yang sama-sama mengejutkan. ASUS dipastikan tidak akan merilis model smartphone baru sepanjang 2026. Keputusan ini mencuri perhatian karena ASUS selama ini dikenal lewat seri Zenfone dan ROG Phone yang basis penggemar tersendiri di kalangan pengguna Android.

Di sisi lain, realme kembali berstatus sebagai submerek di bawah OPPO. Padahal, sebelumnya realme berhasil mencatat pertumbuhan yang sangat pesat sehingga menempatkan dirinya sebagai salah satu merek smartphone yang ekspansinya paling agresif di pasar global. Mengutip Gizmologi dan situs resminya, realme telah mencapai tonggak penting karena berhasil melampaui 300 juta pengguna di seluruh dunia, menurut data dari Counterpoint Research.

Angka ini mencerminkan pertumbuhan yang luar biasa bagi realme, yang berhasil melipatgandakan jumlah penggunanya dari 100 juta pada 2021 menjadi 300 juta hanya dalam waktu empat tahun hingga 2025. Adanya ASUS pamit dan realme pulang ke OPPO ini membuat publik bertanya-tanya. Apa dampaknya bagi ekosistem industri smartphone di masa depan? Simak pembahasan lengkapnya berikut ini!

1. ASUS "pamit" dan vakum sementara waktu dari pasar smartphone pada 2026

ASUS ROG Phone 9 (rog.asus.com)

Isu mengenai "pamit"-nya ASUS dari pasar smartphone mencuat setelah sejumlah distributor di Taiwan mengaku tidak lagi dapat memperoleh smartphone melalui agen lokal. Mengutip Digitimes, informasi yang beredar menyebutkan bahwa unit bisnis smartphone ASUS hanya akan beroperasi hingga 31 Desember 2025. Setelah itu, perusahaan tidak lagi meluncurkan produk baru. Situasi ini memunculkan spekulasi bahwa ASUS tengah bersiap meninggalkan pasar smartphone secara bertahap. Terlebih, ketiadaan sinyal produk baru untuk 2026 memperkuat kesan adanya jeda strategis yang signifikan.

Menanggapi kabar tersebut, ASUS menegaskan bahwa operasional bisnis smartphone mereka tidak dihentikan sepenuhnya. Layanan purna jual tetap berjalan normal. Berdasarkan laporan GSMArena, ASUS memastikan pemeliharaan perangkat, pembaruan perangkat lunak, dan layanan garansi bagi seluruh pengguna tidak akan terdampak. Meski begitu, ASUS juga mengakui bahwa mereka tidak memiliki rencana memperkenalkan model smartphone baru sepanjang 2026. Seperti halnya, ASUS Zenfone 13 Ultra dan ASUS ROG Phone 10 yang idealnya rilis tahun ini.

2. realme kembali berada di bawah payung OPPO

realme GT 8 Pro (realme.com)

Di saat ASUS memilih menahan laju bisnis smartphone-nya, realme justru kembali berada di bawah payung OPPO. Informasi ini pertama dilaporkan oleh media teknologi asal China, Leifeng.com, yang mengutip sumber internal OPPO. Dalam struktur baru ini, realme akan kembali beroperasi sebagai submerek OPPO sekaligus mengakhiri periode independensinya yang dimulai sejak 2018.

Pendiri sekaligus CEO realme, Sky Li, tetap memimpin realme sebagai submerek di bawah manajemen OPPO. OPPO akan bertindak sebagai merek utama, sementara realme dan OnePlus menjadi submerek komplementer dengan strategi pemasaran masing-masing. Integrasi ini mencakup sistem layanan purna jual OPPO yang memiliki lebih dari 5.000 gerai fisik di China. Meski terjadi perubahan struktur organisasi, realme menegaskan bahwa seluruh peluncuran produk yang telah direncanakan akan tetap berjalan sesuai jadwal.

realme memang bukanlah merek baru yang ujug-ujug muncul begitu saja. Jejaknya sudah terlihat jauh sebelum nama realme resmi digunakan. Pada 2010, OPPO sempat merilis smartphone bernama OPPO Real di China, meski pada saat itu realme belum berdiri sebagai merek terpisah dan masih sepenuhnya berada di bawah naungan OPPO. Baru pada 2018, realme resmi lahir sebagai entitas mandiri, seiring perubahan strategi OPPO untuk menjangkau pasar smartphone dan segmen anak muda. Didirikan pada 4 Mei 2018 oleh Sky Li (Li Bingzhong), mantan Vice President OPPO, realme pada fase awal tetap berstatus sebagai anak perusahaan atau submerek OPPO, yang sama-sama berada di bawah grup BBK Electronics bersama Vivo dan OnePlus.

3. Apa yang mendorong keputusan ASUS dan realme mengambil strategi tersebut?

realme 11 Pro warna Sunrise Beige (realme.com)

Keputusan ASUS tidak bisa dilepaskan dari tantangan jangka panjang yang dihadapi oleh merek-merek berbasis PC di pasar smartphone global. Sejak memasuki ranah smartphone pada awal 2000-an, ASUS sempat meraih popularitas melalui seri ZenFone, terutama di kawasan Asia Tenggara, berkat kombinasi harga yang kompetitif dan fitur menarik. Namun, tekanan persaingan dari produsen China yang mengandalkan strategi harga agresif dan skala produksi besar secara bertahap mulai menggerus pangsa pasar ASUS.

Pada 2018, ASUS melakukan penyesuaian strategis besar pada bisnis smartphone-nya, yang termasuk pencatatan biaya sekali pakai lebih dari 62 miliar dolar Taiwan (33 triliun rupiah) terkait operasi handset pada kuartal keempat. Beban ini berdampak signifikan pada pendapatan tahunan perusahaan, yang jatuh ke level terendah sejak 2009. Sebagai bagian dari strategi restrukturisasi, ASUS kemudian mempersempit fokus bisnisnya dengan memangkas lini produk smartphone secara signifikan. Hal ini kemudian ASUS menekankan pada model premium ZenFone dan seri ROG Phone yang berorientasi pada kebutuhan gaming.

Sementara itu, langkah realme kembali ke OPPO lebih mencerminkan strategi efisiensi dan konsolidasi sumber daya. Setelah BBK Electronics terurai pada 2023, masing-masing merek harus menata ulang kembali struktur bisnisnya. Bagi realme, kembali ke OPPO memungkinkan optimalisasi R&D, logistik, dan layanan purna jual tanpa harus mengorbankan identitas merek. Sinergi internal menjadi cara untuk mempertahankan daya saing global di tengah pasar yang semakin kompetitif.

4. Apakah ini sebuah anomali atau lazim terjadi?

ASUS ZenFone 3 (asus.com)

Jika dibedah secara terpisah, keputusan ASUS pamit dan realme pulang ke OPPO tampak seperti dua peristiwa yang tidak biasa. Namun, langkah semacam ini sebenarnya cukup lazim dalam konteks industri smartphone yang telah memasuki fase jenuh. Banyak merek menghadapi tekanan margin, biaya produksi yang meningkat, dan permintaan pasar yang tidak lagi tumbuh agresif seperti satu dekade ke belakang. Vakumnya ASUS dari peluncuran produk baru dan konsolidasi realme ke OPPO mencerminkan respons rasional terhadap realitas tersebut.

Sejarah industri menunjukkan bahwa penyesuaian semacam ini bukan hal baru. Acer, sesama produsen PC asal Taiwan, bahkan telah keluar dari bisnis smartphone sejak 2016 sebelum kembali secara terbatas melalui lisensi merek di India. Artinya, apa yang dilakukan ASUS dan realme lebih tepat dibaca sebagai strategi bertahan ketimbang anomali. Dalam ekosistem pasar smartphone yang semakin selektif, kemampuan beradaptasi menjadi kunci sukses dalam kelanggengan sebuah merek.

Kembalinya realme ke OPPO juga sekaligus menandai penutupan satu siklus penting dalam perjalanan merek tersebut. realme memulai langkahnya sebagai submerek, kemudian berkembang pesat sebagai entitas independen, lalu memilih kembali ke induknya. Ke depan, realme akan ditempatkan sebagai submerek strategis OPPO sekaligus berdampingan bersama OnePlus. Hal ini mengikuti pola yang mirip dengan strategi Xiaomi yang mengelola REDMI dan POCO.

Pada akhirnya, langkah ASUS yang memilih vakum sementara dan realme yang kembali ke payung OPPO menunjukkan bahwa industri smartphone tengah berada dalam fase konsolidasi yang serius. Keputusan untuk memperlambat langkah atau memperkuat sinergi internal menjadi strategi yang masuk akal. Bagi konsumen, perubahan ini mungkin terasa sebagai kejutan. Namun, bagi industri, ini adalah bagian dari siklus penyesuaian yang tak terhindarkan. Ke depan, arah pasar smartphone akan semakin ditentukan oleh ketahanan strategi, bukan sekadar banyaknya produk yang diluncurkan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team