Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
20260120_132650.jpg
Pelatihan Literasi AI Inklusif ICT Watch Bersama Meta (dok. ICT Watch)

Intinya sih...

  • ICT Watch dan Meta Indonesia gelar Pelatihan Literasi AI Ramah Disabilitas di Jakarta.

  • Pelatihan melibatkan 40 peserta penyandang disabilitas netra dan tuli dengan pendekatan berbasis komunitas.

  • ICT Watch dan Meta Indonesia meluncurkan Modul Literasi AI Inklusif untuk akses teknologi yang setara bagi semua lapisan masyarakat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Di balik kemudahan Akal Imitasi (AI) yang sering kita nikmati, masih ada kelompok yang kerap tertinggal karena keterbatasan akses untuk menikmatinya. Berangkat dari kegelisahan itu, ICT Watch bersama Meta Indonesia mengambil langkah konkret dengan menggelar Pelatihan Literasi AI Ramah Disabilitas pada hari Selasa (20/01/2026) yang berlokasi di Jakarta.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ia menjadi pengingat bahwa transformasi digital yang sehat harus bersifat inklusif. Ia harus bisa memberi ruang yang setara bagi penyandang disabilitas netra dan tuli untuk memahami, memanfaatkan, dan bersuara dalam perkembangan AI yang kian menentukan arah masa depan.

Berangkat dari Komunitas

Pelatihan Literasi AI Inklusif ICT Watch Bersama Meta (dok. ICT Watch)

Pelatihan yang diselenggarakan ICT Watch bersama Meta Indonesia ini diikuti oleh 40 peserta penyandang disabilitas netra dan tuli. Menariknya, materi pelatihan tidak hanya disampaikan secara top-down, tetapi juga melibatkan pelatih dari komunitas teman netra dan teman tuli itu sendiri. Pendekatan ini membuat proses belajar terasa lebih relevan, kontekstual, dan saling memberdayakan.

ICT Watch menegaskan pentingnya akses teknologi yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat melalui penyediaan sumber daya edukasi yang inklusif. “Kami akan terus berkomitmen mendorong inklusivitas dalam program-program literasi digital, terutama di isu teknologi AI. Panduan dan modul literasi AI yang telah diterbitkan kami harap dapat digunakan seluas-luasnya terutama dalam menjangkau kelompok teman netra dan teman tuli”, ujar Indriyatno Banyumurti selaku Direktur Eksekutif ICT Watch.

Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada pemahaman dasar tentang cara kerja AI, sekaligus diajak berdiskusi mengenai prinsip penggunaan AI yang aman, etis, dan bertanggung jawab. AI tidak diposisikan sebagai teknologi yang “harus ditakuti”, melainkan sebagai alat yang bisa dimanfaatkan secara kritis dan sadar.

Model pelatihan berbasis komunitas ini menjadi pembeda utama. Alih-alih sekadar mentransfer pengetahuan, kegiatan ini membuka ruang dialog dan pengalaman bersama, sesuatu yang krusial dalam membangun literasi teknologi yang berkelanjutan.

Modul dan Panduan AI Inklusif yang Bisa Diakses Semua Pihak

Pelatihan Literasi AI Inklusif ICT Watch Bersama Meta (dok. ICT Watch)

Dalam kesempatan yang sama, ICT Watch dan Meta Indonesia turut meluncurkan dua dokumen penting, yakni Panduan Pelaksanaan Kegiatan Literasi Digital untuk Penyandang Disabilitas Netra dan Tuli serta Modul Literasi AI Inklusif. Keduanya dirancang sebagai rujukan praktis bagi siapa pun yang ingin menyelenggarakan kegiatan literasi digital yang lebih aksesibel.

Modul ini dikembangkan melalui kolaborasi dengan komunitas disabilitas, pendidik SLB, serta Komisi Nasional Disabilitas. Formatnya pun benar-benar inklusif, mulai dari easy-to-read, ramah screen reader, video BISINDO, audio narasi, hingga subtitle. Artinya, AI tidak lagi dibahas dalam bahasa teknis yang eksklusif, melainkan dengan pendekatan yang bisa dipahami lebih luas.

Keberadaan modul ini menjadi langkah penting agar literasi AI tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat direplikasi dan digunakan oleh berbagai pihak di masa depan.

AI, Inklusivitas, dan Tanggung Jawab Bersama

Pelatihan Literasi AI Inklusif ICT Watch Bersama Meta (dok. ICT Watch)

Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, menegaskan bahwa akses setara terhadap teknologi adalah fondasi utama ekosistem digital yang adil. Menurutnya, penyandang disabilitas tidak boleh hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga subjek yang memahami dan memiliki posisi tawar dalam perkembangan AI.

Senada dengan itu, Meta Indonesia menekankan pentingnya demokratisasi teknologi agar inovasi AI benar-benar relevan dan bermanfaat bagi semua lapisan masyarakat. Pelatihan ini juga mendapat apresiasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital, Komisi Nasional Disabilitas, hingga kementerian terkait lainnya.

Pesan yang dibawa cukup jelas: literasi AI bukan hanya soal bisa memakai teknologi, tetapi juga tentang kesadaran, etika, dan keberanian menuntut transparansi dari penyedia teknologi.

Dilanjutkan ke Bandung

Pelatihan Literasi AI Ramah Disabilitas ini tidak berhenti di Jakarta. ICT Watch memastikan kegiatan serupa akan dilanjutkan di Bandung pada 22 Januari 2026. Selain itu, modul dan panduan yang telah diluncurkan dapat diakses publik melalui laman s.id/aiinklusif, membuka peluang kolaborasi lintas komunitas dan institusi.

Langkah ini menunjukkan bahwa inklusivitas bukan agenda satu hari. Ia membutuhkan komitmen jangka panjang dan keterlibatan banyak pihak agar manfaat AI benar-benar dirasakan secara merata.

Editorial Team