Dulu, versi remake atau remaster dari sebuah game sering terasa seperti kesempatan kedua yang benar-benar menyempurnakan pengalaman bermain. Namun dalam beberapa dekade terakhir, ada semakin banyak game remake atau remaster yang terasa setengah hati dan kurang digarap serius, seolah hanya jadi cara cepat bagi studio untuk meraup keuntungan lagi. Padahal, pemain berharap bisa merasakan game klasik favorit mereka dengan visual yang lebih baik, gameplay yang lebih modern dan konten yang mungkin lebih banyak. Sayangnya, sejumlah game remake dan remaster malah gagal memenuhi harapan itu, baik karena bug, masalah teknis atau kualitas keseluruhan yang kalah dibanding game original-nya. Berikut daftarnya.
7 Game Remake dan Remaster yang Lebih Buruk dari Game Aslinya

1. Batman: Return to Arkham
Seri Batman: Arkham dari Rocksteady dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam game superhero. Perpaduan stealth yang menegangkan, sistem combat yang inovatif pada masanya, kehadiran deretan villain ikonik, serta elemen detektif yang menarik menciptakan standar baru untuk genre superhero. Dua game pertama di seri Batman: Arkham sempat mendapat versi remaster lewat Batman: Return to Arkham yang harusnya membawa peningkatan visual dan ketersediaan di konsol generasi baru. Sayangnya, game remaster ini berujung mengecewakan di mana frame-ratenya terkunci di 30fps dan peningkatan visualnya kurang signifikan dengan warna yang berlebihan dan tekstur yang tidak konsisten.
2. GoldenEye 007
GoldenEye 007 di Nintendo 64 merupakan salah satu game legendaris, bukan hanya karena gameplay aksi dan desain levelnya yang solid, tapi juga karena jadi game wajib ketika kumpul bersama teman. Versi remaster-nya sebenarnya memiliki potensi besar lewat visual yang lebih baik, mekanisme kontrol yang disempurnakan dan mode multiplayer online. Secara teknis, igame ini membawa peningkatan, tapi di sisi lain, ada “jiwa” dari game original-nya yang hilang di remaster-nya. Pendekatan gameplay yang terlalu mengikuti gaya game shooter modern seperti Call of Duty membuat game ini terasa kurang punya ciri khas, ditambah lagi Brosnan yang jadi Bond di game original-nya digantikan Bond versi Daniel Craig.
3. Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition
Ada harapan besar bahwa Grand Theft Auto: The Trilogy – The Definitive Edition bisa menghidupkan kembali trilogi klasik GTA dengan kualitas visual dan gameplay modern. Sayangnya, alih-alih menjadi nostalgia yang memuaskan, game remaster ini malah menciptakan kekecewaan besar. Versi PC-nya bermasalah sejak dirilis, penuh bug dan glitch, kualitas visual serta pencahayaannya turun dibanding game original-nya dan desain karakternya terlihat aneh. Banyak yang menyalahkan keputusan Rockstar dalam menyerahkan pengembangan game ini ke Grove Street Games, studio kecil yang kurang berpengalaman, sehingga hasil akhirnya jauh dari kata memuaskan.
4. Metal Gear Solid: Master Collection
Untuk merayakan ulang tahun ke-35 seri Metal Gear, Konami merilis Metal Gear Solid: Master Collection Vol. 1 yang menyajikan lima game utama di serinya, lengkap dengan berbagai bonus tambahan. Secara konsep, kompilasi ini terdengar menjanjikan, namun ketika dirilis pada 2023 hasilnya malah mengecewakan. Meski konten tambahannya menarik, kualitas teknisnya kurang memadai. Resolusi terbatas di 720p, tampilan kurang optimal di layar modern, serta berbagai masalah seperti glitch ketika loading dan subtitle yang typo. Hingga kini, versi original di konsol lawas masih dianggap sebagai cara terbaik untuk menikmatinya.
5. Assassin’s Creed: The Ezio Collection
Setelah game pertama yang cukup solid meski repetitif, Ubisoft berhasil meningkatkan segalanya lewat Assassin’s Creed II dan memperkenalkan Ezio Auditore di Italia era Renaissance. Kisah Ezio berlanjut di Brotherhood dan Revelations yang menghadirkan pengalaman bermain yang solid, pacing yang enak dan cerita berkelanjutan yang terasa utuh. Maka dari itu, perilisan Assassin’s Creed: The Ezio Collection pada 2016 sempat diharapkan bakal menyempurnakan trilogi Ezio, namun justru mengecewakan karena peningkatan visualnya minim hingga bahkan bermasalah, gameplay-nya tidak diperbarui dan frame-ratenya terkunci di 30fps.
6. Call of Duty: Modern Warfare 2
Call of Duty: Modern Warfare 2 merupakan salah satu game yang benar-benar mengubah standar genre FPS, melanjutkan cerita dari game sebelumnya dengan game engine baru, multiplayer yang lebih sempurna dan mode campaign penuh momen dramatis dan kontroversial seperti misi “No Russian”. Game ini menjadi fondasi bagi formula game COD modern. Karenanya, ketika versi remaster-nya rilis pada 2020, ekspektasi pemain pun tinggi. Sayangnya, meski mode campaign-nya diperbarui dengan baik, absennya mode multiplayer dan Spec Ops membuat game ini terasa seperti hanya setengah game original-nya.
7. Warcraft III: Reforged
Blizzard Entertainment dalam beberapa dekade terakhir memang sering tersandung berbagai masalah hukum, tapi bagi banyak pemain, kegagalan terbesar mereka justru ada di Warcraft III: Reforged. Game remaster yang rilis 2020 ini awalnya diharapkan jadi cara baru untuk menikmati perang epik Azeroth dengan visual modern dan fitur yang lebih lengkap. Kenyataannya, hasilnya jauh dari harapan. Visual yang dijanjikan tidak sesuai, UI-nya malah lebih buruk dan dipenuhi bug, crash, serta masalah koneksi online. Yang lebih parah lagi, beberapa fitur penting dari game original-nya juga hilang.
Demikian tadi ulasan mengenai beberapa game remake dan remaster yang malah lebih buruk dari game original-nya. Pernah memainkan salah satu game di atas?