Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5G Sudah Dipakai 3 Miliar Orang, tapi Apakah 6G Jadi Penerusnya?

5G Sudah Dipakai 3 Miliar Orang, tapi Apakah 6G Jadi Penerusnya?
ilustrasi 5G (pixabay.com/torstensimon)
Intinya Sih
  • Langganan 5G global mencapai 3,1 miliar pada awal 2026 dan diprediksi melonjak hingga 6,4 miliar pada 2031, dengan Asia Tenggara dan Oseania menyumbang sekitar 670 juta pengguna.
  • Layanan berbasis 5G Standalone network slicing meningkat dari 65 menjadi 84 penawaran komersial, menandakan peralihan menuju penerapan yang lebih luas di berbagai sektor industri.
  • Industri mulai fokus pada pengembangan jaringan 6G dengan standarisasi ditargetkan rampung sekitar 2028–2029 dan peluncuran komersial pertama diperkirakan terjadi pada tahun 2030.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Langganan 5G global telah melampaui angka 3 miliar pada kuartal pertama 2026. Di saat yang sama, penawaran layanan konektivitas yang terdiferensiasi berbasis 5G Standalone (5G SA) network slicing dari penyedia layanan komunikasi terus mengalami pertumbuhan, sementara trafik data uplink kini meningkat lebih cepat dibandingkan downlink di banyak jaringan.

Hal ini terungkap dalam edisi terbaru Ericsson Mobility Report (EMR) Juni 2026. Laporan EMR Juni 2026 mencakup periode yang sama seperti edisi November 2025 (2025–2031), dengan pembaruan data dan proyeksi terbaru.

Pengguna 5G mungkin meningkat hingga 81 persen

IMG_9837.jpeg
Ronni Nurmal, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia (IDN Times/Misrohatun)

Sebanyak 162 juta langganan 5G baru yang ditambahkan secara global pada kuartal pertama 2026 menjadikan total pengguna mencapai angka 3,1 miliar. Angka ini diperkirakan akan terus tumbuh pesat dan lebih dari dua kali lipat menjadi 6,4 miliar pada akhir 2031.

Sekitar 390 operator telah meluncurkan layanan 5G secara komersial, dengan lebih dari 90 di antaranya telah meluncurkan jaringan 5G Standalone. Jaringan 5G menangani 48 persen dari seluruh trafik data seluler pada akhir 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi 85 persen pada 2031.

Sejalan dengan tren global, jumlah pelanggan 5G di kawasan Asia Tenggara dan Oseania diproyeksikan tumbuh pesat hingga mencapai sekitar 670 juta pada 2031. Jumlah penawaran layanan konektivitas yang terdiferensiasi berbasis 5G SA network slicing terus meningkat pesat.

Teknologi ini memungkinkan penyedia layanan menjamin kualitas layanan untuk berbagai use case melalui penyediaan network slicing khusus. Total penawaran komersial meningkat dari 65 pada laporan EMR November 2025 menjadi 84 pada edisi Juni 2026, menunjukkan bahwa layanan ini mulai beralih dari tahap awal menuju penerapan komersial yang lebih luas.

“Bagi Indonesia, membangun jaringan yang tangguh dan siap menghadapi kebutuhan masa depan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada terciptanya ekosistem pemasok yang sehat, kompetitif dan berstandar global," kata Ronni Nurmal, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia di Jakarta, pada Selasa (23/06/2026).

Pengembangan jaringan 6G

Jaringan seluler kini tidak lagi sekadar menyediakan konektivitas, tetapi berkembang menjadi infrastruktur penting yang krusial untuk mendukung berbagai kebutuhan aplikasi. Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah layanan komersial berbasis 5G Standalone network slicing serta semakin banyaknya penyedia layanan yang mengimplementasikan 5G SA.

Berdasarkan pengukuran trafik jaringan yang dilakukan oleh Ericsson, 43 dari 55 penyedia layanan mengalami tingkat pertumbuhan uplink yang lebih tinggi dibandingkan downlink; sementara 17 dari 55 penyedia layanan mencatat pertumbuhan uplink lebih dari 1,5 kali dibandingkan downlink.

Pemodelan skenario perusahaan menunjukkan bahwa tambahan trafik dari AI dapat membuat trafik uplink meningkat hingga tiga kali lipat atau lebih pada tahun 2031 dibandingkan 2025.

Laporan ini juga mencerminkan meningkatnya fokus industri terhadap pengembangan 6G, dengan proses standarisasi yang saat ini sedang berlangsung. Teknologi ini diharapkan mampu menghadirkan konektivitas yang lebih canggih, termasuk integrasi yang lebih baik antara jaringan terestrial dan satelit, serta efisiensi energi yang lebih tinggi dengan dukungan AI.

Spesifikasi awal 6G diperkirakan akan diselesaikan pada akhir 2028 atau awal 2029, dengan peluncuran layanan komersial pertama sekitar tahun 2030. Seperti pada pengembangan 5G, adopsi awal diperkirakan akan dipimpin oleh beberapa negara maju, sebelum meluas ke wilayah lainnya

Transformasi bergantung pada jaringan

IMG_9834.jpeg
Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia (IDN Times/Misrohatun)

Terwujudnya transformasi berbasis AI akan sangat bergantung pada jaringan yang dibangun hari ini, karena jaringan tersebut akan menjadi fondasi yang mendukung berbagai aplikasi masa depan. Oleh karena itu, 5G perlu dipandang sebagai infrastruktur nasional yang strategis, yang didukung oleh kebijakan jangka panjang, koordinasi lintas sektor, serta standar keamanan berkelas dunia.

Indonesia dapat menjaga keberlanjutan layanan, mempercepat inovasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan. Ericsson berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan 5G melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Ketersediaan spektrum yang memadai dan terjangkau akan menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat transformasi digital nasional dan mewujudkan visi Indonesia Digital 2045," Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson South East Asia mengatakan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi

Related Articles

See More