Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Game RPG dengan Cerita yang Lebih Baik dari Gameplay-nya
The Witcher (dok. CD Projekt Red)
  • Artikel membahas enam game RPG yang dikenal memiliki kekuatan utama pada cerita mendalam, meski gameplay-nya dinilai kurang nyaman atau repetitif.
  • Game seperti Alpha Protocol, Suikoden II, dan Final Fantasy XIII menonjol lewat narasi emosional dan karakter kompleks, namun terkendala sistem pertarungan serta eksplorasi yang terbatas.
  • Planescape: Torment, The Witcher, dan Lost Odyssey tetap diingat karena kisah filosofis dan emosionalnya yang kuat, menjadikan cerita sebagai alasan utama pemain bertahan hingga akhir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Beberapa game RPG memiliki cerita sedalam novel, tapi ada juga yang justru menguji kesabaran karena gameplay-nya kaku, repetitif atau tidak sejalan dengan ceritanya yang ambisius. Alhasil, pemain jadi “terpaksa” terus bermain hanya demi mengetahui kelanjutan ceritanya. Meski gameplay biasanya jadi faktor utama, ada beberapa game RPG yang membuktikan bahwa mekanisme gameplay yang kurang nyaman tidak selalu merusak pengalaman bermain, selama dunia dan ceritanya sama-sama memiliki kualitas yang apik. Game apa saja itu? Berikut daftarnya.

1. Alpha Protocol

Alpha Protocol sempat gagal bersinar ketika rilis karena penuh masalah teknis, tapi seiring berjalannya waktu malah diakui sebagai salah satu game mata-mata terbaik. Game garapan Obsidian ini luar biasa lewat sistem cerita bercabang yang sangat reaktif, di mana setiap pilihan dialog membentuk kepribadian dan hubungan karakter utama, Michael Thorton, seorang agen yang dikhianati dan terjebak dalam konspirasi global. Meski ceritanya menakjubkan dan jadi daya tarik utama, sisi gameplay terutama sistem combat terbilang lemah, dengan mekanisme tembak-menembak yang buruk karena dipengaruhi elemen RPG berbasis statistik, AI yang kurang cerdas, serta aspek stealth dan minigame yang kurang memuaskan.

2. Suikoden II

Suikoden 2 menyajikan cerita politik yang epik tentang kesetiaan, pengkhianatan dan perang. Sayangnya, kekuatan ceritanya agak tereduksi oleh sistem combat berbasis giliran yang tergolong sederhana, dengan variasi aksi karakter yang terbatas. Dengan total 108 karakter “Stars of Destiny” yang bisa direkrut dan dikembangkan hubungannya, kepuasan ceritanya justru sedikit terganggu oleh mekanisme gameplay yang repetitif, termasuk random encounter yang sering memutus alur eksplorasi dan kebutuhan grinding yang sulit dihindari. Kendati demikian, kekuatan emosi di dalam ceritanya tetap cukup kuat untuk membuat pemain mengabaikan kekurangan pada gameplay-nya.

3. Final Fantasy XIII

Final Fantasy XIII dulu hadir dengan janji besar yaitu produksi kelas atas, cerita sinematik tentang takdir, pengorbanan, dan perlawanan, serta sistem combat berbasis giliran yang diharapkan tetap solid seperti game-game Final Fantasy sebelumnya. Namun sayang, hasil akhirnya jauh dari kata memuaskan. Sistem Paradigm Shift sebenarnya menarik karena mendorong pergantian peran ketika bertarung, namun di awal permainan terlalu otomatis sehingga pemain sulit memahaminya secara natural. Ditambah lagi, game ini sangat linear dan hampir tidak memberi ruang eksplorasi. Meskipun begitu, kualitas aspek sinematik, momen emosional dan perkembangan karakternya tetap menjadi alasan kuat untuk menuntaskan game ini.

4. Planetscape: Torment

Banyak yang tidak merekomendasikan Planescape: Torment karena gameplay-nya. Namun, kekuatan utama game ini justru terletak pada cerita yang luar biasa dan sering disejajarkan dengan game modern seperti Disco Elysium. Game ini mengajak pemain menjalani perjalanan filosofis tentang identitas dan rasa bersalah, melalui karakter utama yang abadi tapi kehilangan ingatan, di mana setiap kematiannya mengorbankan nyawa orang lain. Didukung oleh karakter pendamping yang unik dan kompleks, dialognya menjadi daya tarik utama yang masih relevan sampai sekarang. Sayangnya, gameplay-nya lemah di mana sistem combat-nya berantakan, kurang memuaskan dan bahkan versi Enhanced Edition pun tidak banyak memperbaiki kekurangan tersebut.

5. The Witcher

Pemain pasti paham bahwa awal perjalanan seri The Witcher tidak selalu mulus. Di balik cerita fantasi dengan pilihan moral yang kompleks dan alur bercabang, sistem combat game pertamanya sangat kaku dan repetitif. Selain mengandalkan timing, AI musuh yang kurang cerdas juga membuat pertarungan di game ini jadi lebih soal bertahan lama daripada menguji skill. Ditambah lagi, sistem inventory dan crafting yang rumit membuat pengalaman bermain jadi terasa kurang nyaman. Untungnya, game rilisan 2007 ini tetap bisa bersinar diantara game-game RPG lainnya lewat world-building yang kaya, suasana dunia yang kelam, serta konsekuensi nyata dari setiap pilihan dialog.

6. Lost Odyssey

Lost Odyssey merupakan game klasik rilisan 2008 yang menawarkan kisah emosional, terutama tentang kehidupan para makhluk abadi dan rapuhnya manusia. Sistem combat-nya berbasis giliran dengan mekanisme “ring” berbasis timing, namun terasa lambat dengan animasi berulang dan manajemen skill yang cukup melelahkan. Eksplorasi dungeon juga bertele-tele karena terlalu banyak random encounter. Meskipun begitu, game ini malah bersinar lewat sisi cerita, terutama lewat kumpulan cerita “A Thousand Years of Dreams” yang berisi puluhan kisah menyentuh tentang masa lalu sang protagonis utama, hingga di titik aspek ceritanya jauh lebih membekas dibanding gameplay-nya sendiri.

Demikian tadi ulasan sekaligus rekomendasi beberapa game RPG dengan cerita yang lebih baik dari gameplay-nya. Tertarik menyelami kisah-kisah menarik pada game-game di atas?

Curated For You

Editorial Team

Related Article