Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perusahaan yang Rekrut Karyawan lagi setelah PHK karena AI

Perusahaan yang Rekrut Karyawan lagi setelah PHK karena AI
Ford Motor Company, perusahaan otomotif dari Amerika Serikat (ford.com)
Share Article

Sejumlah perusahaan mulai mengevaluasi kembali strategi penerapan kecerdasan buatan (AI) setelah menyadari teknologi tersebut belum mampu menggantikan seluruh peran manusia. Beberapa di antaranya bahkan kembali membuka perekrutan setelah sebelumnya mengurangi tenaga kerja seiring penerapan AI. Kondisi ini terlihat di sejumlah perusahaan besar, seperti Ford, IBM, dan CBA.

Hasil survei perusahaan rekrutmen Robert Half juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Semakin banyak perusahaan memosisikan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebagai pengganti penuh tenaga kerja. Berikut ini beberapa perusahaan yang rekrut karyawan lagi setelah PHK karena AI.

1. Ford rekrut kembali ratusan insinyur berpengalaman

ilustrasi logo Ford
ilustrasi logo Ford (unsplash.com/Haberdoedas)

Ford Motor Company merekrut kembali sekitar 350 insinyur senior setelah sistem pemeriksaan kualitas berbasis AI dinilai belum mampu menjaga standar kualitas kendaraan. Para insinyur tersebut terdiri dari mantan karyawan Ford dan tenaga ahli dari perusahaan pemasok. Menurut laporan Bloomberg, Chief Operating Officer Ford, Kumar Galhotra, mengatakan perusahaan sempat terlalu bergantung pada sistem pemeriksaan kualitas otomatis.

Akibatnya, sejumlah masalah pada komponen kendaraan lolos dari proses inspeksi sebelum masuk ke jalur produksi. Situasi tersebut mendorong Ford kembali mengandalkan spesialis teknis berpengalaman untuk menemukan potensi masalah yang belum mampu dideteksi oleh AI. Mereka juga bertugas melatih insinyur muda sekaligus membantu menyempurnakan sistem AI yang digunakan perusahaan.

Hal senada disampaikan Wakil Presiden Teknik Perangkat Keras Kendaraan Ford, Charles Poon. "Kecerdasan buatan adalah alat yang fantastis, tetapi kemampuannya hanya sebaik informasi yang Anda gunakan untuk melatihnya," kata Poon, dikutip dari NDTV, Selasa (7/7/2026). Menurut Poon, Ford sempat mengira AI dapat menghasilkan produk berkualitas hanya dengan memasukkan persyaratan desain ke dalam sistem. Namun, perusahaan akhirnya menyadari bahwa pengalaman dan penilaian insinyur tetap dibutuhkan untuk menemukan masalah yang belum mampu dikenali oleh AI.

2. IBM dan CBA juga evaluasi penerapan AI

ilustrasi logo IBM
ilustrasi logo IBM (unsplash.com/Carson Masterson)

IBM (International Business Machines Corporation) juga menemukan bahwa AI belum mampu menangani seluruh kebutuhan operasional perusahaan. Sebelumnya, perusahaan memanfaatkan AI untuk menangani berbagai pekerjaan administrasi dan sumber daya manusia (SDM). AI mampu menyelesaikan sekitar 94 persen permintaan rutin karyawan, seperti pertanyaan mengenai cuti, kebijakan perusahaan, hingga administrasi dasar.

Namun, sekitar 6 persen kasus yang lebih kompleks tetap membutuhkan campur tangan manusia karena memerlukan pertimbangan, komunikasi, dan empati. Itu sebabnya, IBM tetap memperluas perekrutan, terutama untuk posisi tingkat pemula di bidang AI dan hybrid cloud sepanjang 2026. Kepala SDM IBM, Nickle Lamoreaux, mengatakan perusahaan tetap membutuhkan regenerasi talenta agar tidak kekurangan sumber daya manusia di masa depan.

Kondisi serupa juga terjadi di CBA (Commonwealth Bank of Australia). Tahun lalu, bank tersebut memangkas sekitar 45 posisi layanan pelanggan setelah meluncurkan bot suara berbasis AI. Saat itu, CBA memperkirakan teknologi tersebut dapat mengurangi volume panggilan ke layanan pelanggan sehingga kebutuhan tenaga kerja ikut berkurang. Namun, implementasinya tidak berjalan sesuai harapan.

Bot suara tersebut kesulitan menangani keluhan yang lebih kompleks sehingga banyak pelanggan tetap meminta bantuan petugas manusia. Akibatnya, volume panggilan ke layanan pelanggan justru meningkat. Kondisi tersebut mendorong CBA membatalkan sebagian kebijakan pengurangan tenaga kerja dan kembali memperkuat layanan pelanggan yang melibatkan manusia.

3. AI belum mampu menggantikan seluruh pekerjaan manusia

ilustrasi logo AI
ilustrasi logo AI (unsplash.com/Immo Wegmann)

Pengalaman Ford, IBM, dan CBA juga sejalan dengan hasil survei perusahaan rekrutmen Robert Half yang dilaporkan CNBC. Survei tersebut menunjukkan 32 persen manajer perekrutan di Amerika Serikat mengaku pernah menghapus suatu posisi karena AI, tetapi kemudian kembali merekrut karyawan untuk pekerjaan yang sama atau serupa. Temuan itu menunjukkan AI mampu meningkatkan efisiensi, terutama untuk pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang.

Namun, teknologi tersebut masih memiliki keterbatasan dalam menangani tugas yang membutuhkan pengalaman, pertimbangan, kreativitas, komunikasi, dan empati. Karena itu, semakin banyak perusahaan mulai memosisikan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebagai pengganti penuh tenaga kerja. Pengalaman Ford, IBM, dan CBA menunjukkan bahwa AI paling efektif ketika digunakan untuk mendukung pekerjaan manusia, bukan menggantikannya sepenuhnya.

Meski AI terus berkembang, perusahaan tampaknya mulai menyadari bahwa teknologi ini belum bisa menggantikan seluruh kemampuan manusia. Oleh sebab itu, ada beberapa perusahaan yang rekrut karyawan lagi setelah PHK karena AI. Setidaknya, itulah pelajaran yang terlihat dari langkah Ford, IBM, dan CBA.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You

Microsoft PHK 4.800 Karyawan, Mayoritas dari Divisi Xbox

07 Jul 2026, 11:43 WIBBusiness
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo

Related Articles

See More