Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Kegagalan Paling Legendaris yang Mengubah Arah Industri Game

anthony-LdD11HrJchc-unsplash.jpg
ilustrasi Xbox One (Unsplash/Anthony)
Intinya sih...
  • Industri game hancur pada 1983 karena popularitas komputer, namun Nintendo berhasil memutar strategi dengan NES dan Super Mario Bros.
  • Kerja sama antara Sony dan Nintendo yang gagal menghasilkan PlayStation, yang akhirnya melampaui penjualan konsol lainnya.
  • Dreamcast tidak mampu bersaing dengan PS2, Xbox 360 mengalami masalah 'Red Ring of Death', dan Xbox One menjadi contoh blunder besar Microsoft.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pemain sering kali membayangkan skenario “what if” untuk melihat betapa besarnya pengaruh sebuah keputusan terhadap arah industri game. Misalnya, Wii dari Nintendo yang bertumpu pada kontrol gerakan sebenarnya bisa saja gagal total, tapi justru sukses dan membuat kontrol gerakan jadi standar selama bertahun-tahun. Jika konsol tersebut tidak meledak, bisa jadi perkembangan sistem pelacakan gerakan yang menopang VR saat ini akan berbeda. Namun, tidak semua semanis kesuksesan Wii di mana ada cukup banyak kasus kegagalan legendaris yang mendorong industri game untuk belajar, berbenah dan pada akhirnya bergerak ke arah yang lebih baik. Berikut beberapa di antaranya.

1. Hancurnya industri game di 1983

Pasar konsol rumahan sempat runtuh pada 1983 karena berbagai faktor, termasuk semakin populernya komputer. Bahkan, produsen konsol ternama pada kala itu seperti Atari sampai membuang stok cartridge mereka ke TPA. Setelahnya, banyak yang menilai jika merilis konsol baru setelah hancurnya industri game menjadi langkah bunuh diri tapi pada 1985, Nintendo justru memutar strategi.

Famicom dibawa ke pasar Amerika Utara sebagai Nintendo Entertainment System (NES) dan dipasarkan bukan hanya sebagai konsol, melainkan “mainan”. Oleh karena itu, mereka kemudian menjejalkan aksesori seperti NES Zapper untuk game light gun dan robot R.O.B. yang digunakan di Gyromite untuk meyakinkan retailer dan pembeli. Namun senjata pamungkasnya tetap Super Mario Bros. yang membuat NES benar-benar meledak dan sekaligus mengukuhkan Mario sebagai franchise besar.

2. Kegagalan kerja sama antara Sony dan Nintendo

p-l-zhSYYVFqpFY-unsplash.jpg
ilustrasi Sony (Unsplash/P. L.)

Kesuksesan SNES yang bahkan melampaui NES membuat Nintendo sempat memikirkan cara memperpanjang umur konsolnya, mulai dari rencana menambah peripheral CD hingga opsi membuat konsol baru yang masih “sekeluarga” dengan SNES. Nintendo lalu menggandeng Sony dan mereka sempat membuat prototype konsol gabungan yang kini dikenal sebagai salah satu konsol paling langka. Perangkat ini sempat diumumkan Sony di CES 1991, tapi keesokan harinya Nintendo mengejutkan publik dengan mengumumkan kerja sama dengan Philips.

Meski prototype itu pada akhirnya tak pernah dirilis, kejadian tersebut mendorong Sony untuk membuat konsol sendiri bernama PlayStation. PS1 memang tidak langsung meledak, namun pelan-pelan naik daun sejak rilis di Jepang pada 1994 hingga Amerika Utara di 1995. Konsol itu mengungguli N64, lalu PS2 bahkan melampaui penjualan Xbox dan GameCube jika digabung dan menjadi salah satu konsol terlaris sepanjang masa. Jika kerja sama Sony dan Nintendo tidak kandas, industri game bisa saja sangat berbeda.

3. Peluncuran Dreamcast yang jauh dari harapan

Banyak faktor yang akhirnya membuat Sega mundur dari bisnis konsol. Meski sempat berjaya lewat rivalitas Sega Genesis dan SNES, penerusnya yaitu Sega Saturn langsung tersandung karena kalah pamor dari PS1 yang lebih murah dan rangkaian kegagalan seperti itu menimbulkan efek domino. Saturn memang bukan penyebab inti Dreamcast tumbang, tapi kehadiran konsol itu jelas tidak membantu. Dreamcast sendiri sebenarnya selangkah di depan ketika rilis di 1998, dengan visual yang lebih istimewa dan fitur online yang terasa keren zamannya.

Masalahnya, PS2 datang pada 2000 dengan kualitas visual yang sama menariknya plus DVD player bawaan. Itu menjadi alasan besar kenapa penjualan PS2 meledak cepat, sementara Dreamcast tidak sanggup menandinginya. Pada 2001, Sega resmi mengumumkan keluar dari pasar konsol sembari menurunkan harga Dreamcast lalu beralih fokus menjadi developer/publihser pihak ketiga dan sempat menerbitkan game eksklusif untuk platform lain seperti GameCube dan Xbox.

4. Masalah ‘Red Ring of Death’ di Xbox 360

nicholas-santoianni-3jR1zudsf08-unsplash.jpg
ilustrasi Xbox 360 (Unsplash/Nicholas Santoianni)

Agar tidak kembali tertinggal dari Sony, Microsoft menyalip dengan merilis Xbox 360 terlebih dahulu daripada PS3 pada 2005, lengkap dengan promosi besar-besaran di MTV yang dipandu Elijah Wood. Xbox 360 terlihat sangat menarik di mana deretan game launch-title tampak meyakinkan untuk konsol “full HD” pertama. namun tak lama setelah dirilis, muncul masalah ‘Red Ring of Death’, cacat desain yang membuat konsol gampang overheat hingga cincin hijau di tombol power berkedip merah.

Microsoft memang membuka layanan refund dan perbaikan, namun anggaran yang mereka keluarkan ditaksir mencapai sekitar US$ 1 miliar. Kendati demikian, Xbox 360 tetap laris manis dan menjadi konsol yang paling banyak digunakan di awal era konsol full HD. Namun, kehadiran konsol tersebut menjadi pengingat pahit bahwa buru-buru masuk ke pasar konsol bisa berujung bencana.

5. Mimpi Xbox untuk menyatukan semua bentuk hiburan di Xbox One

Xbox One sempat menjadi contoh blunder besar Microsoft. Konsol itu diposisikan sebagai pusat hiburan keluarga untuk TV, film dan game, di mana pengguna bahwa bisa menghubungkan kabel TV ke konsol dan mengontrol tayangan lewat perintah suara via Kinect. Masalahnya, mereka juga mengumumkan kebijakan yang rumit. Xbox One harus sesekali online untuk verifikasi dan harganya dibanderol US$500 yang membuat banyak pemain kecewa.

Setelah itu, giliran Sony yang memamerkan PS4 dan justru dapat respon positif karena mengumumkan hal-hal yang terasa seperti sindiran langsung ke Xbox seperti tidak ada kewajiban online selain PS+ untuk multiplayer, game fisik bisa dipinjamkan/ditukar dan harga US$400. Pada akhirnya Microsoft mundur perlahan dari visi “all-in-one” mereka di mana dukungan Kinect dihentikan, fitur TV dipangkas dan keharusan untuk sesekali verifikasi secara online dibatalkan.

Demikian tadi ulasan mengenai beberapa kasus kegagalan paling legendaris yang mengubah arah industri game. Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa selalu ada hikmah tersendiri dari setiap kegagalan yang ada.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Achmad Fatkhur Rozi
EditorAchmad Fatkhur Rozi
Follow Us

Latest in Tech

See More

5 Kegagalan Paling Legendaris yang Mengubah Arah Industri Game

17 Feb 2026, 13:10 WIBTech