Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Kejayaan Rental PlayStation Menurun sejak Era PS3?
ilustrasi main game (unsplash.com/@reganography)
  • Era PS3 membuat biaya rental meningkat karena game dan perangkat makin mahal.

  • Internet dan online multiplayer mengubah kebiasaan bermain dari rental ke rumah.

  • Warnet dan mobile gaming ikut mengurangi popularitas rental PlayStation.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Rental PlayStation (PS) pernah menjadi saksi bisu bagaimana serunya masa kecil dan remaja era 2000-an. Saat itu, rental PS menjadi tempat nongkrong, turnamen kecil, hingga pusat pertemanan anak sekolah sepulang belajar. Bisnis rental PS sempat menjamur hingga ke pelosok desa dan hampir selalu ramai pengunjung. 

Namun, memasuki era PlayStation 3 (PS3), bisnis ini mulai mengalami penurunan drastis. Jumlah rental perlahan berkurang dan kebiasaan bermain game bersama di rental tidak lagi sepopuler sebelumnya. Lantas, kenapa popularitas rental PS mulai berkurang sejak era PS3?

1. Pembajakan game dipersulit sejak era PS3

konsol PS3 (unsplash.com/@chilinik)

Pada era PlayStation 2 (PS2), game bajakan sangat mudah ditemukan dan hampir semua rental memakai DVD hasil modifikasi. Hal ini membuat biaya operasional rental jauh lebih murah karena pemilik usaha tidak perlu membeli game orisinal dengan harga mahal. Memasuki era PS3, sistem keamanan konsol mulai jauh lebih ketat dan proses jailbreak tidak semudah sebelumnya. Sony juga mulai serius memberantas pembajakan lewat firmware update dan layanan daring sehingga biaya menjalankan rental menjadi semakin besar dibanding era PS2.

2. Internet dan online game mengubah kebiasaan bermain

ilustrasi main game (unsplash.com/@nahmarsaeed)

Era PS3 menjadi masa ketika internet mulai terintegrasi kuat dalam dunia gaming konsol. Fitur online multiplayer membuat pemain bisa bermain bersama tanpa harus bertemu di satu tempat. Perubahan ini secara perlahan menggeser budaya nongkrong di rental. Jika dulu pemain harus berkumpul untuk bermain Winning Eleven atau Tekken, sekarang gamer cukup bermain dari rumah masing-masing lewat koneksi internet.

3. Biaya operasional rental semakin berat

ilustrasi main video game (unsplash.com/@sorakhan)

PS3 memiliki spesifikasi jauh lebih tinggi dibanding PS2 sehingga membutuhkan televisi beresolusi tinggi, listrik lebih besar, dan biaya perawatan lebih mahal. Harga game orisinal dan aksesori juga meningkat cukup drastis pada generasi tersebut. Sejak era PS3, pemilik rental harus mengeluarkan modal jauh lebih besar dibanding masa kejayaan PS2. Di sisi lain, jumlah pelanggan mulai menurun sehingga keuntungan bisnis rental menjadi semakin sulit dipertahankan.

4. Warnet dan mobile gaming ikut menggerus popularitas rental

ilustrasi main game (unsplash.com/@samsungmemory)

Pada akhir 2000-an hingga awal 2010-an, warnet online game mulai booming di Indonesia lewat game seperti Point Blank, Counter-Strike, dan Dota. Para gamer akhirnya lebih tertarik bermain online game kompetitif dibanding nongkrong di rental PS. Tidak lama kemudian, smartphone dan mobile gaming ikut berkembang sangat cepat. Kehadiran mobile game membuat dunia gaming jauh lebih praktis, tidak perlu pergi ke tempat rental. 

5. Budaya sosial gaming ikut berubah

ilustrasi main game (unsplash.com/@dispandu)

Rental PS dulu populer karena menjadi pengalaman sosial yang tidak bisa didapatkan saat bermain sendirian. Pengunjung rental saat itu bisa saling menonton, membuat turnamen, hingga bergantian controller bersama teman-teman. Sementara itu, budaya gaming modern cenderung lebih personal. Headset, voice chat, live streaming, dan media sosial perlahan menggantikan suasana ramai khas rental PS yang dulu sangat identik dengan era PS1 dan PS2.

Saat ini, rental PlayStation sebenarnya belum punah. Hanya saja jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu. Di banyak tempat, rental PlayStation kini bertransformasi menjadi lebih modern dengan berbagai fasilitas yang memanjakan pengunjung. Meski bisnis rental PS menurun, nostalgia terhadap era tersebut justru semakin kuat di internet.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎