Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kenapa Sony Tidak Melarang Emulator PlayStation?
potret konsol PS1 (unsplash.com/@claudiolcastro)

Emulator menjadi salah satu topik paling kontroversial dalam dunia gaming. Sebagian gamer menganggap emulator membantu melestarikan game lama, sementara sebagian lain menilai emulator identik dengan pembajakan dan merugikan perusahaan game. Nintendo merupakan pihak yang sangat sensitif terhadap kehadiran emulator hingga mereka sempat menuntut Yuzu, penyedia emulator Switch, pada 2023. 

Sikap Nintendo terhadap emulator berbeda dengan Sony. Meski sangat protektif terhadap merek PlayStation, Sony tidak mematikan keberadaan emulator secara total. Padahal, emulator PlayStation sudah ada sejak era PS1 dan terus berkembang hingga sekarang. Lantas, kenapa Sony seolah melakukan pembiaran terhadap emulator?

1. Emulator tidak selalu ilegal

potret konsol PSP (unsplash.com/@cortes)

Secara hukum, emulator sebenarnya berada di wilayah yang cukup rumit. Di banyak negara, membuat software emulator tidak otomatis melanggar hukum selama kode programnya dibuat sendiri dan tidak mencuri source code resmi perusahaan. Karena itu, Sony biasanya lebih fokus menindak distribusi BIOS ilegal atau game bajakan dibanding software emulatornya sendiri. Inilah alasan kenapa berbagai emulator PlayStation masih bisa beredar bebas di internet selama bertahun-tahun.

2. Sulit menghentikan emulator sepenuhnya

PlayStation Vita (unsplash.com/@doctype)

Emulator modern dikembangkan komunitas global yang tersebar di berbagai negara. Jika satu proyek ditutup, biasanya akan muncul proyek baru dengan tim berbeda dalam waktu singkat. Selain itu, emulator biasanya bersifat open source sehingga kode sumber dapat disalin dan dikembangkan ulang oleh komunitas lain. Ini membuat perang melawan emulator terasa hampir mustahil dilakukan sepenuhnya oleh perusahaan sebesar Sony sekalipun.

3. Emulator membantu pelestarian game lama

potret koleksi game PS2 (unsplash.com/@dmjdenise)

Sebagian besar game PlayStation lawas sudah tidak lagi dijual resmi atau sulit dimainkan di hardware modern. Emulator akhirnya menjadi cara paling praktis bagi gamer untuk tetap mengakses katalog game klasik yang mulai langka. Meski Sony tidak selalu mendukung praktik tersebut secara terbuka, keberadaan emulator secara tidak langsung membantu menjaga popularitas waralaba lama PlayStation. Selain itu, beberapa gamer muda mengenal game klasik PS1 dan PS2 justru lewat emulator.

4. Sony lebih fokus pada pembajakan komersial

stik DualShock 2 (pexels.com/@lifeofnacchi)

Sony sebenarnya tetap melakukan tindakan hukum terhadap situs bajakan besar atau pihak yang mengambil keuntungan dari distribusi ilegal game PlayStation. Fokus utama mereka biasanya pembajakan berskala besar yang dianggap merugikan bisnis secara langsung. Sementara itu, emulator dianggap hanya sebagai alat teknis. Selama tidak dipakai untuk bisnis ilegal besar atau membocorkan sistem keamanan aktif PlayStation modern, Sony cenderung tidak terlalu agresif mengejar proyek emulator kecil.

5. Sony mengadopsi konsep emulator di PS5

ilustrasi main PS5 (pexels.com/@enginakyurt)

Hal yang cukup menarik ialah Sony juga memakai teknologi emulasi dalam beberapa produk resmi mereka. Fitur backward compatibility dan layanan game klasik PlayStation 5, contohnya, pada dasarnya menjalankan game lama lewat sistem emulasi internal. Karena itu, sulit bagi perusahaan untuk sepenuhnya menyatakan emulasi sebagai sesuatu yang salah. Perbedaannya terletak pada legalitas distribusi game dan kepemilikan lisensi resmi, bukan sekadar teknologi emulator itu sendiri.

Perlu diketahui, emulator legal, seperti ePSXe dan PPSSPP, merupakan emulator konsol klasik dengan sebagian besar game yang sudah tidak lagi dijual. Ini sangat berbeda dengan Yuzu yang mengemulasi Switch, konsol yang masih aktif dengan semua judul game masih tersedia secara resmi. Sony sendiri tetap berada pada posisi unik karena harus menyeimbangkan perlindungan hak cipta dengan kenyataan bahwa emulator sudah menjadi bagian permanen dari budaya gaming modern.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

EditorYudha ‎