Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Hal yang Bisa Membuat Penyimpanan Eksternal Rusak Sebelum Waktunya

4 min read
5 Hal yang Bisa Membuat Penyimpanan Eksternal Rusak Sebelum Waktunya
ilustrasi penyimpanan eksternal (Unsplash/Samsung Memory)
  • Penggunaan SSD yang intensif, sering hampir penuh, serta dibiarkan tanpa daya terlalu lama dapat mempercepat keausan dan berisiko mengganggu retensi data.

  • HDD rentan terhadap benturan, getaran, dan pemindahan saat proses baca-tulis karena komponen mekanisnya dapat rusak, memicu bad sector, atau menyebabkan kehilangan data.

  • Mati listrik, lonjakan tegangan, kabel berkualitas buruk, dan pencabutan mendadak saat transfer data berpotensi merusak perangkat maupun file; penggunaan UPS, pelindung lonjakan, dan eject dianjurkan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Penyimpanan eksternal, baik HDD maupun SSD, menjadi perangkat penting untuk menyimpan dokumen, foto, video, game dan berbagai file berharga. Namun, sama seperti perangkat elektronik lainnya, penyimpanan eksternal juga tidak kebal terhadap kerusakan. Kebiasaan seperti mencabut kabel secara tiba-tiba, membiarkan SSD terlalu lama tidak digunakan hingga menaruh HDD di tempat yang mudah bergetar bisa memperpendek usia pemakaiannya. Oleh karena itu, memahami penyebab kerusakan penyimpanan eksternal sangatlah penting agar file-file berharga di dalamnya tetap aman dan perangkat bisa digunakan dalam waktu yang lebih lama. Berikut ulasan lengkapnya.

  1. 1. Cara menggunakan SSD yang tidak tepat

    pexels-arina-krasnikova-5951759 (1).jpg
    ilustrasi penyimpanan eksternal (Pexels/Arina Krasnikova)

    SSD memiliki batas jumlah penulisan data yang bisa dilakukan di sepanjang masa pakainya. Batas ini biasanya dinyatakan dalam satuan terabytes written atau TBW. Sebagai contoh, SSD dengan rating 80 TBW secara teori mampu menerima penulisan data hingga sekitar 80.000 GB. Jika penggunaan harian hanya beberapa GB saja, SSD tersebut artinya bisa bertahan selama bertahun-tahun. Namun, aktivitas seperti memindahkan puluhan GB setiap hari bisa mempercepat tercapainya batas tersebut. SSD juga sebaiknya tidak terus-menerus dibiarkan hampir penuh. Fitur seperti wear leveling membutuhkan ruang kosong agar proses penulisan data bisa dibagi secara merata ke berbagai sel memori. Selain itu, menyisakan ruang kosong juga bisa membantu mengurangi keausan pada sel memori tertentu.

  2. 2. Benturan dan kerusakan mekanis pada HDD

    HDD menggunakan komponen mekanis berupa piringan berputar dan head baca-tulis yang bergerak secara fisik. Struktur semacam ini membuat HDD lebih rentan terhadap benturan dibandingkan SSD. Menjatuhkan HDD, tidak membawanya dengan hati-hati atau meletakkannya di permukaan yang sering bergetar bisa merusak head maupun piringan di dalamnya. Dalam kondisi tertentu, head bisa menyentuh permukaan platter dan menyebabkan bad sector, kerusakan data atau bahkan rusak total. Getaran dari perangkat lain di sekitar HDD juga berpotensi mengganggu performanya. Maka dari itu, HDD sebaiknya diletakkan di permukaan yang stabil dan tidak dipindahkan ketika proses membaca atau menulis data masih berlangsung.

  3. 3. Mati listrik dan lonjakan tegangan

    pexels-budget-bizar-92378004-15882042.jpg
    ilustrasi penyimpanan eksternal (Pexels/Budget Bizar)

    Gangguan listrik bisa membahayakan HDD maupun SSD, meskipun dampaknya berbeda. Pada HDD, listrik yang tiba-tiba terputus ketika head sedang aktif bisa membuat komponen tersebut berhenti secara tidak normal atau menabrak piringan. Akibatnya, data bisa rusak dan HDD berpotensi mengalami kerusakan permanen. SSD tidak memiliki komponen bergerak sehingga relatif lebih tahan terhadap mati listrik, namun data yang sedang diproses tetap bisa mengalami masalah. Selain itu, tegangan yang terlalu rendah, terlalu tinggi atau lonjakan listrik juga bisa menyebabkan SSD mengalami korsleting. Pengguna yang sering mengalami pemadaman listrik di rumahnya disarankan menggunakan UPS untuk PC dan pelindung lonjakan arus listrik agar risiko kerusakan perangkat bisa dikurangi.

  4. 4. Membiarkan SSD tidak digunakan terlalu lama

    SSD bukan pilihan ideal untuk menyimpan data yang akan dibiarkan bertahun-tahun tanpa pernah dinyalakan. Data pada SSD disimpan sebagai muatan listrik di dalam sel memori NAND. Seiring berjalannya waktu, muatan tersebut bisa berkurang, terutama ketika SSD tidak mendapatkan pasokan listrik dalam waktu lama. SSD yang tidak aktif dirancang setidaknya untuk bisa mempertahankan data selama satu tahun tanpa daya, meski durasi sebenarnya bisa berbeda tergantung kondisi dan jenis SSD. Untuk kebutuhan penyimpanan data jangka panjang, HDD lebih disarankan selama disimpan di tempat yang aman. Jika masih tetap ingin menggunakan SSD, ada baiknya untuk disambungkan ke PC setiap beberapa bulan untuk memeriksa kondisi dan me-refresh data yang ada di dalamnya.

  5. 5. Menggunakan kabel murah dan sering mencabut kabel secara mendadak

    pexels-ian-panelo-4675007.jpg
    ilustrasi penyimpanan eksternal (Pexels/Ian Panelo)

    Kabel dengan kualitas yang jelek bisa terputus tiba-tiba dan membahayakan proses transfer data. Selain itu, mencabut kabel penyimpanan secara tiba-tiba ketika data sedang dipindahkan juga bisa menyebabkan data tersebut rusak. Pada HDD, head yang sedang bergerak bisa berhenti secara mendadak dan dalam kasus tertentu bisa sampai menyentuh platter. Masalah seperti itu bisa memunculkan bad sector atau membuat HDD tidak lagi bisa digunakan. Sementara pada SSD, risiko kerusakan mekanis memang tidak ada, namun data yang sedang dipindahkan tetap bisa rusak. Bahkan, file besar yang sedang ditimpa pun bisa rusak secara keseluruhan. Untuk itu, sangat disarankan untuk menggunakan kabel berkualitas dan selalu lakukan eject sebelum mencabut penyimpanan eksternal dari PC.

    Demikian tadi ulasan mengenai beberapa hal yang bisa membuat penyimpanan eksternal rusak sebelum waktunya. Semoga ulasan di atas bermanfaat ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More