ilustrasi AI, teknologi (vecteezy.com/Ilham Bahrun)
Kemampuan AI saja ternyata belum cukup untuk mengubah perekonomian secara drastis. Teknologi yang sangat canggih tetap memberikan dampak ekonomi terbatas apabila perusahaan dan pekerja gak menggunakannya secara luas. Dalam analisis Anthropic, kemampuan teknologi dan kecepatan adopsi menjadi dua faktor penting yang menentukan skenario ekonomi pada 2030.
Survei yang dilakukan bersama Morning Consult terhadap lebih dari 10.000 orang dewasa di Amerika Serikat menunjukkan ekspektasi responden secara umum berada di sekitar skenario substansial. Jawaban responden mengarah pada kemungkinan GDP sekitar 10 persen lebih tinggi pada 2030 dibandingkan dengan kondisi tanpa AI, sementara tingkat pengangguran keseluruhan berada di sekitar 5 persen. Sekitar 10 persen responden memiliki pandangan yang sejalan dengan skenario ekstrem.
Meski begitu, model tersebut memiliki keterbatasan dan bukan gambaran pasti mengenai apa yang akan terjadi. Anthropic menyebut modelnya belum memasukkan sejumlah faktor seperti respons kebijakan, siklus bisnis, perubahan permintaan secara keseluruhan, gangguan pasar keuangan, serta beberapa risiko lain. Bahkan, perusahaan tersebut mengakui hasil nyata bisa berbeda secara material dari skenario yang dibuat.
AI memang punya potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan AI bisa dongkrak ekonomi 15 persen di 2030. Meski begitu, semakin besar kemampuan AI mengambil alih tugas manusia, semakin penting pula persoalan transisi pekerjaan, upah, dan pembagian hasil pertumbuhan ekonomi.
Buat kamu yang sedang membangun karier, perkembangan ini menunjukkan pentingnya memahami bagaimana pekerjaan bisa berubah ketika AI semakin banyak digunakan. Pada akhirnya, masa depan ekonomi bukan hanya ditentukan oleh seberapa canggih AI, tetapi juga seberapa cepat teknologi tersebut diadopsi dan bagaimana manfaatnya dibagikan kepada masyarakat.