Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Apa Arti AI Slop yang Jadi Word of the Year 2025?
ilustrasi AI (pexels.com/Tara Winstead)

  • Kata slop dipilih sebagai Word of the Year 2025 oleh Merriam-Webster karena popularitasnya di internet.

  • Slop mengacu pada konten digital berkualitas rendah yang diproduksi massal menggunakan bantuan kecerdasan buatan.

  • Slop Economy lahir dari fenomena ini, dimana kreator memproduksi konten tinggi untuk meraup pendapatan iklan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Merriam-Webster menjadikan slop sebagai Word of The Year untuk 2025 karena popularitas penggunaan kata tersebut yang meroket tajam di internet. Istilah populer ini mengacu pada konten digital berkualitas rendah yang diproduksi secara massal dan cepat menggunakan bantuan kecerdasan buatan atau AI. Fenomena ini muncul bersamaan dengan pesatnya adopsi model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT serta AI pembuat gambar dan video.

Penggunaan kata slop mencerminkan kecemasan sekaligus sindiran masyarakat terhadap banjirnya konten artifisial yang tidak memiliki nilai substantif di ruang digital kita. Banyak pengguna internet kini semakin kritis dan merasa terganggu dengan materi visual maupun teks yang terasa aneh, tidak autentik, atau sekadar dibuat untuk mengejar klik semata. Yuk, pelajari lebih lanjut mengenai definisi, bentuk, statistik, hingga dampak slop dalam artikel berikut!

1. Kata slop telah ada sejak tahun 1700-an

ilustrasi kecerdasan buatan (unsplash.com/Steve Johnson)

Slop didefinisikan oleh kamus Merriam-Webster sebagai konten digital berkualitas rendah yang biasanya diproduksi dalam jumlah besar menggunakan alat AI generatif. Istilah ini secara spesifik menggambarkan materi yang dibuat tanpa kurasi manusia yang memadai serta sering kali mengandung kesalahan logika atau visual yang mengganggu. Definisi ini membedakan slop dari konten buatan manusia karena fokus utamanya adalah kuantitas produksi yang masif untuk membanjiri feed media sosial.

Kata slop sebenarnya memiliki sejarah panjang sebelum diadopsi menjadi istilah teknologi, di mana pada tahun 1700-an kata ini berarti lumpur lunak. Makna tersebut kemudian berkembang pada tahun 1800-an untuk menyebut limbah makanan atau sisa makanan cair yang biasanya diberikan kepada ternak babi. Metafora ini sekarang digunakan netizen untuk menyamakan konten AI massal dengan limbah digital yang mengotori algoritma media sosial mereka.

Penggunaan kata slop juga membawa nada ejekan atau cemoohan terhadap teknologi yang sering digembar-gemborkan sebagai entitas super cerdas tapi justru menghasilkan sampah. Kata ini digunakan untuk melabeli buku-buku di Kindle, video aneh di Facebook, hingga artikel berita palsu buatan AI. Menurut PBS, label slop kini terasa seperti simbol perlawanan budaya terhadap otomatisasi kreativitas manusia.

Pemilihan slop sebagai kata tahun ini sejalan dengan tren linguistik global yang menyoroti dampak teknologi terhadap kehidupan sosial kita. Dilansir TechCrunch, kamus Macquarie juga memilih istilah AI slop sebagai kata tahun ini. Sementara itu, Oxford memilih rage bait dan Collins memilih vibe coding yang juga berkaitan dengan ekosistem digital.

2. Dari gambar, video, musik, hingga buku

logo berbagai platform AI (unsplash.com/Solen Feyissa)

Menurut The Guardian, bentuk slop yang paling mudah dikenali sering kali berupa gambar-gambar surealis yang membingungkan tapi justru berhasil memancing interaksi pengguna media sosial. Salah satu contohnya adalah tren "Shrimp Jesus" di Facebook yang menampilkan gambar Yesus digabungkan dengan tubuh udang. Karakteristik utama konten semacam ini terletak pada visualnya yang uncanny atau terasa aneh, tidak memiliki konteks jelas, dan sering kali mengabaikan logika.

Ghiblification mungkin menjadi tren konten AI paling viral sejauh ini. Saat momen puncaknya, ribuan pengguna internet mengubah foto mereka menjadi gaya animasi Studio Ghibli menggunakan ChatGPT. Fitur ini sempat digunakan oleh tokoh-tokoh besar, termasuk CEO OpenAI Sam Altman, meskipun menuai kritik karena dianggap meniru gaya seniman tanpa izin. Selain itu, tren ini juga dikhawatirkan dapat merusak nilai artistik asli dari karya yang ditiru.

Selain gambar, slop juga merambah ke format video pendek dengan narasi yang tidak masuk akal. Pengguna YouTube dan TikTok mungkin pernah menemukan video perayaan ulang tahun wanita berusia 122 tahun atau video kisah kucing yang sepenuhnya dibuat oleh AI. Tidak hanya visual, slop juga hadir dalam bentuk teks dan audio yang membanjiri platform streaming serta toko buku digital. Misalnya, kemunculan band hantu di Spotify seperti The Velvet Sundown yang lagu-lagunya dibuat oleh AI, serta buku-buku biografi berkualitas rendah di Amazon.

3. Kelahiran Slop Economy yang menggiurkan

tampilan aplikasi iOS Sora (apps.apple.com)

Fenomena konten sampah AI ini kemudian melahirkan "Slop Economy" atau ekonomi yang mengandalkan volume konten tinggi untuk meraup pendapatan iklan. Para kreator memanfaatkan alat AI murah untuk memproduksi ribuan video atau artikel per hari dengan biaya yang sangat minim dibandingkan produksi konten manual. Tujuan utamanya bukan memberikan informasi, melainkan memanipulasi algoritma platform agar konten tersebut muncul di rekomendasi pengguna dan menghasilkan uang dari tayangan.

Statistik menunjukkan skala produksi slop yang mencengangkan, di mana sebuah studi pada Mei mencatat bahwa hampir 75 persen dari semua konten web baru melibatkan penggunaan AI. Laporan investigasi lain menemukan bahwa 9 dari 100 saluran YouTube dengan pertumbuhan tercepat pada pertengahan 2025 berisi konten slop. Angka ini menunjukkan bahwa algoritma rekomendasi saat ini masih sangat rentan dimanipulasi oleh kuantitas konten AI.

Pendapatan yang dihasilkan dari praktik ini bisa sangat menggiurkan bagi sebagian kecil kreator yang berhasil memecahkan pola algoritma. Seorang kreator slop asal Ukraina mengaku pernah mengelola 930 saluran sekaligus dan meraup pendapatan hingga 20 ribu dolar AS atau sekitar 335 juta rupiah per bulan. Namun, tingkat keberhasilannya sangat timpang, dengan estimasi hanya 1 persen kreator yang benar-benar bisa hidup layak dari membuat konten semacam ini.

Proses pembuatan slop sangat mudah diakses karena hanya membutuhkan perintah teks sederhana ke dalam model AI populer seperti ChatGPT, Gemini, atau Sora. Rendahnya hambatan masuk ini membuat siapa saja dari berbagai belahan dunia, mulai dari AS hingga India, dapat menjadi produsen konten massal. Ketersediaan alat-alat canggih ini memang mendemokratisasi pembuatan konten, tapi di sisi lain juga memfasilitasi banjir AI slop di internet.

4. Bukan hanya menjenuhkan, AI slop juga bisa berbahaya

ilustrasi dampak AI (pexels.com/Tara Winstead)

Kehadiran slop yang tidak terkendali mempersulit pengguna internet untuk menemukan informasi yang akurat dan terpercaya di tengah tumpukan sampah digital. Platform pencarian dan media sosial kini dipenuhi oleh artikel berita palsu, resep masakan yang tidak masuk akal, hingga iklan aneh. Situasi ini memaksa pengguna untuk menghabiskan lebih banyak energi untuk mencari konten buatan manusia yang berbobot.

Bahaya yang lebih serius muncul ketika slop digunakan untuk menyebarkan disinformasi politik atau propaganda di saat-saat genting. Contoh kasus terjadi saat Badai Helene di AS, di mana gambar AI gadis kecil memegang anak anjing tersebar luas dan digunakan untuk menyerang penanganan bencana pemerintahan Joe Biden. Gambar tersebut terlihat cukup realistis bagi orang awam yang melihat sekilas, sehingga memicu reaksi emosional dan kemarahan yang keliru.

Menurut The Conversation, para kreator konten asli, seniman, dan penulis manusia juga dirugikan karena karya mereka harus bersaing dengan gelombang konten otomatis. Majalah fiksi ilmiah Clarkesworld bahkan terpaksa menutup pengiriman naskah pada 2024 karena dibanjiri kiriman cerita yang dibuat oleh AI. Wikipedia pun menghadapi tantangan dalam menjaga akurasi informasinya karena relawan editor kewalahan membersihkan referensi palsu yang dihasilkan oleh AI.

Untungnya, masyarakat sudah mulai kritis terhadap konten-konten buatan AI. Platform seperti YouTube juga mulai memperketat aturan dengan menghapus konten AI yang melanggar dan mewajibkan label AI. Namun, volume produksi slop sering kali lebih cepat daripada moderasi, sehingga membutuhkan upaya lebih dari platform dan netizen untuk mempertahankan kualitas ruang internet.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team