Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Berapa Kuota yang Dibutuhkan untuk Streaming Piala Dunia 2026?
ilustrasi siaran langsung sepak bola (pexels.com/@jeshoots)
  • Piala Dunia 2026 dapat disaksikan lewat Fola Play dan MAXStream yang bekerja sama dengan TVRI, namun penonton perlu memperhatikan konsumsi kuota internet selama streaming.
  • Kualitas video sangat memengaruhi penggunaan data; streaming HD bisa menghabiskan 5–6 GB per pertandingan, sedangkan kualitas 4K mencapai hingga 16 GB.
  • Pengguna disarankan memakai Wi-Fi atau menurunkan resolusi video untuk menghemat kuota, terutama bagi yang ingin menonton banyak pertandingan sepanjang turnamen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi ajang olahraga paling banyak ditonton melalui internet. Di Indonesia, ia dapat disaksikan secara streaming lewat aplikasi berlangganan Fola Play dan MAXStream. Keduanya bekerja sama dengan TVRI selaku pemegang hak siar Piala Dunia 2026 di Tanah Air.

Di balik kemudahan tersebut, ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu konsumsi kuota internet. Apalagi, Piala Dunia 2026 akan menghadirkan 104 pertandingan. Penggunaan data dapat meningkat drastis bagi penonton yang sering menyaksikan siaran langsung.

1. Kualitas video menentukan besarnya kuota

ilustrasi siaran langsung sepak bola (pexels.com/@soumithsoman)

Besarnya kuota yang dibutuhkan sangat bergantung pada kualitas video yang digunakan saat streaming. Makin tinggi resolusi video, makin besar pula jumlah data yang harus diunduh perangkat selama pertandingan berlangsung. Sebagai gambaran umum, streaming kualitas SD biasanya menghabiskan 0,7–1 GB per jam. Sementara kualitas Full HD 1080p dapat mengonsumsi 2,5–3 GB per jam, sedangkan 4K dapat mencapai 7–8 GB per jam.

2. Satu pertandingan bisa menghabiskan banyak data

ilustrasi sepak bola (unsplash.com/@jaenix)

Pertandingan sepak bola biasanya berlangsung sekitar 2 jam jika dihitung sejak kick-off, jeda antara babak pertama dan kedua, hingga acara pascapertandingan. Dalam praktiknya, penonton biasanya menonton siaran sejak studio pembuka hingga analisis akhir pertandingan. Jika menonton dalam kualitas HD, 1 pertandingan dapat menghabiskan 5–6 GB kuota internet. Jika memilih kualitas 4K, konsumsi data untuk 1 laga bahkan bisa mencapai 14–16 GB.

3. Menonton banyak pertandingan membutuhkan kuota besar

ilustrasi nobar sepak bola (unsplash.com/@lucianooliveira)

Bagi penggemar berat sepak bola, menonton satu pertandingan tentu tidak cukup. Para penggemar biasanya mengikuti fase grup, babak gugur, hingga final sehingga total jam menonton bisa sangat tinggi. Sebagai contoh, menonton 10 pertandingan dalam kualitas HD dapat menghabiskan 50–60 GB data. Jika seluruh pertandingan ditonton dalam kualitas 4K, total konsumsi kuota menembus lebih dari 140 GB hanya untuk 10 laga.

4. WiFi menjadi pilihan paling aman

potret router WiFi (pexels.com/@userpascal)

Konsumsi data streaming olahraga memang cukup besar, sehingga sebagian pengguna memilih menggunakan jaringan WiFi rumah. Cara ini jauh lebih aman dibanding mengandalkan paket data seluler, terutama jika operator menerapkan batas kuota bulanan. Selain lebih hemat, koneksi WiFi yang stabil biasanya memberikan kualitas gambar yang lebih baik. Risiko buffering saat pertandingan penting juga dapat dikurangi jika kecepatan internet memadai.

5. Ada cara untuk menghemat kuota

ilustrasi pertandingan sepak bola (unsplash.com/@zaki_0711)

Tidak semua pertandingan harus ditonton dalam kualitas 4K. Pada layar smartphone berukuran kecil, perbedaan antara HD dan 4K tidak terlalu terlihat bagi sebagian pengguna. Menurunkan kualitas streaming ke 720p atau 1080p tentu dapat menghemat kuota. Selain itu, menonton highlight resmi setelah pertandingan selesai juga menjadi alternatif. Jadi, tidak semua pertandingan harus ditonton lewat streaming, terutama saat fase grup berlangsung. 

Kebutuhan kuota untuk menonton Piala Dunia 2026 kemungkinan akan berbeda pada tiap platform streaming karena teknologi kompresi video yang digunakan tidak selalu sama. Jika platform penyiar memiliki teknologi kompresi video tinggi seperti Netflix dan YouTube, maka penggunaan kuota bisa lebih hemat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article