ilustrasi contoh hasil AI (vecteezy.com/Oleksii Shtandarov)
Perkembangan influencer AI juga menimbulkan persoalan bagi pekerja kreatif di belakang layar. Fotografer, videografer, makeup artist, stylist, model, hingga kreator konten berpotensi terdampak apabila brand sepenuhnya beralih ke produksi berbasis AI. Visual, Audio, Creative Content Professionals Association di Singapura menilai kesempatan kerja yang adil bagi pekerja lepas tetap perlu dilindungi. Mereka juga menekankan pentingnya aturan agar penggunaan AI tidak menjadi alasan bagi perusahaan untuk mengurangi bayaran atau mengabaikan tenaga kreatif manusia.
Masalah lainnya berkaitan dengan hak cipta dan persetujuan. Menurut asosiasi tersebut, karya, suara, kemiripan wajah, maupun gaya kreator gak semestinya digunakan untuk melatih atau membuat konten AI tanpa izin dan kompensasi yang layak. Transparansi kepada audiens juga dianggap penting ketika sebuah influencer sepenuhnya dibuat menggunakan AI. Dengan aturan yang jelas, teknologi bisa dimanfaatkan untuk membantu industri kreatif tanpa mengorbankan hak dan kepercayaan manusia yang terlibat di dalamnya.
Kehadiran influencer AI memang membuat industri pemasaran digital memasuki fase baru. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas, efisiensi produksi, serta kemampuan menghasilkan visual yang semakin sulit dibedakan dari manusia. Walau influencer AI makin nyata, penelitian menunjukkan bahwa efektivitasnya sangat bergantung pada jenis produk, persepsi terhadap keaslian, tingkat kepercayaan, dan tujuan campaign.
Influencer manusia masih memiliki keunggulan dalam menghadirkan pengalaman nyata dan membangun hubungan emosional dengan komunitas. Karena itu, perkembangan influencer AI lebih tepat dilihat sebagai perubahan dalam cara brand membuat konten, bukan sekadar pertanyaan tentang apakah manusia akan sepenuhnya digantikan.