Lanskap keamanan siber di Indonesia terus menunjukkan peningkatan, baik dari sisi volume maupun kompleksitas serangan. Data terbaru dari Kaspersky mengungkapkan bahwa sebanyak 14.909.665 serangan berbasis web berhasil terdeteksi dan diblokir sepanjang tahun lalu di Indonesia, disertai dengan 39.718.903 ancaman pada perangkat yang juga berhasil dihentikan.
Angka tersebut menggambarkan betapa agresifnya aktivitas siber yang menyasar pengguna dan organisasi di tanah air. Ancaman yang muncul tidak hanya bertambah banyak, tetapi juga semakin canggih dan sulit dideteksi dengan pendekatan keamanan konvensional.
Selain itu, Kaspersky juga mencatat bahwa 20% perusahaan di Indonesia mengalami serangan rantai pasokan (supply chain attack) pada tahun yang sama. Jenis serangan ini menjadi salah satu ancaman yang paling berbahaya karena mampu menembus sistem melalui pihak ketiga yang terhubung. Hal ini dijelaskan oleh Defi Nofitra, Country Manager untuk Indonesia di Kaspersky, dalam temu media pada Rabu (8/4/2026).
Dampak dari lanskap ancaman yang terus berkembang ini dirasakan langsung oleh organisasi. Gangguan operasional, kebocoran data, kerugian finansial, hingga kerusakan reputasi menjadi risiko nyata yang harus dihadapi perusahaan di berbagai sektor.
Situasi ini diperparah oleh munculnya ancaman yang semakin kompleks, seperti Advanced Persistent Threats (APT), serangan berbasis AI, serta eksploitasi pada perangkat seluler. Serangan-serangan tersebut dirancang untuk menghindari deteksi dan bertahan lama di dalam sistem target.
Dengan meningkatnya risiko, banyak organisasi mulai menyadari bahwa pendekatan keamanan yang reaktif sudah tidak lagi memadai. Dibutuhkan strategi yang lebih proaktif dan berbasis intelijen untuk menghadapi ancaman yang terus berevolusi.
Salah satu pendekatan yang semakin banyak diadopsi adalah pembangunan Security Operations Center (SOC). SOC berperan sebagai pusat pemantauan dan respons keamanan yang mampu mendeteksi, menganalisis, serta merespons ancaman secara real-time.
"Seiring dengan meningkatnya ancaman siber yang menargetkan perusahaan-perusahaan di Indonesia baik dari segi volume maupun kompleksitas, organisasi tidak dapat lagi mengandalkan sistem keamanan yang terfragmentasi," komentar Defi.
Menurut penelitian Kaspersky, lebih dari separuh (58%) pemimpin dan pengambil keputusan TI di Indonesia percaya bahwa membangun SOC dapat meningkatkan postur keamanan siber organisasi mereka. Selain itu, 65% perusahaan berencana meningkatkan kemampuan SOC mereka dengan AI, dengan 53% menyebut peningkatan efektivitas deteksi ancaman sebagai alasan utama.
Dengan menggabungkan teknologi canggih, kecerdasan buatan, dan pendekatan berbasis intelijen, organisasi di Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memperkuat pertahanan siber mereka dan mengurangi risiko serangan siber.
