ilustrasi AC (freepik.com/lifeforstock)
Cuaca panas yang kerap terjadi pada siang hari selama Ramadan mendorong banyak orang untuk mengandalkan AC maupun kipas angin demi menjaga kenyamanan saat berpuasa. Aktivitas istirahat di rumah pun cenderung berlangsung lebih lama, sehingga durasi penggunaan perangkat pendingin meningkat. Tidak hanya itu, perubahan jam tidur akibat salat tarawih dan tadarus membuat AC sering tetap menyala hingga larut malam. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga.
Tanpa pengelolaan yang tepat, AC dapat menjadi faktor dominan dalam lonjakan tagihan listrik. SolarTech mencatat bahwa penggunaan pendingin udara menyumbang sekitar 40–50 persen dari total konsumsi listrik rumah tangga. Temuan serupa juga ditunjukkan oleh Kubota et. al., tahun 2011 melalui survei di Johor, Malaysia, yang menghitung rata-rata konsumsi listrik tahunan setiap peralatan berdasarkan jumlah unit, lama penggunaan, dan kapasitas daya. Hasilnya menunjukkan bahwa AC menjadi perangkat dengan konsumsi energi tertinggi, mencapai 1.167 kWh per tahun. Tingginya daya listrik yang dibutuhkan AC juga berpotensi menimbulkan fluktuasi permintaan energi, sehingga perlu dikendalikan demi menjaga stabilitas sistem jaringan listrik. Oleh karena itu, data rinci mengenai konsumsi listrik AC menjadi elemen penting dalam pengelolaan sistem tenaga yang andal.
Pengaturan suhu yang terlalu rendah serta penggunaan AC dalam durasi panjang menyebabkan penyerapan daya listrik yang jauh lebih besar. Padahal, efisiensi energi tetap dapat dicapai tanpa harus mengorbankan kenyamanan pengguna. Pengaturan suhu yang lebih moderat dan pembatasan waktu pemakaian menjadi langkah sederhana namun berdampak signifikan. Kesadaran inilah yang menjadikan pengelolaan penggunaan AC sebagai kunci utama penghematan energi selama bulan Ramadan.