Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi KWH Listrik PLN
ilustrasi KWH Listrik PLN (commons.wikimedia.org/DARMAS BS)

Intinya sih...

  • Pola aktivitas rumah berubah drastis selama Ramadan, menyebabkan pemakaian listrik harian meningkat.

  • Penggunaan peralatan elektronik di dapur dan kulkas yang lebih intens juga menjadi penyebab utama kenaikan tagihan listrik.

  • AC dan kipas angin yang menyala lebih lama serta perangkat elektronik yang sering tidak dimatikan juga turut memengaruhi lonjakan konsumsi energi bulanan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bulan Ramadan turut membawa perubahan besar dalam pola hidup masyarakat sehari-hari. Jam tidur bergeser, waktu makan berubah, aktivitas rumah tangga mulai padat pada waktu-waktu tertentu sehingga konsumsi energi pun ikut berubah. Tak sedikit masyarakat yang mengeluhkan soal tagihan listrik naik saat puasa dibanding bulan-bulan lainnya. Padahal, aktivitas di luar rumah justru berkurang.

Fenomena naiknya tagihan listrik saat puasa bukan tanpa alasan. Perubahan pola aktivitas selama Ramadan secara langsung memengaruhi durasi dan intensitas penggunaan peralatan elektronik di rumah. Tanpa disadari, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang setiap hari dapat menumpuk menjadi lonjakan konsumsi energi bulanan. Oleh karena itu, penting untuk kamu memahami faktor-faktor utama yang menyebabkan tagihan listrik tiba-tiba membengkak saat bulan puasa. Simak penjelasannya, yuk!

1. Pola aktivitas rumah berubah drastis

ilustrasi Al-Qur'an (unsplash.com/Masjid MABA)

Selama bulan puasa, rumah menjadi pusat kegiatan hampir sepanjang hari. Aktivitas yang biasanya berhenti di malam hari justru berlanjut hingga larut, baik untuk ibadah, berkumpul bersama keluarga, maupun sekadar beristirahat setelah berbuka. Lampu dan perangkat elektronik pun cenderung menyala lebih lama dari biasanya. Bahkan, aktivitas sahur membuat rumah kembali aktif sejak dini hari.

Perubahan jam aktif ini berdampak langsung pada pemakaian listrik harian. Jika pada hari biasa sebagian besar anggota keluarga sudah beristirahat lebih awal, saat Ramadan kondisi tersebut berubah total. Akumulasi penggunaan listrik dari malam hingga dini hari inilah yang menjadi salah satu penyebab utama kenaikan tagihan.

2. Penggunaan peralatan elektronik meningkat

ilustrasi rice cooker (freepik.com/freepik)

Dapur menjadi salah satu area dengan konsumsi listrik paling tinggi selama Ramadan. Peralatan seperti rice cooker, dispenser air panas, blender, hingga microwave digunakan lebih sering untuk menyiapkan menu sahur dan berbuka. Tidak sedikit keluarga yang membiarkan rice cooker tetap menyala sepanjang hari.

Selain itu, kulkas bekerja lebih berat dibandingkan hari biasa. Frekuensi buka-tutup yang meningkat serta penyimpanan makanan dan minuman dalam jumlah lebih banyak membuat mesin pendingin membutuhkan daya ekstra. Jika kondisi ini berlangsung selama satu bulan penuh, dampaknya akan sangat terasa pada total pemakaian listrik.

3. AC dan kipas menyala lebih lama

ilustrasi AC (freepik.com/lifeforstock)

Cuaca panas yang kerap terjadi pada siang hari selama Ramadan mendorong banyak orang untuk mengandalkan AC maupun kipas angin demi menjaga kenyamanan saat berpuasa. Aktivitas istirahat di rumah pun cenderung berlangsung lebih lama, sehingga durasi penggunaan perangkat pendingin meningkat. Tidak hanya itu, perubahan jam tidur akibat salat tarawih dan tadarus membuat AC sering tetap menyala hingga larut malam. Kondisi ini secara langsung berkontribusi pada meningkatnya konsumsi listrik rumah tangga.

Tanpa pengelolaan yang tepat, AC dapat menjadi faktor dominan dalam lonjakan tagihan listrik. SolarTech mencatat bahwa penggunaan pendingin udara menyumbang sekitar 40–50 persen dari total konsumsi listrik rumah tangga. Temuan serupa juga ditunjukkan oleh Kubota et. al., tahun 2011 melalui survei di Johor, Malaysia, yang menghitung rata-rata konsumsi listrik tahunan setiap peralatan berdasarkan jumlah unit, lama penggunaan, dan kapasitas daya. Hasilnya menunjukkan bahwa AC menjadi perangkat dengan konsumsi energi tertinggi, mencapai 1.167 kWh per tahun. Tingginya daya listrik yang dibutuhkan AC juga berpotensi menimbulkan fluktuasi permintaan energi, sehingga perlu dikendalikan demi menjaga stabilitas sistem jaringan listrik. Oleh karena itu, data rinci mengenai konsumsi listrik AC menjadi elemen penting dalam pengelolaan sistem tenaga yang andal.

Pengaturan suhu yang terlalu rendah serta penggunaan AC dalam durasi panjang menyebabkan penyerapan daya listrik yang jauh lebih besar. Padahal, efisiensi energi tetap dapat dicapai tanpa harus mengorbankan kenyamanan pengguna. Pengaturan suhu yang lebih moderat dan pembatasan waktu pemakaian menjadi langkah sederhana namun berdampak signifikan. Kesadaran inilah yang menjadikan pengelolaan penggunaan AC sebagai kunci utama penghematan energi selama bulan Ramadan.

4. Perangkat elektronik menyala tanpa disadari

ilustrasi pengisian daya smartphone (unsplash.com/Amanz)

Ada pula penggunaan listrik yang bersumber dari peralatan elektronik yang sering diabaikan. Charger smartphone yang tetap terpasang, televisi dalam mode standby, dan lampu yang lupa dimatikan dapat menyumbang konsumsi listrik secara perlahan. Meski terlihat sepele, penggunaan listrik pasif ini terjadi hampir setiap hari. Dalam jangka waktu sebulan, dampaknya menjadi signifikan.

Kondisi ini sering terjadi karena fokus masyarakat selama Ramadan terbagi pada banyak hal. Perubahan rutinitas membuat kebiasaan mematikan perangkat elektronik menjadi terlewat. Tanpa disadari, energi terus terpakai meski tidak benar-benar dibutuhkan. Inilah alasan mengapa tagihan listrik bisa tetap tinggi meskipun aktivitas tertentu terasa berkurang.

Kenaikan tagihan listrik saat bulan puasa sejatinya merupakan akumulasi dari perubahan pola hidup yang terjadi secara alami. Aktivitas rumah tangga yang meningkat di jam-jam menjelang berbuka dan makan sahur maupun ibadah salat malam, penggunaan peralatan elektronik yang lebih intens, dan durasi pemakaian listrik yang lebih panjang menjadi faktor utamanya. Kalau kamu sudah mengetahui hal ini sedari awal, kamu jadi tidak was-was lagi ketika menghadapi lonjakan tagihan listrik. Semoga bermanfaat!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team