Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

14 Fitur Aplikasi Codex, Alat Agentic Coding Buatan OpenAI

tampilan Codex
tampilan Codex (openai.com)
Intinya sih...
  • Codex menjalankan banyak agen AI sekaligus
  • Pengguna dapat mendelegasikan berbagai tugas kepada asisten digital terpisah
  • Codex memanfaatkan fitur Worktrees untuk mencegah konflik data
  • Dilengkapi dengan alat Git bawaan untuk proses peninjauan perubahan kode
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

OpenAI meluncurkan aplikasi desktop Codex untuk macOS pada 2 Februari 2026 yang berfungsi layaknya pusat kendali agen kecerdasan buatan (AI). Platform khusus bagi pengguna komputer Apple Silicon ini dapat mengelola berbagai asisten digital yang bekerja secara mandiri guna menyelesaikan tugas pemrograman yang kompleks. Dengan menggunakan Codex, kolaborasi developer dan AI menjadi lebih luwes dan natural.

Codex sendiri berjalan di atas infrastruktur NVIDIA GB200 NVL72 sehingga kecepatan pemrosesan datanya 25 persen lebih gesit dibandingkan model sebelumnya. Pertumbuhan platform ini tergolong pesat dengan lebih dari satu juta pengembang telah menggunakannya dalam satu bulan terakhir. Berikut 14 fitur menarik yang diusung oleh Codex!

1. Manajemen multi-agent dan tugas paralel

Fitur utama yang menjadi daya tarik aplikasi Codex adalah kemampuannya menjalankan banyak agen AI sekaligus dalam satu waktu. Sistem ini memungkinkan pengguna untuk mendelegasikan berbagai bagian proyek yang berbeda kepada asisten digital terpisah tanpa harus menunggu satu tugas selesai terlebih dahulu. Pengguna dapat meminta satu agen memperbaiki bug, sementara agen lainnya sibuk menyusun fitur baru secara bersamaan.

Menurut VentureBeat, kemampuan eksekusi tugas paralel ini secara efektif mengubah peran pengembang menjadi seorang manajer proyek yang mengawasi tim virtual. Setiap agen bekerja dalam utas atau thread terpisah yang terorganisir rapi berdasarkan proyek masing-masing. Pengguna pun dapat beralih antar pekerjaan dengan lancar tanpa kehilangan konteks atau progres yang sedang berlangsung.

2. Fitur Worktrees dan integrasi alat Git

tampilan aplikasi Codex
tampilan aplikasi Codex (openai.com)

Guna mencegah konflik data saat banyak agen bekerja bersamaan, Codex memanfaatkan fitur Worktrees yang cerdas. Dukungan Worktrees menyediakan ruang kerja terisolasi bagi setiap agen agar eksperimen kode baru tidak mengacaukan folder utama proyek. Agen dapat bekerja pada salinan repositori secara mandiri, sehingga pengembang bebas mengeksplorasi ide tanpa risiko merusak kode yang sudah stabil.

Aplikasi ini juga dilengkapi dengan alat Git bawaan yang mempermudah proses peninjauan perubahan kode. Pengembang dapat melihat perbedaan baris kode atau diff secara visual, memberikan komentar langsung, hingga menyetujui perubahan tanpa perlu meninggalkan aplikasi. Integrasi ini memastikan alur kerja tetap terpusat dan efisien tanpa perlu berpindah ke terminal eksternal.

3. Peningkatan Skills dan konektor MCP

tampilan Codex
tampilan Codex (openai.com)

Codex kini tidak hanya sekadar menulis kode, tetapi juga mampu menggunakan alat bantu lain melalui fitur Skills. Fitur ini membungkus serangkaian instruksi dan skrip khusus agar AI dapat terhubung ke aplikasi populer seperti Figma untuk desain atau Linear untuk manajemen tugas. Pengguna bahkan dapat membuat keterampilan baru yang disesuaikan dengan kebutuhan tim dan membagikannya melalui repositori.

Selain itu, dukungan protokol MCP (Model Context Protocol) memperluas jangkauan layanan pihak ketiga yang bisa diakses oleh platform ini. Konektor MCP memungkinkan agen Codex untuk berinteraksi dengan basis data atau API eksternal secara lebih aman dan terstruktur. Fleksibilitas ini menjadikan Codex sebagai asisten serba bisa yang tidak terbatas hanya pada editor teks saja.

4. Automasi latar belakang dan terminal bawaan

fitur Automations di Codex
fitur Automations di Codex (youtube.com/OpenAI)

Produktivitas pengembang semakin dimanjakan dengan hadirnya menu Automations untuk menangani tugas-tugas rutin yang membosankan. Pengguna dapat menjadwalkan agen untuk bekerja di latar belakang, seperti melakukan triase masalah harian atau merangkum kegagalan sistem CI/CD secara otomatis. Hasil pekerjaan otomatis tersebut akan langsung masuk ke antrean tinjauan, sehingga pengguna tetap memegang kendali atas kualitas hasil akhir.

Untuk memfasilitasi pengujian teknis, aplikasi ini telah menyertakan jendela Terminal yang terintegrasi langsung di setiap utas percakapan. Keberadaan terminal bawaan memudahkan pengguna untuk menjalankan skrip, menyalakan server pengembangan, atau memverifikasi kode tanpa perlu keluar dari antarmuka Codex. Proses debugging dan verifikasi pun menjadi jauh lebih ringkas dan hemat waktu.

5. Mode rencana dan kustomisasi personalitas

tugas spreadsheet di Codex
tugas spreadsheet di Codex (openai.com)

Selanjutnya, OpenAI menghadirkan fitur Plan Mode untuk membantu proses kolaborasi. Dalam mode ini, agen AI akan membaca kode yang kompleks dan mendiskusikan rencana perubahannya terlebih dahulu kepada pengguna sebelum melakukan eksekusi. Mekanisme diskusi pra-eksekusi ini memberikan rasa aman bagi pengembang untuk memahami strategi penyelesaian masalah yang ditawarkan oleh AI.

Pengalaman interaksi di Codex juga bisa dibuat lebih personal dengan adanya opsi untuk memilih kepribadian atau Personalities. Pengguna dapat memilih gaya komunikasi agen yang pragmatis dan to-the-point, atau gaya yang lebih santai dan gemar menjelaskan detail. Pilihan ini memastikan asisten digital dapat menyesuaikan diri dengan preferensi kerja masing-masing individu.

6. Local Environments dan sinkronisasi IDE

Persiapan teknis sebelum memulai proyek bisa memakan waktu, oleh karena itu fitur Local Environments hadir untuk mengatasi hambatan tersebut. Fitur ini memungkinkan otomatisasi skrip pengaturan atau setup sehingga lingkungan kerja siap digunakan hanya dalam waktu singkat. Pengembang dapat langsung fokus pada inti permasalahan tanpa perlu direpotkan oleh konfigurasi awal yang berulang.

Kontinuitas kerja juga dijamin melalui sistem sinkronisasi yang menghubungkan aplikasi desktop dengan ekstensi IDE (Integrated Development Environment). Riwayat percakapan dan konteks aktif di aplikasi akan terhubung secara real-time dengan alat tulis kode utama seperti VS Code atau JetBrains. Jadinya, transisi kerja antar perangkat akan terasa lebih mulus dan tidak tercecer.

7. Keamanan Sandboxing dan laporan real-time

contoh game buatan GPT-5.3 Codex
contoh game buatan GPT-5.3 Codex (openai.com)

Fitur agentic AI memang dapat sangat membantu produktivitas, tetapi juga membawa risiko keamanan tersendiri. Oleh karena itu, Codex menerapkan teknologi Sandboxing yang ketat dan transparan. Sistem ini membatasi akses asisten hanya pada folder atau cabang proyek tertentu, serta mencegah modifikasi file di luar izin pengguna. Persetujuan eksplisit juga dibutuhkan setiap kali agen memerlukan akses jaringan atau hendak menjalankan perintah sistem yang sensitif.

Pengguna dapat memantau kinerja agen dengan sistem laporan umpan balik yang muncul secara real-time. Codex akan menampilkan notifikasi untuk setiap keputusan yang diambil agen serta kemajuan tugas yang sedang berjalan. Hasil pekerjaan yang telah selesai akan dikumpulkan dalam kotak masuk atau inbox khusus untuk memudahkan pemeriksaan akhir. Kombinasi fitur-fitur di atas membuat Codex sangat dapat diandalkan untuk membantu efisiensi proses pengembangan perangkat lunak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Kidung Swara Mardika
EditorKidung Swara Mardika
Follow Us

Latest in Tech

See More

14 Fitur Aplikasi Codex, Alat Agentic Coding Buatan OpenAI

13 Feb 2026, 20:22 WIBTech