ilustrasi seorang kurir mengantarkan paket ke pelanggan menggunakan sistem pembayaran COD (freepik.com/jcomp)
Selama bertahun-tahun, marketplace menjadi pilihan utama bagi banyak pelaku usaha karena mampu menghadirkan trafik besar dan proses jual beli yang praktis. Kehadiran berbagai fitur promosi, pembayaran, hingga logistik membuat seller lebih mudah menjangkau konsumen dari berbagai daerah. Namun, perubahan biaya layanan yang terus meningkat kini mulai memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan model bisnis tersebut. Banyak seller merasa ketergantungan penuh terhadap marketplace justru membuat mereka semakin rentan terhadap perubahan kebijakan platform.
Di sisi lain, membangun website sendiri mulai dianggap sebagai alternatif yang lebih menarik bagi sebagian brand. Lewat kanal penjualan mandiri, seller memiliki kontrol lebih besar terhadap promosi, data pelanggan, hingga strategi harga produk. Mereka juga tidak perlu membayar potongan biaya sebesar yang dikenakan marketplace pada setiap transaksi. Meski begitu, membangun website pribadi tetap memiliki tantangan tersendiri karena membutuhkan biaya pengembangan, pemasaran, dan kemampuan menarik trafik secara mandiri.
Sebagian seller akhirnya memilih pendekatan campuran, yakni tetap bertahan di marketplace sambil perlahan memperkuat kanal penjualan sendiri. Strategi ini dianggap lebih aman karena marketplace masih menjadi tempat utama jutaan konsumen mencari produk setiap hari. Pada saat yang sama, seller juga bisa mulai membangun audiens loyal di luar platform agar tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan marketplace. Pendekatan tersebut dinilai menjadi jalan tengah yang cukup realistis di tengah perubahan industri e-commerce saat ini.
Perubahan perilaku seller ini juga menunjukkan bahwa persaingan industri digital kini tidak hanya soal menarik pembeli, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem penjual. Jika biaya terus meningkat tanpa diimbangi keuntungan yang sepadan, bukan tidak mungkin lebih banyak seller memilih mencari jalur distribusi alternatif. Marketplace memang masih menawarkan pasar besar, tetapi seller kini semakin sadar pentingnya memiliki kendali lebih besar terhadap bisnis mereka sendiri. Karena itu, tren membangun website pribadi diperkirakan akan semakin berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Kenaikan biaya layanan di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop memperlihatkan bagaimana industri e-commerce mulai bergerak menuju fase baru yang lebih kompleks. Platform tidak lagi hanya fokus menghadirkan promo besar untuk menarik pembeli, tetapi juga mulai mencari keseimbangan bisnis lewat penyesuaian biaya kepada seller. Di sisi lain, seller harus menghadapi tantangan baru berupa margin keuntungan yang semakin tertekan akibat bertambahnya berbagai komponen biaya. Situasi ini membuat banyak pelaku usaha mulai mengevaluasi kembali strategi penjualan mereka di marketplace.
Fenomena munculnya gerakan “tinggalkan E-commerce” hingga tren membangun website sendiri menjadi gambaran perubahan pola pikir seller di era digital saat ini. Banyak brand mulai menyadari pentingnya memiliki kanal penjualan mandiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan platform pihak ketiga. Meski marketplace masih menjadi sarana penting untuk menjangkau pasar luas, seller kini perlahan mencari cara agar bisnis mereka tetap sehat dan berkelanjutan. Ke depan, persaingan e-commerce kemungkinan tidak hanya terjadi antarplatform, tetapi juga antara marketplace dan kanal penjualan mandiri milik brand itu sendiri.