Platform tidak hanya diwajibkan melakukan penilaian risiko, tetapi juga harus melakukan langkah konkret, seperti:
Menyesuaikan batas usia minimum.
Membangun sistem pencegahan akses bagi anak di bawah 16 tahun.
Memastikan mekanisme kontrol berjalan efektif.
Selain itu, platform juga harus mengajukan penilaian risiko secara mandiri sebagai bagian dari kewajiban kepatuhan terhadap regulasi.
Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban orang tua dalam mengawasi aktivitas digital anak. Bahkan, ada harapan pengurangan beban secara signifikan.
Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada kemampuan teknologi dan kepatuhan platform. Orang tua tetap memiliki peran penting, terutama dalam:
Memberikan persetujuan akses.
Berkomunikasi dengan anak.
Mendampingi penggunaan teknologi.
Peran orang tua pun bergeser, dari sekadar pengawas menjadi pendamping atau mentor digital.
Meski regulasi menjadi langkah penting, perlindungan anak di ruang digital tidak bisa hanya bergantung pada aturan. Setengah dari keberhasilan kebijakan ini tetap ditentukan oleh literasi digital masyarakat.
"Dengan demikian, orang tua dapat memahami aplikasi yang digunakan anak, sekaligus memberikan arahan jika ada potensi risiko. Namun, regulasi saja tidak cukup. Sekitar 50 persen keberhasilan kebijakan ini tetap bergantung pada literasi digital yang baik," imbuh Mediodecci.
Orang tua dan pengguna perlu memahami risiko yang ada serta cara melindungi diri di dunia digital. Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi peluang ekonomi, tetapi juga lingkungan yang aman bagi anak.