Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasar Gede Solo
Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Apa yang kamu pikiran saat jalan-jalan di Solo? Kota dengan nama lain Surakarta ini punya vibes seperti Yogyakarta, tapi versi lebih sepi. Nuansa Jawa masih kental dan perpaduan sedikit gaya kolonial di pusat kota hingga ke arah selatan.

Serupa dengan beberapa kota besar di Jawa, seperti Semarang, Malang, dan Yogyakarta, penataan tata ruang di Solo tidak lepas dari sosok Herman Thomas Karsten. Ia merupakan insinyur asal Belanda yang memadukan unsur Eropa dan Jawa dalam setiap rancangannya, gaya Indisch. Selain itu, mementingkan keberadaan ruang terbuka dan memastikan bangunan yang dirancangnya sesuai untuk daerah tropis, serta cukup lega sebagai fasilitas umum.

Bagi kamu yang penasaran, dapat mengunjungi beberapa bangunan yang kini masih berdiri kokoh. Mau tahu di mana saja lokasinya? Berikut ini tiga landmark bersejarah di Solo karya Thomas Karsten.


1. Stasiun Solo Balapan

interior Stasiun Solo Balapan (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Stasiun Solo Balapan berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi Nomor 112, Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Stasiun terbesar di Solo ini telah mendapat banyak sentuhan gaya modern. Namun, kalau kamu memperhatikan beberapa detailnya, masih tersisa perpaduan Jawa dan Eropa.

Bangunan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 2013 ini didirikan di atas lahan bekas arena pacuan kuda bagian dari Alun-Alun Utara Pura Mangkunegaran. Stasiun Solo Balapan dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), perusahaan kereta api swasta Hindia Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan pada 1864 oleh Raja Mangkunegara IV dan disaksikan Gubernur Jenderal Baron van de Beele.

Setelah diresmikan pada 10 Februari 1870, awalnya bernama Stasiun Solo. Fungsi utamanya sebagai penghubung antara Semarang–Solo. Pengangkutan gula, tembakau, dan kopi dari daerah pedalaman ke pelabuhan di Semarang pun semakin mudah.

Seiring berkembangnya zaman, stasiun ini mengalami renovasi. Pada tahun 1926, Thomas Karsten memberi sentuhan modern, memadukan gaya arsitektur Eropa yang sedang populer kala itu dengan gaya lokal. Tidak hanya sekadar estetika, tapi juga mengutamakan fungsinya sebagai ruang publik.

Kamu dapat menjumpai karyanya pada sisi selatan Stasiun Solo Balapan. Hall Selatan pada gedung utama, struktur atap bertingkat sebagai ventilasi udara alami dan pencahayaan, serta bagian lobi dengan gaya Nieuwe Bouwen dengan elemen lokal. Selain itu, terdapat bentuk lengkung bertingkat, archway sebagai unsur Art Deco yang memiliki keluwesan estetika lokal.

2. Pasar Gede

Pasar Gede Solo (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Mau ke tempat bersejarah tapi sambil kulineran? Kamu bisa menuju Pasar Gede Hardjonagoro di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Lokasinya strategis, dekat dengan halte Batik Solo Trans, Balai Kota Surakarta, dan Keraton Surakarta Hadiningrat.

Pasar Gede dibangun pada 1927 dan diresmikan oleh Pakubuwono X pada 1930. Pasar tradisional tertua di Solo ini terdiri dari dua bangunan terpisah, gedung timur dan gedung barat. Masing-masing gedung dibuat dua lantai dengan perpaduan gaya arsitektur Belanda dan Jawa.

Unsur Art Deco kembali dapat dijumpai pada fasad bangunan yang simetris, menggunakan garis tegas, dan bagian tengah dibuat lebih tinggi. Thomas Karsten juga menggunakan struktur beton bertulang dan atap baja yang kokoh, sebagai standar bangunan modern Eropa pada masanya. Interior dengan ventilasi tinggi dapat kamu lihat di Lantai 2, untuk kepentingan sirkulasi udara serta membuat pasar ini tetap adem di tengah panasnya Solo.

Sedangkan unsur Jawa dapat kamu lihat dari luar. Bentuk atap tajuk yang bersusun identik dengan arsitektur tradisional Jawa yang sering digunakan pada pendopo atau masjid. Ia juga membiarkan bangunan tanpa dinding masif yang membiarkan tetap terbuka pada bagian samping, mengadopsi konsep pasar tumpah.

Pasar Gede berdiri di tengah kawasan Pecinan utama di Solo, tentu tidak meninggalkan unsur Tionghoa. Pada atapnya punya kemiringan dan lekukan di ujung yang memberikan kesan oriental. Letaknya pun berdampingan dengan Klenteng Tien Kok Sie yang lebih dulu berdiri, membuatnya selalu ramai saat menjelang Imlek.

Satu lagi, unsur Arab tampak lebih halus pada ventilasi dan dinding atas yang mengadopsi pola geometris repetitif. Hal ini menyerupai gaya Mashrabiya dalam arsitektur Arab untuk mengatur cahaya dan sirkulasi udara. Sudah terbayang bagaimana Thomas Karsten menghargai budaya lokal dan memadukan dengan gaya dari negara asalnya?

Kamu dapat mengunjungi Pasar Gede siang dan malam, terutama saat menjelang perayaan tertentu. Lantai 2 pada bangunan utama menjadi pusat kuliner yang ramai saat siang hingga malam hari. Sedangkan bagian lainnya menyediakan buah-buahan dan aneka kebutuhan sandang pangan layaknya pasar tradisional pada umumnya, yang lebih aktif pada pagi hingga sore hari.

3. Ponten Mangkunegaran VII

Ponten Mangkunegara VII (dok. pribadi/Fatma Roisatin)

Berbeda dari kedua landmark sebelumnya, Ponten Mangkunegaran VII bak hidden gem bagi pencinta wisata sejarah dan arsitektur. Lokasinya di tengah pemukiman yang tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan. Tepatnya di Jalan Belitung, Kelurahan Kestalan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.

Ponten merupakan situs bersejarah yang berfungsi sebagai tempat mandi, cuci, dan kakus (MCK) untuk masyarakat sekitar dan para punggawa Mangkunegaran. Pembangunannya digagas oleh Mangkunegara VII pada 1937 dan dirancang oleh Thomas Karsten. Ia diminta untuk membangun MCK yang higienis, tetapi tetap menghargai privasi dan estetika. Keunikannya dapat dilihat dari bagian dinding yang melengkung seperti labirin tanpa atap, memungkinkan cahaya masuk dan area tetap kering.

Tidak ada pintu pada bangunan tersebut, tetapi dindingnya membuat orang dari luar tidak dapat melihat langsung ke bagian dalam. Sedangkan orang yang berada di dalam tetap merasa bebas. Arsitektur yang keren pada zamannya, bukan?

Thomas Karsten terinspirasi dari konsep sendang atau pemandian keraton yang biasanya memiliki dinding lengkung serta suasana tenang. Hal tersebut menunjukkan adanya unsur lokal. Sedangkan pemisahan area mandi, cuci, dan kakus yang menjadi cerminan standar penataan ruang di Eropa.

Ketiga landmark bersejarah di Solo karya Thomas Karsten tersebut dapat kamu kunjungi secara gratis. Seluruhnya mudah diakses menggunakan transportasi umum. Mana nih yang paling bikin penasaran?


This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team