salah satu koleksi Museum Kotagede, Yogyakarta (commons.wikimedia.org/Faa.story)
Kotagede merupakan bekas ibu kota Kesultanan Mataram Islam yang pertama didirikan pada 1532. Wilayah ini menjadi saksi sejarah berkembangnya pusat pemerintahan menjadi pusat budaya. Sejumlah bangunan bersejarah masih dipertahankan hingga saat ini, termasuk rumah pribadi Ibu Hadi Noerijah, seorang perempuan Kalang, yang kini menjadi Museum Kotagede.
Perlu diketahui bahwa orang Kalang merupakan kelompok etnis Jawa yang terkenal sebagai ahli dalam seni bangunan dan ukir. Mereka juga pandai berbisnis, sehingga turut berperan dalam kejayaan Kotagede. Orang Kalang berbaur dengan masyarakat setempat, meski pada akhirnya banyak yang meninggalkan kawasan tersebut saat masa perang kemerdekaan akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Dokumentasi sejarah selengkapnya dapat dilihat di Museum Kotagede Yogyakarta, yang mengusung konsep museum hidup. Masyarakat terlibat secara aktif dalam melestarikan dan memanfaatkan warisan budaya mereka. Selain itu, pengunjung akan diajak untuk merasakan suasana kehidupan di Kotagede pada masa lampau.
Museum ini menyuguhkan empat klaster utama. Klaster Situs Arkeologi dan Lanskap Sejarah menyajikan dokumentasi dan koleksi yang menunjukkan perjalanan Kotagede sebagai pusat peradaban masa lalu. Klaster Kemahiran Teknologi Tradisional menggambarkan keahlian masyarakat setempat, seperti keterampilan kriya perak yang tersohor hingga mancanegara.
Masih ada lagi, Klaster Seni Pertunjukan, Sastra, Adat Tradisi, dan Kehidupan Kesehatian, serta Klaster Pergerakan Sosial Kemasyarakatan. Kedua klaster ini menunjukkan budaya masyarakat setempat, seperti seni tradisional hingga kulinernya. Tidak hanya itu, peran mereka dalam sejarah nasional pun ada di sini.
Jam operasional:
Selasa–Kamis dan Sabtu–Minggu: 08.00–15.30 WIB.
Jumat: 08.00–14.00 WIB.
Senin, cuti bersama, dan hari libur nasional tutup.
Lokasi: Jalan Tegal Gendu Nomor 20, Prenggan, Kecamatan Kotagede, Kota Yogyakarta.