Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Itinerary Seharian di Kotabaru Yogyakarta buat Liburan Low Budget

Museum Sandi, Yogyakarta
Museum Sandi, Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Yogyakarta termasuk wisata favorit semua kalangan, bahkan digadang-gadang mampu mengalahkan Bali sebagai destinasi liburan akhir tahun 2025. Alasannya beragam, mulai dari harga yang relatif terjangkau, keramahannya, nuansa tradisional yang masih kental. Tidak ketinggalan juga dengan pesona wisata alamnya.

Bagi yang punya waktu terbatas, tetap bisa liburan singkat di tengah kota Yogyakarta. Kali ini, penulis akan membagikan beberapa itinerary seharian di Kotabaru dan sekitarnya, Kecamatan Gondokusuman, Yogyakarta.

Kotabaru awalnya dibangun sebagai kawasan elit bergaya taman, garden city untuk orang Eropa. Itulah sebabnya Kotabaru cukup teduh, punya pedestrian lebar serta nyaman, dan banyak dijumpai bangunan bergaya Eropa di tepi jalan raya. Kawasan ini juga tampak lebih lengang dari Malioboro, termasuk saat high season.

Penulis memulai perjalanan dari Stasiun Yogyakarta sekitar pukul 11.00 WIB, lalu naik Trans Jogja dari Halte TPB Jlagran ke Halte TJ Cik Di Tiro 2. Setelah itu, berjalan kaki untuk menuju setiap itinerary, berikut ini perjalanan lengkapnya. 

1. Museum Dharma Wiratama

Museum Dharma Wiratama Yogyakarta
Museum Dharma Wiratama Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama hanya beberapa puluh meter dari Halte TJ Cik Di Tiro 2. Monumen Tentara Keamanan Rakyat (TKR) tampak di sudut jalan sebelum pintu masuk museum. Sejumlah replika tank juga menghiasi pedestrian serta salah satu spot di dekat gapura. 

Halaman yang luas sekaligus menjadi area parkir menjadi penghubung antara gapura dan pintu masuk gedung museum. Pintu akan otomatis terbuka saat pengunjung hendak masuk ke dalam museum. Sebelum menjelajah setiap ruangnya, pada bagian lobi terdapat denah museum yang dapat menjadi panduan pengunjung.

Saat mengunjungi museum tersebut, penulis tidak menjumpai penjaga maupun guide di dekat pintu masuk sehingga penulis memilih melanjutkan untuk menjelajah setiap ruang pameran koleksinya tanpa mengisi daftar pengunjung atau semacamnya. Setiap koleksinya telah dilengkapi deskripsi dan barcode untuk mempermudah membaca teksnya.

Koleksi senjata yang digunakan TNI pada masa perang kemerdekaan, diorama, seragam, hingga peran TNI masa kini pun ada di museum ini. Tidak ketinggalan koleksi peralatan komunikasi, alat kesehatan, dan dapur umum. Dilengkapi pula dengan beberapa multimedia, seperti layar berukuran besar untuk memutar film tentang sejarah TNI dan beberapa media interaktif yang menarik pengunjung.

Petunjuk setiap ruang dan pintu keluar museum sudah jelas, sehingga bukan masalah jika berkeliling tanpa pemandu. Setidaknya membutuhkan waktu 30 menit hingga 1 jam untuk menjelajah setiap ruangannya. Di dekat pintu keluar, terdapat bunker Jepang yang dulunya berfungsi sebagai tempat perlindungan bagi pimpinan tentara Jepang saat situasi darurat.

Museum Museum Pusat TNI Angkatan Darat Dharma Wiratama juga dilengkapi fasilitas musala, toilet, dan aula. Kalau kamu ragu untuk masuk langsung ke gedung museum, dapat bertanya pada petugas piket di dekat gapura masuk. Jika ingin melakukan kunjungan bersama rombongan, kamu dapat bersurat atau melakukan reservasi lebih dahulu agar dapat keliling bersama pemandu dan kunjungan lebih seru.

Harga tiket: gratis.

Jam operasional: Selasa–Minggu, pukul 08.00–15.00 WIB.

Lokasi: Jalan Jenderal Sudirman Nomor 75, Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

2. Bentara Budaya Yogyakarta

pameran seni rupa di Bentara Budaya Yogyakarta
pameran seni rupa di Bentara Budaya Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Setelah puas keliling museum, penulis melanjutkan perjalanan sekitar 350 meter menuju Bentara Budaya Yogyakarta. Gedung ini merupakan wadah untuk melestarikan budaya Indonesia. Sesuai dengan fungsinya, maka kerap menjadi venue untuk pameran seni, workshop, dan festival.

Penulis berkunjung ketika tengah digelar pameran seni rupa, sebagai kegiatan penutup tahun 2025 di gedung tersebut. Pameran kali ini mengusung tema “Airlangga”, raja pertama di Jawa yang dikenal toleran dan dermawan kepada rakyatnya. Di balik tema tersebut tersirat makna refleksi akan pemerintahan yang mengayomi dan usaha untuk meneruskan kebaikan pada masa mendatang.

Pameran temporer tersebut berlangsung pada 21–30 Desember 2025, pukul 10.00–20.00 WIB. Pengunjung hanya perlu mengisi daftar nama sebelum keliling ruang pameran. Hanya satu ruangan, tapi cukup lega untuk menampilkan lukisan, patung, wayang, dan beberapa buku lawas berbahasa Indonesia, Jawa, maupun Belanda yang berkaitan dengan Airlangga. 

Lukisan yang dipamerkan dibuat menggunakan berbagai media, mulai dari cat minyak, cat akrilik, hingga campuran pada kanvas. Ada pula yang menggunakan akrilik dan kaca. Selain lukisan, terdapat patung yang terbuat dari kayu dan daur ulang peralatan logam industri.

Hal itu menjadi gambaran bahwa pameran seni tidak hanya tentang keindahan visual dan makna yang tersirat. Sejarah tentang kepemimpinan Airlangga juga dapat tergambar di sana, Tidak lupa bahwa karya seni juga dapat membantu menjaga Bumi dengan menggunakan bahan yang dapat didaur ulang.

Harga tiket: gratis.

Jam operasional: 10.00–20.00 WIB, menyesuaikan periode pameran.

Lokasi: Jalan Suroto Nomor 2, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

3. Masjid Syuhada

Masjid Syuhada Yogyakarta
Masjid Syuhada Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Kala itu, siang semakin terik, penulis melanjutkan perjalanan menuju Masjid Syuhada yang jaraknya sekitar 650 meter dari Bentara Budaya. Jalan Sajiono dan Jalan Patimura cukup teduh dengan pepohonan besar. Kawasan jalan tersebut dipenuhi dengan deretan kafe dan tempat makan kekinian yang menjadi salah satu tempat buat nongkrong.

Masjid Syuhada dapat menjadi pilihan untuk wisata religi. Masjid bersejarah ini identik dengan warna biru. Selain menjadi tempat ibadah, juga terdapat perpustakaan dan berfungsi sebagai Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). 

Pendirian masjid ini berawal dari kegiatan pengajian yang digelar di rumah keluarga Moch. Joeber Prawiroyuwono, setelah mundurnya Belanda dari Yogyakarta. Salah satu alasannya sebagai hadiah dari Pemerintah Indonesia kepada rakyat Yogyakarta, sebelum pemindahan ibu kota negara ke Jakarta. Perlu diingat bahwa Yogyakarta pernah menjadi Ibu Kota Revolusi Indonesia, kemerdekaan pun tidak terlepas dari perjuangan rakyat setempat dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Peletakan tanda kiblat dan batu pertama sebelum pembangunan masjid tersebut dilakukan pada 1950. Setelah proses panjang, akhirnya diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 September 1952. Kini, masjid itu juga menyediakan layanan dakwah, pendidikan, kaderisasi, dan ekonomi untuk masyarakat Yogyakarta.

Lokasi: Jalan I Dewa Nyoman Oka Nomor 13, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

4. Museum Sandi

Museum Sandi, Yogyakarta
Museum Sandi, Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Itinerary berikutnya adalah Museum Sandi yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari masjid. Tidak perlu ribet membeli tiket, cukup dengan mengisi daftar pengunjung. Setelah itu, dipersilakan duduk untuk menonton video berdurasi 6 menit yang memberikan gambaran sejarah awal penggunaan sadi hingga sampai di Indonesia.

Video telah selesai, saatnya menyusuri sejarah penggunaan sandi sebagai pesan rahasia yang digunakan di berbagai zaman dan negara. Kali ini didampingi oleh pemandu yang akan menjelaskan setiap koleksi di ruang pameran museum. Mulai dari lini masa kriptografi kuno, seperti penggunaan hieroglif pada masa Mesir Kuno, aksara yang digunakan oleh Yunani Kuno, hingga Romawi Kuno.

Pengunjung juga akan dijelaskan bagaimana pesan rahasia tersebut diantarkan oleh kurir pada masa lampau. Cara unik yang cukup menyakitkan adalah menulis sandi sebagai tato pada kulit kepala si kurir. Cara lainnya dengan menuliskan pada sehelai kain.

Sandi tersebut juga digunakan pada masa melawan penjajahan di Indonesia. Bapak Persandian Indonesia bernama Roebiono Kertopati, yang terkenal sebagai pembuat Buku Code C. Beliau merupakan keturunan bangsawan yang berprofesi sebagai dokter dan menguasai empat bahasa.

Selain tokoh dan penggunaan sandi di Indonesia, perubahan mesin sandi dari masa ke masa pun tidak kalah menarik. Pengunjung akan dijelaskan bagaimana cara kerjanya dan cara membaca sandi. Minimal 1 jam untuk menjelajahi setiap sudut museum yang terdiri dari dua lantai ini.

Harga tiket: gratis.

Jam operasional: Selasa–Minggu, pukul 09.00–15.00 WIB.

Lokasi: Jalan Faridan M. Noto Nomor 21, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta.

5. Jalan Urip Sumoharjo

Jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta
Jalan Urip Sumoharjo, Yogyakarta (dok. pribadi/Fatma R. N.)

Hari sudah sore, perjalanan pun hampir selesai. Kembali ke jalan utama dan menuju Jalan Urip Sumoharjo, Klitren, Kecamatan Gondokusuman. Kawasan merupakan pusat perbelanjaan, terutama tekstil dan sejumlah tempat makan.

Kamu dapat menemukan tempat buat kulineran atau membeli oleh-oleh. Penjaja street food akan semakin ramai saat malam hari. Meski menjadi pusat perbelanjaan, tetapi kawasan ini tidak sampai macet dan nyaman bagi pejalan kaki.

Penulis mengakhiri perjalanan dengan kembali menuju Stasiun Yogyakarta. Di sepanjang jalan ini terdapat beberapa tempat perhentian Bus Trans Jogja, salah satunya di dekat Superindo Urip Sumoharjo. Dari kawasan ini menuju stasiun harus naik Trans Jogja Koridor A1 dan turun di Halte Malioboro 1. 

Perjalanan tersebut kontras dengan kondisi Malioboro yang macet cukup parah dan penuh pengunjung sore itu. Pedestrian maupun kendaraannya sama-sama padat. Oleh sebab itu, dapat menjadi pilihan itinerary yang ramah di kantong dan cocok bagi introver, pencinta wisata sejarah, maupun pengunjung dengan waktu terbatas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

5 Tempat Wisata Keluarga Ramah Anak di Singapura Beserta Harga Tiket

05 Jan 2026, 08:28 WIBTravel