Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Yanaka Ginza
Yanaka Ginza (kolshica from Yanaka, Taito, Tokyo, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Hiruk pikuk kota metropolitan seperti Tokyo memang selalu memikat, dengan segala kemajuan teknologinya, gedung-gedung pencakar langit, dan lampu neon yang berkelip tiada henti. Namun, di antara semua itu, terselip lorong-lorong waktu yang siap membawa kita kembali ke era lampau, sebuah masa yang penuh dengan kehangatan dan kesederhanaan yang menenangkan. Momen inilah yang ditawarkan oleh shotengai, jalanan dengan vibe khas Jepang yang menjadi saksi bisu denyut nadi kehidupan masyarakat lokal dari generasi ke generasi.

Shotengai bukan sekadar pusat perbelanjaan biasa, melainkan sebuah portal menuju nostalgia, khususnya ke zaman Showa (1926-1989). Di tengah kepungan pusat perbelanjaan modern dan toko-toko waralaba global, shotengai tetap bertahan dengan pesonanya yang otentik. Di sinilah kita bisa menemukan toko-toko kelontong milik keluarga, aroma masakan rumahan yang menguar dari kedai-kedai kecil, serta interaksi hangat antara penjual dan pembeli yang mungkin sudah jarang kita temui.

Bagi para traveler yang mencari pengalaman berbeda, menjelajahi shotengai adalah cara terbaik untuk menyelami budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang yang sesungguhnya.

1. Daiba 1-chome Shotengai menyuguhkan replika suasana Tokyo masa lampau

Daiba 1-chome (Whity, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Terletak di dalam pusat perbelanjaan Decks Tokyo Beach di Odaiba, Daiba 1-chome Shotengai adalah sebuah replika sempurna dari jalan perbelanjaan Jepang pada era 1950-60an. Begitu melangkahkan kaki ke dalamnya, pengunjung akan langsung disambut oleh atmosfer retro yang sangat kental. Dekorasi dan pajangan barang-barang antik dari zaman Showa berhasil menciptakan ilusi perjalanan waktu yang menakjubkan.

Di sepanjang jalan ini, berjejer kios-kios kecil yang menjual aneka jajanan dan permen tradisional (dagashi) dengan kemasan warna-warni yang membangkitkan kenangan masa kecil. Selain itu, terdapat pula pusat permainan arkade retro yang akan membuat para pencinta gim klasik merasa betah. Pengunjung dapat mencoba berbagai mesin gim kuno, mulai dari balap mobil hingga permainan capit boneka yang ikonik.

2. Yanaka Ginza menawarkan pesona Tokyo yang tak tersentuh modernisasi

Yanaka Ginza (kolshica from Yanaka, Taito, Tokyo, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Berbeda dengan Daiba yang merupakan sebuah replika, Yanaka Ginza adalah shotengai yang benar-benar hidup dan bernapas dalam suasana Tokyo tempo dulu. Kawasan Yanaka merupakan salah satu dari sedikit area di Tokyo yang selamat dari gempuran bom pada Perang Dunia II, sehingga atmosfer sebelum perang masih sangat terasa di sini. Jalan perbelanjaan sepanjang 170 meter ini dipenuhi oleh toko-toko kecil milik keluarga yang telah berdiri selama beberapa generasi.

Salah satu ikon dari Yanaka Ginza adalah tangga "Yuyake Dandan" yang berarti "tangga matahari terbenam". Dari puncak tangga ini, pengunjung bisa menikmati pemandangan shotengai yang bermandikan cahaya senja, sebuah panorama klasik Tokyo yang sangat fotogenik. Yanaka Ginza juga dikenal sebagai "kota kucing", di mana banyak kucing liar yang ramah berkeliaran dan menjadi maskot tidak resmi kawasan ini. Di sini, pengunjung dapat mencicipi aneka jajanan lezat seperti menchi-katsu (kroket daging cincang) sambil berinteraksi dengan para penduduk lokal yang hangat.

3. Togoshi Ginza menjadi surga bagi para pencinta kroket

Togoshi Ginza (Kaze315, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Dengan panjang mencapai 1,3 kilometer, Togoshi Ginza disebut sebagai shotengai terpanjang di Tokyo. Meskipun menyandang nama "Ginza", jangan bayangkan kawasan ini sebagai distrik perbelanjaan mewah. Sebaliknya, Togoshi Ginza menawarkan suasana yang lebih santai, bersahaja, dan membumi, di mana penduduk lokal melakukan aktivitas sehari-hari mereka.

Togoshi Ginza sangat terkenal dengan korokke (kroket) dan menjadi surga bagi para penggemarnya. Puluhan toko di sepanjang jalan ini menjual kroket dengan berbagai varian rasa yang unik, mulai dari kroket kentang klasik hingga kroket rasa oden dan gyoza. Selain itu, shotengai ini juga diramaikan oleh sekitar 400 toko yang menjual berbagai macam kebutuhan, mulai dari sayuran segar, ikan, hingga pakaian dan peralatan rumah tangga.

4. Asakusa Chika Shotengai mengajak pengunjung bertualang di bawah tanah

Stasiun Asakusa (Kakidai, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Bagi yang mencari pengalaman yang lebih unik dan "tersembunyi", Asakusa Chika Shotengai adalah jawabannya. Terletak di bawah tanah dan terhubung langsung dengan Stasiun Asakusa, inilah jalan perbelanjaan bawah tanah tertua di Jepang. Dengan langit-langit rendah yang dihiasi labirin pipa dan papan-papan nama toko yang bernuansa vintage, tempat ini seolah membekukan waktu di era Showa.

Meskipun terlihat sedikit usang, suasana di shotengai bawah tanah ini sangat hangat dan ramah. Pengunjung dapat menemukan berbagai restoran bergaya Showa yang menyajikan hidangan-hidangan autentik dengan harga yang sangat terjangkau. Salah satu yang paling legendaris adalah Fuku-chan, sebuah kedai yakisoba yang selalu ramai oleh pengunjung. Menjelajahi lorong-lorong Asakusa Chika Shotengai akan memberikan sensasi petualangan yang berbeda dari destinasi wisata Asakusa pada umumnya.

5. Nakano Sun Mall menjadi titik pertemuan budaya pop dan tradisi

Nakano Sun Mall (Charlie fong, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Nakano Sun Mall adalah sebuah hibrida unik yang berhasil memadukan pesona shotengai tradisional dengan budaya pop modern Jepang. Jalan perbelanjaan sepanjang 225 meter ini selalu ramai dan dipenuhi oleh berbagai macam toko, mulai dari apotek, toko pakaian, hingga restoran dan pusat gim. Suasananya yang hidup menjadikannya tempat yang populer bagi penduduk lokal untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Namun, daya tarik utama menanti di ujung jalan ini yakni Nakano Broadway. Di sinilah shotengai bertransformasi menjadi pusat budaya otaku, sebuah kompleks bertingkat yang dipenuhi oleh ratusan toko kecil yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan anime, manga, figure, gim video retro, dan berbagai koleksi budaya pop lainnya. Perpaduan kontras antara suasana tradisional Nakano Sun Mall dan denyut subkultur di Nakano Broadway menciptakan sebuah pengalaman yang unik dan menarik, menunjukkan bagaimana masa lalu dan masa kini dapat hidup berdampingan secara harmonis di Jepang.

Dari replika yang detail hingga jalanan otentik yang tak lekang oleh waktu, setiap shotengai menawarkan jendela unik untuk mengintip kehidupan masa lalu Jepang. Mengunjungi tempat-tempat ini bukan hanya sekadar berbelanja, tetapi juga sebuah perjalanan untuk merasakan kehangatan dan jiwa sejati dari sebuah komunitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team