Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
7 Situs Warisan Dunia UNESCO di Arab Saudi, Ada Kota Kuno hingga Peninggalan Bersejarah
potret salah satu situs UNESCO Arab Saudi (commons.wikimedia.org/Ali Lajami)

Arab Saudi selama ini identik dengan Makkah dan Madinah sebagai pusat spiritual umat Islam dunia. Namun, di balik citra religius tersebut, Negeri Gurun ini ternyata menyimpan jejak peradaban kuno, kota dagang legendaris, oasis raksasa, hingga seni batu prasejarah yang usianya mencapai ribuan tahun. Banyak orang tidak menyangka bahwa Arab Saudi memiliki warisan budaya dan alam yang begitu megah sampai diakui langsung oleh UNESCO sebagai bagian penting dari sejarah umat manusia. Dari makam batu raksasa di tengah gurun hingga kota tua yang dulu menjadi gerbang utama para jamaah haji, semuanya menyimpan kisah yang terasa seperti dunia lain.

Menariknya lagi, beberapa situs UNESCO di Arab Saudi justru masih relatif underrated dibanding situs terkenal dunia, seperti Petra di Yordania atau Piramida Mesir. Padahal, secara arkeologis dan historis, banyak tempat di Arab Saudi punya nilai yang tidak kalah luar biasa. Perpaduan antara sejarah Islam, jalur perdagangan kuno, budaya Arab pra-Islam, dan lanskap gurun ekstrem membuat situs-situs ini terasa sangat unik. Tidak heran jika dalam beberapa tahun terakhir Arab Saudi mulai serius membuka sektor pariwisatanya kepada dunia dan menjadikan situs-situs UNESCO tersebut sebagai ikon wisata internasional baru.

Penasaran, kan? Yuk, kita jelajahi satu per satu situs-situs tersebut!

1. Hegra Archaeological Site

potret Hegra Archaeological Site (commons.wikimedia.org/Prof. Mortel)

Hegra atau Mada’in Saleh merupakan situs UNESCO pertama Arab Saudi yang resmi ditetapkan pada 2008. Situs ini sering dijuluki sebagai “Petra kedua” karena sama-sama dibangun oleh bangsa Nabatean, peradaban kuno yang terkenal sangat maju dalam perdagangan dan teknik arsitektur batu. Lokasinya berada di kawasan AlUla, Provinsi Madinah dan dipenuhi makam raksasa yang dipahat langsung pada tebing batu pasir gurun. Pemandangannya terlihat sangat dramatis, terutama saat matahari terbit dan terbenam ketika warna batu berubah menjadi jingga keemasan. Menurut UNESCO, Hegra memiliki lebih dari 100 makam monumental yang menunjukkan tingginya kemampuan teknik dan seni bangsa Nabatean.

Selain makam megah, Hegra juga memiliki sistem pengelolaan air yang sangat canggih untuk ukuran wilayah gurun ekstrem. Bangsa Nabatean diketahui membangun sumur, kanal, dan penampungan air demi mempertahankan kehidupan di tengah iklim yang keras. Para arkeolog menganggap kemampuan ini sebagai salah satu alasan utama mengapa peradaban mereka bisa berkembang menjadi kekuatan dagang penting di Jazirah Arab kuno. Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa Hegra dulu menjadi titik penting perdagangan rempah-rempah dan dupa antara Arab Selatan, Mesir, dan Mediterania.

Hal yang membuat Hegra semakin menarik adalah nuansa misteriusnya. Dalam tradisi Islam, kawasan Mada’in Saleh sering dikaitkan dengan kaum Tsamud yang disebut dalam Al-Qur’an. Karena itulah tempat ini dianggap sakral dan penuh legenda. Kini, pemerintah Arab Saudi mulai menjadikannya pusat wisata budaya internasional melalui proyek besar AlUla yang juga melibatkan konservasi arkeologi modern dan festival seni dunia.

2. Historic Jeddah, The Gate to Makkah

potret Kota Kuno Balad di Jeddah (pexels.com/abdullah alallah)

Kota tua Jeddah atau Al-Balad merupakan salah satu kawasan paling historis di Arab Saudi karena selama berabad-abad menjadi gerbang utama jamaah haji menuju Makkah melalui Laut Merah. Kawasan ini resmi masuk daftar UNESCO pada 2014 berkat nilai sejarah dan arsitekturnya yang sangat khas. Rumah-rumah kuno di sini dibangun menggunakan batu karang Laut Merah dan dihiasi jendela kayu besar bernama rawasheen yang menjadi simbol budaya Hijaz.

Menurut UNESCO, Jeddah menjadi pusat perdagangan internasional penting sejak abad ke-7 Masehi ketika kota ini mulai berfungsi sebagai pelabuhan utama menuju kota suci Islam.

Berjalan di Al-Balad terasa seperti kembali ke masa lalu. Gang-gang sempit, pasar tradisional, aroma rempah-rempah, dan bangunan tua berusia ratusan tahun menciptakan suasana yang sangat berbeda dibanding pencakar langit modern Arab Saudi. Banyak rumah saudagar kaya di kawasan ini dulunya menjadi tempat singgah pedagang dari India, Afrika, Asia Tenggara, hingga Turki. Hal itu membuat budaya Jeddah berkembang menjadi sangat kosmopolitan dibanding wilayah Arab Saudi lainnya.

Meski begitu, kawasan ini sempat mengalami ancaman kerusakan akibat modernisasi dan kurangnya konservasi selama puluhan tahun. UNESCO dan pemerintah Saudi kini aktif melakukan restorasi besar-besaran agar identitas sejarah Jeddah tetap bertahan. Upaya tersebut termasuk perbaikan rumah tradisional, revitalisasi pasar lama, hingga promosi wisata budaya internasional.

3. At-Turaif District in ad-Dir’iyah

potret arsitektur di At-Turaif Diriyah (commons.wikimedia.org/Radosław Botev)

At-Turaif di Diriyah dikenal sebagai tempat lahirnya negara Arab Saudi modern sekaligus pusat awal Dinasti Saud. Situs ini ditetapkan UNESCO pada 2010 karena dianggap memiliki nilai sejarah politik dan budaya yang sangat penting bagi Jazirah Arab. Kompleks ini dipenuhi bangunan tanah liat bergaya Najd yang menjadi ciri khas arsitektur tradisional wilayah tengah Saudi. Menurut UNESCO, Diriyah pernah menjadi pusat kekuasaan penting pada abad ke-18 dan memainkan peran besar dalam penyebaran reformasi Islam di kawasan Arab.

Yang membuat At-Turaif unik adalah tampilannya yang benar-benar menyatu dengan lanskap gurun. Dinding-dinding lumpur berwarna cokelat keemasan tampak seperti muncul langsung dari pasir gurun Riyadh. Teknik konstruksi tradisional ini ternyata sangat efektif menghadapi suhu panas ekstrem karena mampu menjaga suhu interior tetap relatif sejuk. Banyak arsitek modern bahkan mulai mempelajari kembali metode tradisional Najd sebagai inspirasi desain ramah lingkungan.

Kini Diriyah sedang dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya premium dengan museum, restoran, dan kawasan seni modern tanpa menghilangkan karakter sejarahnya. Pemerintah Saudi bahkan menjadikannya simbol identitas nasional baru dalam proyek Vision 2030.

4. Rock Art in the Hail Region

potret seni cadas di Hail (commons.wikimedia.org/Heritage Commission)

Situs seni cadas di wilayah Ha’il menyimpan ribuan ukiran batu prasejarah yang diperkirakan berusia lebih dari 10 ribu tahun. UNESCO menetapkannya sebagai warisan dunia pada 2015 karena dianggap memberikan gambaran luar biasa mengenai kehidupan manusia purba di Jazirah Arab. Ukiran tersebut menampilkan manusia, hewan, aktivitas berburu, hingga ritual sosial yang menunjukkan bahwa wilayah Arab dahulu jauh lebih hijau dibanding sekarang.

Para peneliti menemukan gambar-gambar unta, singa, ibex, bahkan anjing pemburu pada dinding batu gurun. Temuan ini menjadi bukti penting perubahan iklim besar yang pernah terjadi di Semenanjung Arab. Dulu kawasan tersebut dipercaya memiliki danau, vegetasi, dan satwa liar yang jauh lebih beragam dibanding sekarang. Karena itu, situs Ha’il bukan hanya penting secara budaya, tetapi juga bagi penelitian iklim dan migrasi manusia purba.

Selain nilai ilmiahnya, situs ini juga terasa artistik karena ukiran batu dibuat dengan detail luar biasa meski menggunakan alat sederhana. Banyak ahli menyebut seni cadas Ha’il sebagai salah satu koleksi petroglyph terbaik di Timur Tengah.

5. Al-Ahsa Oasis

ilustrasi oasis di gurun (unsplash / Sandra Gabriel)

Al-Ahsa Oasis merupakan oasis terbesar di dunia dan resmi menjadi situs UNESCO pada 2018. Tempat ini memiliki jutaan pohon kurma, mata air alami, kanal irigasi kuno, serta permukiman bersejarah yang menunjukkan bagaimana manusia mampu membangun peradaban besar di tengah gurun ekstrem. UNESCO menyebut Al-Ahsa sebagai contoh luar biasa interaksi manusia dengan lingkungan gurun selama ribuan tahun.

Yang mengejutkan, oasis ini bukan sekadar area hijau kecil di gurun, melainkan lanskap luas yang penuh kehidupan dan aktivitas ekonomi sejak zaman kuno. Al-Ahsa pernah menjadi titik penting perdagangan regional dan terkenal karena produksi kurmanya yang berkualitas tinggi. Sistem pengairan tradisionalnya juga dianggap sangat maju dan berkelanjutan.

Kini Al-Ahsa menjadi simbol bagaimana masyarakat Arab kuno mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan ekstrem tanpa teknologi modern. Tempat ini juga semakin populer di kalangan wisatawan internasional karena perpaduan unik antara alam gurun dan budaya oasis tradisional.

6. Hima Cultural Area

potret Hima Cultural Area (commons.wikimedia.org/Heritage Commission)

Hima Cultural Area adalah situs UNESCO yang relatif baru karena baru ditetapkan pada 2021. Kawasan ini terkenal dengan ribuan prasasti kuno dan seni batu yang berasal dari berbagai periode sejarah Arab. Menurut UNESCO, Hima dulunya merupakan titik penting jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Arab Selatan, Mesopotamia, dan Mediterania.

Yang membuat Hima luar biasa adalah keberagaman bahasanya. Para arkeolog menemukan prasasti dalam berbagai aksara kuno seperti Musnad, Nabatean, Yunani, hingga Arab awal. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut dulu menjadi titik pertemuan budaya internasional yang sangat sibuk. Situs ini juga memiliki sumur kuno yang menjadi sumber air vital bagi para pedagang gurun.

Selain menjadi bukti penting sejarah perdagangan Arab kuno, Hima juga menunjukkan bagaimana wilayah Saudi pernah menjadi pusat pertukaran budaya lintas peradaban dunia. Karena itu, UNESCO menganggap situs ini memiliki nilai universal yang sangat tinggi.

7. Uruq Bani Ma’arid

potret Uruq Bani Maarid (commons.wikimedia.org/Saudi Press Agency (SPA))

Berbeda dari situs lain yang dominan budaya, Uruq Bani Ma’arid adalah situs UNESCO kategori alam pertama di Arab Saudi. Kawasan ini berada di tepi Rub’ al Khali atau Empty Quarter, salah satu gurun pasir terbesar di dunia. UNESCO menetapkannya pada 2023 karena ekosistem gurunnya yang unik dan penting bagi konservasi satwa langka seperti oryx Arab dan gazelle pasir.

Lanskap Uruq Bani Ma’arid benar-benar terasa seperti planet lain. Bukit pasir raksasa membentang tanpa akhir dengan suhu ekstrem yang bisa sangat panas di siang hari dan dingin pada malam hari. Meski terlihat tandus, kawasan ini ternyata menyimpan kehidupan liar yang sangat adaptif terhadap lingkungan keras.

Program konservasi di kawasan ini menjadi sangat penting karena beberapa spesies gurun Arab sempat hampir punah akibat perburuan dan perubahan lingkungan. Kini Uruq Bani Ma’arid menjadi simbol keberhasilan pelestarian alam di Timur Tengah sekaligus menunjukkan bahwa gurun pun memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa.

Arab Saudi ternyata bukan cuma tentang gurun pasir dan perjalanan ibadah haji. Di balik lanskapnya yang keras, negeri ini menyimpan jejak sejarah manusia yang sangat panjang, mulai dari peradaban kuno Nabatean, jalur perdagangan internasional, seni batu prasejarah, hingga oasis raksasa yang menopang kehidupan selama ribuan tahun. Banyak situs UNESCO di Saudi bahkan masih terasa “perawan” dibanding destinasi global lain, sehingga memberikan pengalaman eksplorasi yang jauh lebih autentik dan misterius.

Dengan proyek Vision 2030, Arab Saudi kini mulai membuka diri sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah dunia. Kombinasi antara konservasi warisan kuno dan pembangunan modern membuat negara ini perlahan berubah menjadi salah satu pusat wisata baru paling ambisius di Timur Tengah. Jika tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin situs-situs UNESCO Arab Saudi akan menjadi destinasi bucket list global dalam beberapa dekade mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team