Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Bedanya Imlek dan Cap Go Meh?

ilustrasi festival budaya China
ilustrasi festival budaya China (pexels.com/极星 贝)

Pagi itu, aroma dupa dan legitnya kue keranjang mulai tercium kuat di sudut-sudut pecinan, menandakan bahwa perayaan besar bagi masyarakat Tionghoa telah tiba. Kamu mungkin sering melihat lampion merah bergantungan dan barongsai yang menari lincah, tapi pernahkah kamu bertanya-tanya apa bedanya Imlek dan Cap Go Meh yang sering dirayakan secara berurutan ini? Memahami keduanya sangat penting agar kamu gak tertukar saat memberikan ucapan selamat atau ikut memeriahkan suasana festivalnya.

Kedua momen ini memiliki esensi, sejarah, dan tradisi unik yang membuatnya tetap spesial di hati setiap orang yang merayakannya secara turun-temurun. Berikut perbedaan antara Imlek dan Cap Go Meh.


1. Menilik sejarah di balik kedua perayaan

ilustrasi barongsai
ilustrasi barongsai (pexels.com/Andry Sasongko)

Sejarah Imlek bermula dari ribuan tahun lalu di daratan Tiongkok sebagai festival agraris untuk menyambut datangnya musim semi. Kamu perlu tahu bahwa pada masa kuno, perayaan ini merupakan bentuk syukur petani atas hasil panen dan doa agar tahun depan lebih subur. Selain itu, ada legenda populer tentang monster bernama "Nian" yang takut pada warna merah dan suara bising, sehingga menjadi cikal bakal tradisi petasan dan dekorasi merah yang kamu lihat sekarang. 

Nah, Imlek ini dirayakan setiap tanggal 1 bulan pertama dalam kalender lunar Tiongkok. Menilik dari bahasa, Imlek berasal dari kata “Im” yang bermakna bulan serta “Lek” yang berarti penanggalan. 

Sedangkan sejarah Cap Go Meh berakar dari tradisi Dinasti Han yang sudah ada sejak abad ke-2 sebelum masehi. Awalnya, perayaan ini dilakukan oleh para biksu yang menyalakan lampion untuk menghormati Sang Buddha pada hari ke-15 bulan pertama. “Cap” bermakna sepuluh, “Go” artinya lima, sedangkan “Meh” mengandung arti malam atau hari, itulah mengapa Cap Go Meh dirayakan pada hari ke-15 setelah Imlek. 

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang menjadi pesta rakyat besar-besaran di mana masyarakat memasang lampion warna-warni untuk memohon keselamatan kepada para dewa di malam bulan purnama pertama. 


2. Waktu pelaksanaan dan durasi perayaan

ilustrasi dekorasi Imlek
ilustrasi dekorasi Imlek (pexels.com/Markus Winkler)

Perbedaan paling mencolok adalah waktu pelaksanaannya dalam kalender lunar. Imlek dirayakan sebagai tanda dimulainya tahun baru, tepatnya pada tanggal satu bulan pertama (Zheng Yue) dalam penanggalan Tionghoa. Perayaan ini melambangkan titik awal yang baru, harapan yang segar, serta rasa syukur atas segala berkat yang telah diterima di tahun yang baru saja berlalu.

Sementara itu, Cap Go Meh adalah hari penutup dari seluruh rangkaian perayaan tahun baru tersebut yang jatuh pada hari ke-15. Nama "Cap Go Meh" sendiri diambil dari dialek Hokkien yang secara harfiah memiliki arti "malam kelima belas". Jadi, jika Imlek adalah acara pembuka yang sakral, maka perayaan ini adalah pesta puncak sekaligus tanda bahwa liburan tahun baru telah resmi berakhir bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.


3. Makna dan fokus utama perayaan

ilustrasi barongsai
ilustrasi barongsai (pexels.com/Mick Haupt)

Dari sisi filosofi dan tujuannya, Imlek jauh lebih menitikberatkan pada hubungan keluarga inti serta penghormatan kepada para leluhur di rumah. Kamu akan melihat banyak orang melakukan tradisi pulang kampung demi bisa makan malam bersama keluarga besar di malam menjelang tahun baru. Fokus utamanya adalah keintiman, doa bersama di altar keluarga, dan penyambutan rezeki baru dalam suasana rumah yang hangat dan cenderung tertutup.

Di sisi lain, Cap Go Meh mempunyai nuansa yang jauh lebih komunal dan bersifat publik karena merupakan sebuah pesta rakyat yang dinamis. Perayaan ini awalnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Thai Yi agar memberikan keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat luas di masa depan. Kamu akan merasakan energi yang lebih meledak-ledak karena acara ini melibatkan partisipasi ribuan orang di jalanan kota, bukan lagi sekadar di meja makan rumah saja.


4. Ragam hidangan khas yang disajikan

ilustrasi kue keranjang
ilustrasi kue keranjang (commons.wikimedia.org/ProjectManhattan)

Bicara soal kuliner, kamu pasti sudah sangat akrab dengan kue keranjang atau nian gao yang identik dengan suasana hari raya Imlek. Makanan manis ini melambangkan harapan akan pendapatan yang lebih tinggi dan pertumbuhan hidup yang manis di tahun mendatang. Selain itu, hidangan ikan juga wajib ada karena pelafalannya dalam bahasa Mandarin mirip dengan kata "sisa" yang bermakna kelimpahan rezeki sepanjang tahun.

Nah, saat memasuki momen penutupan tahun baru di hari ke-15, hidangan yang paling dicari di Indonesia biasanya adalah Lontong Cap Go Meh. Akulturasi budaya yang unik menghasilkan sajian lontong dengan opor ayam, bubuk kedelai, dan sambal goreng yang sangat melegenda dan menggugah selera. Di negara asalnya, masyarakat lebih sering menyantap Yuanxiao (bola nasi ketan) yang bulat sempurna sebagai simbol persatuan keluarga yang utuh tanpa terputus, lho.


5. Hiburan dan aktivitas yang berbeda

ilustrasi pembagian angpao saat Imlek
ilustrasi pembagian angpao saat Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Kegiatan saat hari H Imlek biasanya berlangsung lebih tenang dan banyak dilakukan di dalam rumah atau tempat ibadah seperti kelenteng. Kamu akan melihat tradisi pembagian angpao dari mereka yang sudah menikah kepada anak-anak atau saudara yang masih lajang sebagai simbol berbagi keberuntungan. Selain itu, ritual membersihkan rumah sebelum hari raya menjadi kewajiban untuk membuang segala kesialan yang menumpuk di tahun sebelumnya.

Berbanding terbalik dengan itu, perayaan hari ke-15 identik dengan karnaval besar yang sangat meriah dan penuh atraksi visual yang memukau. Kamu bisa menyaksikan atraksi Barongsai, Liong, hingga parade Tatung yang mempertunjukkan kekebalan tubuh seperti yang populer di wilayah Singkawang, Kalimantan Barat. Pesta lampion juga menjadi daya tarik utama yang membuat malam hari menjadi terang benderang dan penuh dengan kegembiraan warga yang tumpah ruah.


6. Simbolisme dan doa yang dipanjatkan

ilustrasi perayaan Imlek
ilustrasi perayaan Imlek (pexels.com/RDNE Stock project)

Saat Imlek tiba, doa-doa yang dipanjatkan biasanya bersifat sangat personal dan berkaitan erat dengan kemakmuran keluarga masing-masing individu. Kamu akan sering mendengar ucapan "Gong Xi Fa Cai" yang merupakan harapan agar lawan bicara mendapatkan kekayaan dan keberuntungan yang melimpah di tahun tersebut. Pemakaian warna merah yang dominan di setiap sudut berfungsi untuk mengusir nasib buruk dan memberikan energi positif bagi penghuni rumah.

Sedangkan pada malam Cap Go Meh, simbolisme lampion yang dilepaskan ke langit atau dipasang secara massal melambangkan cahaya harapan bagi masa depan seluruh komunitas. Doa yang dipanjatkan lebih mengarah pada kerukunan antar sesama manusia serta perdamaian di lingkungan tempat mereka tinggal bersama. 

Memahami apa bedanya Imlek dan Cap Go Meh tentu membuat kamu bisa lebih menghargai kekayaan budaya Tionghoa yang tumbuh subur dan berdampingan dengan budaya lokal di Indonesia. Keduanya memang saling berkaitan erat sebagai satu kesatuan rangkaian festival tahun baru, namun masing-masing memiliki fokus sejarah dan keunikan tersendiri. Semoga penjelasan ini menambah wawasanmu sehingga gak lagi bingung saat ikut memeriahkan suasana festival lampion yang indah di kota tempat tinggalmu.




This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febrianti Diah Kusumaningrum
EditorFebrianti Diah Kusumaningrum
Follow Us

Latest in Travel

See More

[QUIZ] Ibarat Pantai di Bali, Kamu Cocoknya Jadi Ini Lho!

17 Feb 2026, 06:10 WIBTravel