Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hatsumode
Hatsumode (commons.wikimedia.org/七厩拓)

Musim dingin di Jepang bukan hanya soal salju tebal dan pemandangan menakjubkan, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang khas, salah satunya adalah Hatsumode. Tradisi ini menjadi salah satu momen paling dinanti di awal tahun, di mana warga Jepang berbondong-bondong mengunjungi kuil atau shrine untuk berdoa demi kesehatan, keberuntungan, dan kesuksesan di tahun baru.

Bagi turis, pengalaman ini menawarkan kesempatan unik untuk menyelami kehidupan lokal sambil menikmati atmosfer musim dingin Jepang yang magis. Berikut, beberapa hal penting yang sebaiknya diketahui sebelum merasakan Hatsumode, mulai dari persiapan hingga etika yang berlaku di kuil dan shrine.

1. Warga Jepang memulai tahun dengan berdoa di kuil atau shrine

Hatsumode (commons.wikimedia.org/Ervaar Japan)

Hatsumode adalah momen di mana orang Jepang datang ke kuil atau shrine pertama kali di awal tahun untuk berdoa. Aktivitas ini biasanya dilakukan pada beberapa hari pertama Januari, terutama pada tanggal 1 hingga 3. Turis yang ikut serta bisa menyaksikan bagaimana pengunjung membeli amulet, menyalakan dupa, dan melempar koin sambil memanjatkan doa. Suasana ramai namun tertib ini memberi kesan hidup dan hangat meski udara musim dingin cukup menusuk.

Mengamati interaksi lokal di kuil memberikan perspektif berbeda tentang bagaimana masyarakat Jepang menempatkan spiritualitas dalam rutinitas awal tahun mereka. Selain itu, ritual ini juga diiringi oleh berbagai dekorasi khas, seperti shimenawa dan kadomatsu, yang menambah keindahan visual dan memperkaya pengalaman fotografer amatir maupun profesional. Kesempatan ini juga membuka pemahaman bagi turis tentang perbedaan tradisi Jepang dibandingkan dengan perayaan tahun baru di negara lain.

2. Berbagai ritual dan doa membawa arti mendalam

Hatsumode (commons.wikimedia.org/holycalamity)

Setiap ritual di Hatsumode memiliki makna tertentu, dari membungkuk, menyentak lonceng kuil, hingga melempar koin. Meskipun terlihat sederhana, semua langkah ini sarat simbolisme. Turis bisa belajar menghormati tradisi lokal dengan mengikuti gerakan yang benar, seperti membungkuk dua kali, bertepuk tangan dua kali, lalu satu kali membungkuk lagi. Aktivitas ini dipercaya membawa keberuntungan dan membersihkan energi negatif dari tahun sebelumnya.

Selain itu, banyak pengunjung membeli omikuji, semacam kertas ramalan keberuntungan. Turis bisa ikut mencoba menarik omikuji dan membaca hasilnya, lalu mengikatnya di tempat yang disediakan jika ramalan kurang baik. Ritual sederhana ini memberi pengalaman interaktif yang menyenangkan, sekaligus memberi wawasan budaya yang berbeda dari turis yang biasanya hanya berkeliling kuil tanpa ikut berpartisipasi.

3. Pilihan kuil dan shrine untuk turis

Hatsumode (commons.wikimedia.org/Igor1045)

Beberapa kuil dan shrine lebih populer di kalangan turis karena lokasi yang mudah dijangkau atau keunikan tradisinya. Contohnya, Meiji Shrine di Tokyo dan Fushimi Inari Taisha di Kyoto selalu dipenuhi pengunjung saat Hatsumode. Kuil-kuil ini tidak hanya terkenal karena arsitektur dan sejarahnya, tetapi juga karena akses yang ramah bagi turis.

Pengunjung dapat memilih waktu kunjungan yang lebih pagi untuk menghindari keramaian atau malam hari untuk menikmati iluminasi musim dingin. Setiap lokasi menawarkan nuansa berbeda, dari yang ramai dan hidup hingga yang tenang dan spiritual. Dengan menyesuaikan pilihan kuil, turis bisa mendapatkan pengalaman yang sesuai dengan preferensi mereka, apakah ingin sekadar menikmati atmosfer atau benar-benar mendalami tradisi.

4. Kuliner dan souvenir menambah warna Hatsumode

Amazake (commons.wikimedia.org/Opponent)

Hatsumode bukan hanya soal doa dan ritual, tapi juga soal menikmati kuliner khas musim dingin Jepang yang tersedia di sekitar kuil. Turis bisa mencicipi amazake, minuman manis hangat dari beras fermentasi atau yaki mochi yang hangat dan lezat. Stalls di kuil biasanya juga menawarkan berbagai camilan dan souvenir kecil seperti gantungan kunci atau charm keberuntungan.

Mencoba makanan lokal dan membeli oleh-oleh menjadi bagian pengalaman yang menyenangkan karena bisa dilakukan sambil menunggu giliran melakukan doa. Hal ini memberi nuansa lebih lengkap pada perjalanan, menggabungkan aspek spiritual dan sensori. Maka dari itu, turis tidak hanya membawa pulang foto, tetapi juga kenangan cita rasa khas musim dingin Jepang.

5. Etika dan tips agar turis tetap nyaman

Hatsumode (commons.wikimedia.org/Dick Thomas Johnson)

Mengikuti Hatsumode membutuhkan sedikit pemahaman etika agar pengalaman tetap nyaman. Misalnya, berpakaian hangat dan sopan, menjaga jarak saat mengantri, serta menghormati aturan kuil seperti tidak berlari atau berteriak. Turis juga disarankan membawa uang koin kecil untuk doa karena lempar koin merupakan bagian dari ritual.

Selain itu, penting untuk mempersiapkan kamera atau ponsel dengan bijak; mengambil foto diperbolehkan, tetapi sebaiknya tidak mengganggu pengunjung lain. Dengan mengikuti panduan ini, turis bisa merasakan keindahan tradisi tanpa membuat diri sendiri atau orang lain merasa tidak nyaman. Selain itu turis juga mendapatkan pengalaman yang lebih otentik dan mendalam.

Musim dingin Jepang memang menawarkan banyak pesona dan ikut Hatsumode memberi turis pengalaman yang tidak terlupakan. Tradisi ini bukan hanya soal ritual, tapi juga tentang memahami budaya lokal dari dekat. Apakah kamu siap menjadikan tahun baru berikutnya lebih berkesan dengan merasakan langsung kehangatan Hatsumode di Jepang?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team