Perjalanan usaha ini juga tidak lepas dari dukungan perbankan. Subiyanto mengungkapkan, kemitraan dengan BRI sudah dimulai sejak 1992 dengan modal awal Rp250.000.
"Dulu sebelum ada modal dari BRI, kami beli ayam ke tengkulak dengan sistem utang, harganya jauh lebih mahal. Setelah ada pinjaman dari BRI, kami bisa beli cash dan harga jual ke konsumen pun jadi lebih terjangkau," jelasnya.
Seiring waktu, usaha Ayam Panggang Bu Setu terus berkembang dengan akses permodalan yang lebih luas. Mereka juga mulai memanfaatkan layanan digital untuk mengelola usaha, sekaligus memperluas fasilitas restoran agar lebih nyaman bagi pelanggan.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung UMKM.
“Kami senantiasa berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah, terutama pada sektor-sektor produktif. Kisah pelaku usaha Ayam Panggang Bu Setu menjadi contoh nyata dukungan pendanaan BRI dalam mendorong perekonomian masyarakat sekaligus menjadi kisah inspiratif yang dapat ditiru oleh pelaku usaha lainnya,” tegas Dhanny.
Hingga Desember 2025, BRI tercatat telah menyalurkan KUR sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur di seluruh Indonesia. Lebih dari 60 persen penyaluran tersebut dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi mencapai 64,49 persen.
Kisah Ayam Panggang Bu Setu jadi bukti bahwa konsistensi menjaga kualitas, dipadukan dengan akses permodalan yang tepat, bisa membawa usaha kecil bertahan bahkan berkembang lintas generasi. (WEB)