Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Dari Baso Aci Rumahan, Tercabaikan Tumbuh lewat Pemberdayaan BRI

Dari Baso Aci Rumahan, Tercabaikan Tumbuh lewat Pemberdayaan BRI
Usaha kuliner Tercabaikan kini berkembang menjadi salah satu brand makanan lokal di Bandung yang menawarkan berbagai menu tradisional dengan sentuhan modern. (dok. BRI)
Intinya Sih
5W1H
  • Tercabaikan bermula dari eksperimen baso aci rumahan oleh Inggra DP yang mendapat respons positif hingga berkembang menjadi bisnis kuliner lokal populer di Bandung.
  • Usaha ini terus berinovasi dengan menggabungkan cita rasa tradisional dan modern, serta memperluas pemasaran melalui kanal digital seperti media sosial dan marketplace.
  • Inggra memanfaatkan pelatihan LinkUMKM BRI untuk meningkatkan kapasitas bisnis, bagian dari ekosistem yang telah membantu jutaan UMKM naik kelas secara berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Berawal dari dapur rumahan, usaha kuliner Tercabaikan kini berkembang menjadi salah satu brand makanan lokal di Bandung yang menawarkan berbagai menu tradisional dengan sentuhan modern.

Mulai dari baso aci, cimol bojot, cireng kuah, mie kocok, kupat tahu, mie ayam, hingga cilok, bisnis ini terus berinovasi untuk mengikuti selera pasar sekaligus memperluas jangkauan usahanya.

1. Berawal dari coba-coba baso aci di rumah

Potret cimol bojot (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)
Potret cimol bojot (IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra)

Pemilik Tercabaikan, Inggra DP, mengungkapkan bahwa ide usaha ini muncul setelah melihat tingginya minat masyarakat terhadap baso aci saat berkunjung ke Garut. Dari situ, ia mulai bereksperimen membuat versi sendiri di rumah.

“Usaha ini berawal dari keputusan saya untuk berhenti dari pekerjaan sebelumnya. Ide membuat baso aci muncul ketika saya berkunjung ke Garut dan melihat sebuah toko baso aci yang sangat ramai hingga para pembeli rela mengantre sejak subuh. Dari situ timbul rasa penasaran, lalu saya mencoba membuat versi sendiri di rumah dan menjadikannya oleh-oleh untuk keluarga,” ujarnya.

Respons positif dari orang terdekat menjadi titik awal berkembangnya usaha. Bahkan pada 2017, Inggra membagikan baso aci saat acara pernikahannya, yang kemudian memicu pesanan pre-order dan menjadi fondasi bisnis Tercabaikan.

2. Inovasi menu tradisional dengan sentuhan modern

Ilustrasi baso aci (freepik.com/ikarahma)
Ilustrasi baso aci (freepik.com/ikarahma)

Tercabaikan terus mengembangkan produknya agar tetap relevan di pasar. Keunikan produk terletak pada eksplorasi rasa dan topping, seperti kupat tahu dengan sambal geprek atau chili oil, hingga baso aci dengan berbagai pilihan kuah seperti keju, seblak, dan soto.

Di sisi lain, tantangan juga sempat dihadapi, terutama pada fase awal saat seluruh proses bisnis mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga pemasaran masih dilakukan secara mandiri. Seiring waktu, pemasaran diperluas lewat kanal digital seperti website, marketplace, media sosial, WhatsApp Business, hingga layanan pesan antar.

3. Naik kelas lewat pelatihan dan ekosistem LinkUMKM BRI

Gedung BRI. (Dok. BRI)
Gedung BRI. (Dok. BRI)

Dalam mengembangkan bisnis, Inggra aktif mengikuti pelatihan, salah satunya melalui platform LinkUMKM BRI yang dikenalnya sejak 2020 di Rumah BUMN Bandung.

“Saya pertama kali mengenal LinkUMKM BRI sekitar tahun 2020 saat mengikuti pelatihan di Rumah BUMN. Dari sanalah saya diperkenalkan dengan berbagai program pelatihan yang disediakan oleh LinkUMKM. Menurut saya program ini sangat bermanfaat karena menyediakan pelatihan gratis yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha, bahkan hingga topik-topik yang sedang tren seperti pelatihan mengenai kecerdasan buatan,” jelasnya.

Hingga akhir 2025, LinkUMKM telah dimanfaatkan oleh 14,98 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha secara daring, dengan enam fitur utama seperti UMKM Smart, Rumah BUMN, hingga Etalase Digital. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengatakan platform ini dirancang untuk membantu UMKM berkembang secara berkelanjutan.

“Melalui LinkUMKM, BRI mendorong pelaku UMKM untuk terus meningkatkan kapasitas usaha melalui akses pelatihan yang relevan dengan kebutuhan bisnis saat ini. Ekosistem ini juga membuka ruang bagi pelaku usaha untuk memperluas jejaring sekaligus menangkap peluang pasar yang semakin berkembang di era digital. Dengan penguatan kapasitas yang berkelanjutan, kami berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas dan memberikan kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional,” ujarnya. (WEB)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
Ridho Fauzan
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in Business

See More