Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Destinasi dengan View Sunset Terbaik Dunia, Panoramanya Memukau!
Pemandangan Wadi Rum (pexels.com/Oday Hazeem)
  • Riset Kuoni bersama meteorolog Jim Dale menilai 165 destinasi melalui tutupan awan, polusi cahaya, curah hujan, angin, kecerahan buatan, dan durasi golden hour.

  • Wadi Rum, Yordania, memimpin dengan skor 95,92, disusul Sossusvlei dan Damaraland di Namibia; lanskap gurun serta langit terbuka menjadi faktor utama.

  • Daftar juga mencakup Atacama, Wahiba Sands, Etosha, Okavango, San Joaquin, Uluru-Kata Tjuta, dan Akropolis Lindos, yang memadukan sunset dengan satwa, budaya, pertanian, atau sejarah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menikmati matahari terbenam atau sunset menjadi salah satu pengalaman yang dicari saat berlibur. Perubahan warna langit dari kuning keemasan menjadi jingga, merah, hingga ungu menciptakan pemandangan yang memanjakan mata. Keindahan sunset tidak hanya ditentukan oleh lanskap, tetapi juga kondisi cuaca, tingkat polusi cahaya, dan lamanya cahaya keemasan muncul sebelum matahari menghilang di balik cakrawala.

Untuk menemukan destinasi dengan sunset terbaik, perusahaan perjalanan Kuoni bekerja sama dengan Jim Dale, ahli meteorologi yang memimpin British Weather Services sejak 1987. Riset tersebut menganalisis 165 destinasi populer di dunia berdasarkan sejumlah indikator, seperti tutupan awan, polusi cahaya, tingkat kecerahan buatan, curah hujan, kecepatan angin, dan durasi rata-rata golden hour.

Selengkapnya, berikut sepuluh destinasi dengan view sunset terbaik di dunia berdasarkan pemeringkatan tersebut.

1. Wadi Rum, Yordania

Wadi Rum di Yordania menempati posisi pertama dengan skor golden hour 95,92 dari 100. Kawasan gurun yang telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2011 ini menawarkan hamparan bukit pasir merah, ngarai sempit, serta tebing batu raksasa yang menciptakan lanskap menyerupai permukaan Mars. Tak heran jika Wadi Rum kerap menjadi lokasi pengambilan gambar film, termasuk The Martian dan Lawrence of Arabia.

Saat matahari mulai terbenam, warna bebatuan, dan bukit pasir di kawasan ini berubah menjadi jingga kemerahan. Tutupan awannya yang relatif rendah, sekitar 15,3 persen, turut mendukung pemandangan langit yang terbuka. Minimnya polusi cahaya juga membuat pengalaman menikmati sunset dapat dilanjutkan dengan mengamati bintang ketika malam tiba.

Pengunjung bisa mengikuti tur matahari terbenam menggunakan kendaraan khusus untuk menjelajahi kawasan gurun. Menginap di perkemahan tradisional masyarakat Badui juga menjadi pilihan menarik untuk menikmati suasana Wadi Rum lebih lama. Dengan curah hujan yang sangat rendah dan kecepatan angin rata-rata sekitar 20,1 km/jam, kawasan ini menawarkan kondisi yang mendukung pengalaman golden hour.

2. Sossusvlei, Namibia

Potret Sossusvlei (pixabay.com/MillerGruppe)

Sossusvlei di Namibia menempati posisi kedua dengan skor 94,93. Destinasi ini terkenal dengan bukit pasir berwarna merah bata yang menjulang tinggi di tengah lanskap gurun Namib. Beberapa bukit pasirnya mencapai ketinggian lebih dari 300 meter, menciptakan pemandangan yang dramatis ketika terkena cahaya matahari sore.

Salah satu daya tarik Sossusvlei adalah Deadvlei, dataran tanah liat putih yang dihiasi kerangka pohon-pohon mati berwarna gelap. Kontras antara permukaan tanah yang pucat, pepohonan kering, dan bukit pasir kemerahan membuat kawasan ini terlihat unik. Ketika golden hour, bayangan panjang dari pepohonan dan lekukan bukit pasir menciptakan komposisi pemandangan yang menarik.

Sossusvlei memiliki tutupan awan sekitar 14,8 persen, salah satu yang terendah dalam daftar destinasi dengan skor tertinggi. Durasi golden hour-nya mencapai lebih dari 27 menit, sehingga pengunjung memiliki waktu untuk menikmati perubahan warna lanskap secara bertahap.

Elim Dune, yang berada tidak jauh dari gerbang Sesriem, dapat menjadi salah satu pilihan lokasi untuk menikmati matahari terbenam. Namun, wisatawan perlu memeriksa jam operasional kawasan dan aturan kunjungan sebelum berangkat karena akses menuju beberapa lokasi dapat dibatasi setelah waktu tertentu.

3. Damaraland, Namibia

Ada pula Damaraland yang menempati posisi ketiga dengan skor 91,83. Berbeda dari Sossusvlei yang terkenal dengan hamparan bukit pasir, Damaraland menawarkan lanskap lebih beragam berupa pegunungan berbatu, dataran luas, dan formasi batuan yang terbentuk selama jutaan tahun.

Kawasan ini juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang penting. Damaraland dikenal dengan peninggalan seni cadas berupa ukiran pada permukaan batu yang dibuat oleh masyarakat pada masa lampau. Salah satu kawasan pentingnya adalah Twyfelfontein, yang menyimpan ribuan ukiran batu dan telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

Pemandangan matahari terbenam di Damaraland terasa istimewa, karena cahaya keemasan menyentuh permukaan batu dan pegunungan, menghasilkan gradasi warna yang berubah seiring turunnya matahari. Durasi golden hour di kawasan ini sekitar 26,9 menit, dengan tutupan awan rata-rata 20,6 persen.

Menurut Jim Dale, keberadaan awan tidak selalu mengurangi keindahan matahari terbenam. Awan di dekat cakrawala justru dapat mempertegas warna dan bentuk langit, sekaligus menciptakan efek cahaya yang menarik pada lanskap di bawahnya. Oleh karena itu, sedikit awan terkadang justru membuat pemandangan sunset terlihat lebih dramatis.

4. Gurun Atacama, Chili

Potret Gurun Atacama (pexels.com/Marek Piwnicki)

Gurun Atacama di Cile menempati posisi keempat dengan skor 91,23. Terletak di kawasan Amerika Selatan, Atacama dikenal sebagai salah satu gurun nonkutub terkering di dunia. Bentang alamnya didominasi dataran garam, tanah berbatu, dan lanskap tandus yang sekilas menyerupai permukaan planet lain.

Salah satu daya tarik kawasan ini adalah laguna garam yang menjadi habitat bagi flamingo. Di sejumlah area, pengunjung juga dapat menemukan satwa khas kawasan Andes, seperti alpaka dan rubah Andes. Perpaduan lanskap gurun dengan keberadaan satwa liar membuat Atacama menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi gurun pada umumnya.

Saat matahari mulai turun, cahaya keemasan menyapu dataran luas dan pegunungan di kejauhan. Kondisi langit yang relatif kering mendukung pemandangan matahari terbenam dengan warna yang kontras. Tingkat polusi cahaya di beberapa bagian kawasan menjadi faktor yang perlu diperhatikan, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati langit malam setelah sunset.

Mendapatkan pengalaman yang lebih maksimal, pengunjung dapat memilih lokasi yang jauh dari permukiman dan sumber cahaya buatan. Kawasan terpencil dengan cakrawala terbuka juga memberikan kesempatan lebih baik untuk menikmati perubahan warna langit tanpa banyak gangguan visual.

5. Wahiba Sands, Oman

Wahiba Sands di Oman, yang juga dikenal sebagai Sharqiya Sands, berada di posisi kelima dengan skor 89,89. Kawasan gurun di bagian timur Oman ini memiliki hamparan bukit pasir keemasan dengan ketinggian mencapai sekitar 100 meter. Bentuk bukit pasir yang bergelombang menciptakan lanskap menarik, terutama ketika cahaya matahari sore mulai berubah menjadi jingga.

Selain menikmati pemandangan, pengunjung dapat mencoba berbagai aktivitas, seperti berkendara menggunakan kendaraan 4x4, menunggang unta, atau bermain seluncur pasir. Pengalaman tersebut bisa dilanjutkan dengan menginap di perkemahan gurun untuk menikmati suasana malam yang jauh dari keramaian kota.

Durasi golden hour di Wahiba Sands mencapai sekitar 27,2 menit. Matahari umumnya terbenam pada rentang pukul 17.00 hingga 18.00, meski waktu pastinya bergantung pada tanggal kunjungan.

Perubahan cahaya selama periode tersebut membuat warna bukit pasir terlihat semakin pekat dan menghasilkan bayangan yang tegas. Untuk menemukan titik terbaik menikmati sunset, wisatawan juga bisa meminta rekomendasi pemandu atau masyarakat setempat.

6. Taman Nasional Etosha, Namibia

Potret safari di Afrika (unsplash.com/ray rui)

Taman Nasional Etosha di Namibia menempati posisi keenam dengan skor 88,45. Berbeda dari destinasi gurun sebelumnya, kawasan ini terkenal sebagai salah satu tujuan safari di Afrika. Pengunjung berkesempatan melihat berbagai satwa liar, termasuk gajah, singa, badak, dan zebra, terutama di sekitar sumber air yang menjadi tempat berkumpulnya hewan.

Salah satu ciri khas Etosha adalah Etosha Pan, dataran garam luas yang mendominasi bagian tengah taman nasional. Saat matahari terbenam, bentang alam yang terbuka membuat perubahan warna langit terlihat jelas. Gradasi jingga dan ungu dapat muncul di cakrawala, menciptakan pemandangan yang menarik dengan siluet satwa liar di kejauhan.

Beberapa titik pengamatan, seperti Chudop Waterhole, memungkinkan pengunjung menikmati pemandangan matahari terbenam sambil mengamati satwa yang datang untuk minum. Pilihan lainnya adalah menginap di akomodasi di sekitar Etosha Pan, agar lebih mudah menikmati suasana taman nasional pada waktu yang berbeda.

Tutupan awan di kawasan ini mencapai sekitar 28,5 persen, lebih tinggi dibandingkan beberapa destinasi Namibia lainnya dalam daftar. Meski demikian, awan yang bergerak setelah hujan dapat menghasilkan berkas cahaya yang menembus langit dan membuat pemandangan semakin dramatis.

7. Delta Okavango, Botswana

Delta Okavango di Botswana menempati posisi ketujuh dengan skor 88,37. Kawasan ini merupakan delta pedalaman yang luas, tempat aliran sungai menyebar ke daratan dan membentuk jaringan saluran air, laguna, serta pulau-pulau kecil. Berbeda dari kebanyakan sungai besar, aliran air Okavango tidak berakhir di laut, melainkan menyebar ke wilayah pedalaman.

Ekosistemnya yang kaya menjadikan Delta Okavango sebagai habitat bagi berbagai satwa liar, termasuk gajah, singa, macan tutul, dan kuda nil. Kawasan ini juga telah diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena keunikan ekosistem dan pentingnya bagi keanekaragaman hayati.

Pemandangan matahari terbenam di Delta Okavango memiliki daya tarik tersendiri berkat keberadaan air yang tenang. Permukaan air dapat memantulkan warna jingga dan merah dari langit, menciptakan pemandangan yang seolah menggandakan keindahan sunset. Ketika angin bertiup pelan, pantulan tersebut terlihat semakin jelas.

Wisatawan dapat menikmati suasana ini melalui perjalanan perahu atau menginap di penginapan safari yang berada di sekitar delta. Selain menyaksikan matahari terbenam, pengunjung juga berkesempatan mengamati satwa liar dalam habitat alaminya. Perpaduan air, lanskap terbuka, dan kehidupan satwa membuat Delta Okavango menjadi destinasi menarik bagi pencinta alam.

8. Lembah San Joaquin, California, Amerika Serikat

Potret siluet seseorang dan sunset (pexels.com/فهد العكيفي)

Lembah San Joaquin di California, Amerika Serikat, menempati posisi kedelapan bersama Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta dengan skor 88,22. Kawasan ini merupakan salah satu wilayah pertanian paling produktif di dunia, dengan komoditas utama berupa kacang almon, pistachio, anggur, kapas, dan buah jeruk.

Lanskap pertanian yang luas memberikan sudut pandang berbeda untuk menikmati matahari terbenam. Alih-alih tebing atau bukit pasir, pengunjung dapat menyaksikan matahari perlahan turun di balik cakrawala yang terbuka, dengan hamparan lahan pertanian membentang di sekitarnya.

Salah satu faktor yang mendukung pengalaman golden hour di kawasan ini adalah tingkat polusi cahaya yang relatif rendah, dengan skor sekitar 0,9 dalam pengukuran yang digunakan riset tersebut. Kecepatan angin rata-ratanya juga tergolong rendah, sekitar 11,8 kilometer per jam, sehingga kondisi di ruang terbuka cenderung mendukung kegiatan menikmati pemandangan.

Bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman berbeda dari destinasi wisata populer, Lembah San Joaquin menawarkan suasana pedesaan yang lebih sederhana. Sebaiknya pilih lokasi yang memang terbuka untuk pengunjung dan tidak mengganggu aktivitas pertanian setempat.

9. Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta, Australia

Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta di Australia juga memperoleh skor 88,22 dan berbagi posisi kedelapan. Kawasan yang terletak di Northern Territory ini terkenal dengan Uluru, monolit batu pasir raksasa yang menjadi salah satu ikon alam Australia. Kawasan tersebut juga memiliki arti penting bagi masyarakat adat Anangu, yang telah menjaga hubungan budaya dan spiritual dengan tanah tersebut selama ribuan tahun.

Salah satu pengalaman yang paling dinantikan wisatawan adalah menyaksikan perubahan warna Uluru ketika matahari terbit dan terbenam. Saat cahaya matahari mulai meredup, permukaan batu pasir dapat berubah dari warna cokelat kemerahan menjadi jingga terang hingga merah pekat. Perubahan ini membuat pemandangan terlihat berbeda dari waktu ke waktu.

Durasi golden hour di kawasan ini mencapai sekitar 28 menit. Minimnya polusi cahaya juga membuat pengalaman menikmati matahari terbenam dapat dilanjutkan dengan mengamati langit malam, terutama ketika kondisi cuaca mendukung.

Meski demikian, wisatawan perlu menghormati nilai budaya dan aturan yang berlaku di kawasan tersebut. Beberapa lokasi memiliki pembatasan fotografi, sehingga penting untuk membaca papan petunjuk dan mengikuti arahan pengelola. Dengan begitu, pengalaman menikmati keindahan alam tetap berjalan seiring dengan penghormatan terhadap masyarakat adat dan warisan budaya setempat.

10. Akropolis Lindos, Rhodes, Yunani

Potret Akropolis (unsplash.com/Constantinos Kollias)

Akropolis Lindos di Pulau Rhodes, Yunani, menutup daftar sepuluh besar dengan skor 87,97. Destinasi ini menjadi salah satu lokasi di Eropa yang menawarkan pengalaman golden hour dengan durasi panjang, yakni sekitar 31,9 menit.

Lindos dikenal dengan deretan bangunan bercat putih yang berdiri di antara perbukitan dan pesisir Laut Aegea. Di atas bukit, terdapat Akropolis Lindos, kompleks bersejarah yang menyimpan peninggalan peradaban kuno. Perpaduan bangunan bersejarah, laut biru, dan permukiman tradisional menciptakan lanskap yang menarik untuk dinikmati menjelang matahari terbenam.

Wisatawan dapat mengawali sore dengan bersantai di salah satu teras atau bar atap yang menghadap ke laut. Ketika matahari mulai turun, cahaya hangat menyelimuti bangunan putih dan membuat tekstur arsitekturnya terlihat lebih menonjol. Pengunjung juga bisa naik menuju kawasan akropolis untuk menikmati pemandangan dari ketinggian, selama akses dan jam kunjungan memungkinkan.

Cuaca yang relatif mendukung, kecepatan angin rata-rata sekitar 20,3 km/jam, serta curah hujan yang rendah menjadi beberapa faktor yang mendukung posisi Lindos dalam pemeringkatan. Destinasi ini cocok bagi wisatawan yang ingin memadukan wisata sejarah dengan pengalaman menikmati matahari terbenam di kawasan Mediterania.

Itu dia destinasi dengan view sunset terbaik di dunia versi Kuoni. Dari sepuluh destinasi tersebut, tempat mana yang paling ingin kamu kunjungi untuk menikmati golden hour secara langsung?

Curated For You

Editorial Team

Related Article